RADARBANYUWANGI.ID - Seorang perempuan keturunan Finlandia-India-Amerika, Mira Mehta, tidak pernah membayangkan bahwa keputusannya untuk meninggalkan karier mapan di sektor keuangan Amerika Serikat akan membawanya menjadi pelaku perubahan di sektor pertanian Nigeria. Namun, keputusan itu justru menjadi titik awal lahirnya perusahaan agrikultur inovatif, Tomato Jos.
Pada awalnya, Mehta bekerja di bidang keuangan di dekat New York dengan gaji tinggi dan jalur karier yang jelas. Namun, kenyamanan tersebut tidak mampu menutupi kegelisahan yang ia rasakan.
“Saya membenci hampir semua hal tentang pekerjaan saya, kecuali gajinya,” ujarnya dalam sebuah wawancara, dikutip Business Insider.
Alih-alih bertahan dalam situasi yang tidak sesuai dengan nilai hidupnya, Mehta memilih meninggalkan pekerjaannya dan melamar ke organisasi nirlaba di bidang kesehatan. Ketika ditanya apakah ada tempat yang tidak ingin ia kunjungi, jawabannya tegas.
“Tidak. Saya akan pergi ke mana saja,” tegasnya.
Jawaban itu membawanya ke Nigeria bersama Clinton Foundation.
Setibanya di Abuja, Mehta segera menyadari bahwa ibu kota tersebut tidak merepresentasikan kondisi sebenarnya di Nigeria. Ia kemudian melakukan perjalanan ke wilayah utara, mengunjungi berbagai pusat kesehatan dan komunitas.
Di sana, ia melihat bahwa masalah masyarakat tidak hanya soal akses layanan kesehatan, tetapi juga ketidakmampuan ekonomi. Banyak orang bahkan tidak mampu membayar biaya transportasi ke rumah sakit.
Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya.
“Saya sadar bahwa saya tidak benar-benar tahu apa yang dibutuhkan orang. Tapi jika mereka punya uang, mereka bisa memutuskan sendiri,” katanya.
Di tengah perjalanan lapangannya, Mehta menemukan fenomena yang mencolok: tomat berlimpah di sepanjang jalan, namun sebagian besar terbuang karena tidak ada fasilitas penyimpanan atau pengolahan.
Sekitar 50% produksi tomat segar di Nigeria hilang setiap tahun akibat lemahnya rantai pasok dan infrastruktur. Ironisnya, meskipun Nigeria menghasilkan sekitar 65% tomat di Afrika Barat, negara ini tetap menjadi salah satu pengimpor terbesar pasta tomat di dunia.
“Saya terus berpikir. Saya melihat semua tomat ini di jalan. Lalu kenapa pasta tomatnya berasal dari China?” ujarnya.
Alih-alih langsung membangun pabrik, Mehta memilih memulai dari akar masalah, yakni produktivitas pertanian. Ia mempelajari sistem pengolahan tomat di California, Spanyol, dan Italia, dan menemukan satu pelajaran penting, pabrik tidak akan bertahan tanpa pasokan bahan baku yang stabil.
Dengan pendekatan eksperimental, ia mulai meningkatkan hasil panen petani. Rata-rata produksi nasional yang sebelumnya sekitar 5 ton per hektare berhasil ditingkatkan hingga sekitar 60 ton per hektare dalam sistem yang ia bangun.
Perusahaan kemudian mengembangkan model terintegrasi, dari menyediakan benih, irigasi, peralatan, dan pendampingan teknis kepada petani, serta memastikan hasil panen langsung masuk ke proses produksi.
Pada tahap awal, Tomato Jos tidak didukung oleh investor besar. Mehta memulai dengan hadiah kompetisi sebesar US$25.000 dari Harvard, dilanjutkan dengan kampanye Kickstarter sebesar US$50.000, serta pendanaan kecil dari keluarga dan jaringan pribadi.
“Selama empat tahun pertama, kami bertahan dengan sekitar US$300.000 hingga US$400.000. Operasinya sangat hemat,” ungkapnya.
Baru pada 2017, investor institusional mulai masuk. Pada 2020, perusahaan berhasil mengamankan pendanaan Seri A sebesar 3,9 juta euro untuk membangun fasilitas irigasi dan pengolahan. Puncaknya, pada 2024, Tomato Jos meraih pendanaan US$12,2 juta, terbesar untuk startup yang dipimpin perempuan di Afrika pada tahun tersebut.
Model bisnis ini telah melibatkan lebih dari 10.000 petani, dengan sekitar 1.000 aktif setiap waktu, dan 60% di antaranya adalah perempuan. Peningkatan produktivitas berdampak langsung pada pendapatan, bahkan beberapa petani mampu menghasilkan hingga 2 juta naira Nigeria dari lahan kecil.
Dampak ekonomi tersebut juga mendorong investasi lanjutan di tingkat rumah tangga, seperti usaha ternak, pembelian kendaraan, hingga peralatan pertanian.
Di sisi konsumen, tantangan lain muncul dari preferensi terhadap produk impor. Untuk mengatasinya, Tomato Jos fokus pada kualitas dan edukasi pasar.
“Ketika orang mencicipinya, mereka bisa merasakan tomatnya,” kata Mehta.
Meski menunjukkan kemajuan, tantangan tetap ada, terutama terkait kebutuhan modal kerja, fluktuasi harga input, perubahan iklim, dan ketidakpastian rantai pasok global.
Saat ini, produk Tomato Jos telah didistribusikan di kota-kota besar seperti Lagos, Abuja, Port Harcourt, dan Benin. Fokus perusahaan tetap pada penguatan pasar domestik sebelum ekspansi ke luar negeri.
“Saya selalu bilang Nigeria yang memilih saya,” kata Mehta, menutup kisahnya.
Namun, di balik itu, langkah-langkah yang ia ambil menunjukkan bahwa solusi besar sering kali berasal dari keberanian untuk memahami masalah secara mendalam dan memperbaiki apa yang sudah ada.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Business Insider