RADARBANYUWANGI.ID – Kain batik terus menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Banyuwangi. Kini, akses masyarakat terhadap wastra khas daerah semakin mudah dengan hadirnya Pusat Batik Banyuwangi yang berlokasi strategis di Jalan Ahmad Yani Nomor 263, tepat di depan Kantor Pemkab Banyuwangi.
Gedung ini menjadi etalase besar bagi ragam batik khas Bumi Blambangan. Ratusan kain batik hingga produk fesyen siap pakai tersedia di lokasi tersebut. Berbagai motif ikonik Banyuwangi pun ditampilkan, mulai dari Gadah Oleng, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, hingga Kopi Pecah yang sarat makna filosofis.
Tak hanya dari sisi motif, variasi desain yang ditawarkan juga cukup luas. Pengunjung dapat menemukan batik dengan gaya tradisional hingga modern yang mengikuti tren fesyen masa kini. Dari segi teknik, produk yang dipamerkan pun beragam, meliputi batik tulis, batik lukis, batik cap, hingga kombinasi.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menyampaikan bahwa kehadiran Pusat Batik Banyuwangi bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bagian dari strategi besar pemerintah daerah dalam melestarikan budaya sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.
“Gedung Pusat Batik ini bukan sekadar bangunan, melainkan simbol komitmen dalam melestarikan budaya dan memperkuat identitas daerah sekaligus membuka jalan bagi kesejahteraan para perajin batik lokal,” ujarnya, Senin (14/4).
Menurut Mujiono, selama lebih dari satu dekade terakhir, Pemkab Banyuwangi konsisten mendorong pengembangan batik lokal melalui berbagai program. Mulai dari workshop dan pelatihan dengan menghadirkan kurator nasional, fasilitasi keikutsertaan dalam ajang fesyen, hingga dukungan pemasaran digital serta akses permodalan bagi pelaku usaha.
Upaya tersebut kini menunjukkan hasil signifikan. Ekosistem batik Banyuwangi semakin berkembang dengan tumbuhnya jumlah perajin, munculnya desainer-desainer baru, hingga meluasnya pasar baik di tingkat nasional maupun internasional.
Bahkan, batik Banyuwangi juga telah masuk dalam kurikulum pendidikan vokasi, sebagai bagian dari upaya regenerasi perajin sekaligus pelestarian budaya.
“Terima kasih kepada seluruh perajin batik Banyuwangi yang telah bersama-sama memajukan batik lokal menjadi identitas budaya yang membanggakan,” tambah Mujiono.
Sementara itu, Pengelola Pusat Batik Banyuwangi, Ratri Jawaness, menjelaskan bahwa galeri batik ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB. Seluruh produk yang dipasarkan telah melalui proses kurasi ketat guna memastikan kualitas serta nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
“Semua batik yang masuk telah dikurasi agar benar-benar mencerminkan budaya Banyuwangi,” ujarnya.
Untuk memperluas jangkauan pemasaran, pihak pengelola juga memanfaatkan berbagai platform digital, termasuk melalui situs resmi yang memungkinkan pembeli dari luar daerah mengakses produk dengan lebih mudah.
Tidak hanya sebagai pusat penjualan, gedung ini juga dilengkapi dengan fasilitas co-working space. Ruang tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tempat edukasi, pelatihan, hingga aktivitas kreatif bagi pelaku industri batik dan ekonomi kreatif lainnya.
Dengan berbagai fasilitas yang tersedia, Pusat Batik Banyuwangi diharapkan mampu menjadi pusat pengembangan batik sekaligus destinasi wisata budaya yang memperkuat posisi Banyuwangi sebagai daerah dengan kekayaan wastra yang khas dan berdaya saing tinggi. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin