RADARBANYUWANGI.ID – Ribuan petani di Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, mulai menikmati masa panen raya padi pada musim tanam pertama (MT1) periode Januari hingga April. Tercatat, sekitar 600 hektare (Ha) lahan padi kini memasuki masa panen, atau setara 20 persen dari total lahan pertanian di wilayah tersebut.
Petugas Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Singojuruh, Henry, mengatakan bahwa April menjadi puncak panen bagi petani padi di wilayahnya. Meski masa tanam tidak dilakukan secara serentak, namun saat ini sebagian besar lahan padi telah siap dipanen.
“Saat ini petani padi di Singojuruh termasuk panen raya. Walaupun masa tanam tidak bersamaan, tapi sekarang memang banyak yang panen,” ujarnya, Senin (14/4).
Menurut Henry, dari total luas lahan pertanian di Singojuruh yang mencapai sekitar 3.000 hektare dengan berbagai komoditas, sebanyak 600 hektare di antaranya merupakan lahan padi yang dipanen pada MT1.
Dari sisi produktivitas, hasil panen padi di wilayah tersebut cukup menggembirakan. Setiap hektare lahan diperkirakan mampu menghasilkan antara enam hingga tujuh ton gabah, tergantung pada kondisi tanaman dan intensitas perawatan yang dilakukan petani.
“Kalau perawatannya bagus, hasil panen bisa mencapai tujuh ton per hektare,” jelasnya.
Ia menambahkan, secara umum kondisi tanaman padi pada MT1 tahun ini tergolong baik. Meskipun serangan hama seperti wereng tetap ditemukan di sejumlah titik, namun intensitasnya masih dalam batas normal dan dapat dikendalikan.
“Namanya hama di sawah pasti ada, tapi masih bisa dikondisikan,” katanya.
Selain hasil panen yang cukup tinggi, harga gabah di tingkat petani juga relatif stabil dan menguntungkan. Saat ini, harga gabah berkisar antara Rp 6.500 hingga Rp 7.200 per kilogram, tergantung kualitas dan lokasi penjualan.
Kondisi ini memberikan angin segar bagi petani, karena selain produktivitas yang baik, harga jual juga mendukung peningkatan pendapatan mereka.
Namun demikian, Henry mengingatkan para petani agar segera melakukan penanaman kembali setelah panen selesai. Hal ini penting untuk mengantisipasi perubahan musim yang akan memasuki masa tanam kedua (MT2) pada periode Mei hingga September.
Ia menjelaskan, pada MT2 diperkirakan akan memasuki musim kemarau, sehingga ketersediaan air menjadi faktor krusial dalam budidaya padi.
“Untuk wilayah hulu seperti Singojuruh kemungkinan masih aman. Tapi untuk wilayah hilir yang dekat pantai, mungkin mulai kesulitan air,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, percepatan tanam menjadi langkah strategis agar tanaman padi dapat tumbuh optimal sebelum intensitas kekeringan meningkat.
Panen raya di Singojuruh ini menjadi salah satu indikator positif sektor pertanian Banyuwangi, sekaligus menunjukkan ketahanan pangan daerah yang tetap terjaga di tengah berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim hingga serangan hama.
Pemerintah pun terus mendorong optimalisasi produksi pertanian melalui pendampingan petani, penyuluhan, hingga penguatan sarana dan prasarana pertanian guna menjaga stabilitas produksi dan kesejahteraan petani. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin