Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Usai Lebaran, Harga Buah Naga di Banyuwangi Anjlok ke Rp 5 Ribu per Kg, Petani Terancam Merugi

Zamrozi Wahyu • Selasa, 14 April 2026 | 07:00 WIB
AGAR BERBUAH: Petani buah naga mengawinkan bunga tanaman buah naga di area persawahan Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo, Minggu malam (12/4). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
AGAR BERBUAH: Petani buah naga mengawinkan bunga tanaman buah naga di area persawahan Desa Kradenan, Kecamatan Purwoharjo, Minggu malam (12/4). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Pasca momentum Idul Fitri, harga buah naga di tingkat petani di Banyuwangi mengalami penurunan drastis. Kondisi ini membuat para petani mulai cemas karena terancam merugi akibat harga jual yang tidak sebanding dengan biaya produksi.

Saat ini, harga buah naga di tingkat petani dilaporkan hanya berkisar Rp 5 ribu per kilogram (kg). Angka tersebut jauh di bawah harga normal yang biasanya berada di atas Rp 8 ribu per kg.

Salah satu petani buah naga, Marzuki, warga Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, mengungkapkan bahwa sebelum Lebaran harga buah naga sempat berada di kisaran Rp 12 ribu per kg. Namun setelah hari raya berlalu, harga langsung merosot tajam.

“Saat ini harga buah naga dari petani Rp 5 ribu per kg,” ujarnya, Senin (13/4).

Menurut Marzuki, harga tersebut sangat rendah jika dibandingkan dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan petani dalam satu musim tanam. Ia menyebut, untuk lahan seluas seperempat hektare, biaya perawatan bisa mencapai Rp 6 juta.

Dengan hasil panen sekitar dua ton, petani sebenarnya masih bisa memperoleh keuntungan jika harga berada di angka Rp 8 ribu per kg. Namun dengan harga saat ini, petani hanya mampu menutup biaya produksi tanpa mendapatkan keuntungan.

“Modal bisa kembali, tetapi petani rugi waktu dan tenaga,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada musim panen seperti sekarang, biaya operasional memang sedikit lebih ringan karena petani tidak perlu menyalakan lampu tambahan. Lampu tersebut biasanya digunakan untuk mengatur siklus pembungaan dan pembuahan tanaman buah naga.

Namun, jika harga terus rendah, petani biasanya kembali mengaktifkan lampu untuk mengatur waktu panen berikutnya, dengan harapan harga jual bisa kembali tinggi saat panen berikutnya tiba.

“Setelah harga murah, biasanya lampu dihidupkan untuk mengejar panenan berikutnya dengan harapan harga bisa lebih baik,” imbuhnya.

Petani lainnya, Abdullah, juga mengungkapkan hal serupa. Ia menilai anjloknya harga buah naga saat ini disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat serta berkurangnya permintaan dari luar daerah.

“Pasar luar daerah juga tidak meminta kiriman buah naga,” katanya.

Penurunan permintaan ini memperparah kondisi petani yang sudah menghadapi lonjakan produksi saat musim panen raya. Akibatnya, pasokan melimpah tidak diimbangi dengan penyerapan pasar yang memadai.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi petani buah naga di Banyuwangi, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi buah naga terbesar di Indonesia.

Para petani berharap adanya intervensi pasar atau solusi dari pemerintah untuk menstabilkan harga, sehingga keberlangsungan usaha pertanian buah naga tetap terjaga. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#harga buah naga Banyuwangi #panen raya buah naga #Harga Anjlok #Pasca Lebaran #petani buah naga