RADARBANYUWANGI.ID – Ketegangan geopolitik global kembali memanas setelah perundingan antara Amerika Serikat (United States) dan Iran (Iran) berakhir tanpa kesepakatan.
Kegagalan diplomasi tersebut memicu kekhawatiran pasar dunia dan meningkatkan ekspektasi penguatan harga emas dalam waktu dekat.
Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya risiko konflik di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat energi global.
Perundingan Buntu Picu Ketidakpastian Pasar Global
Gagalnya perundingan antara Washington dan Teheran menambah daftar panjang ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Sentimen risiko meningkat tajam karena investor mulai mengantisipasi potensi eskalasi konflik lanjutan.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa dalam dua pekan ke depan, baik Amerika Serikat bersama Israel (Israel) maupun Iran diperkirakan akan melakukan konsolidasi kekuatan masing-masing.
Ia bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa kondisi tersebut dapat berkembang menjadi konflik berskala lebih besar.
“Kalau memang benar-benar terjadi perang terbuka, ini akan membantu naiknya harga emas,” ujar Ibrahim, Minggu (12/4/2026).
Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa pasar sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, terutama di kawasan yang memiliki peran penting dalam rantai pasok energi dunia.
Selat Hormuz Jadi Titik Risiko Global
Salah satu skenario paling dikhawatirkan pasar adalah potensi penutupan Selat Hormuz (Selat Hormuz) oleh Iran. Jalur strategis ini dikenal sebagai salah satu rute pengiriman minyak paling vital di dunia.
Jika skenario tersebut terjadi, dampaknya diperkirakan akan sangat luas. Harga minyak dunia berpotensi melonjak tajam, sementara indeks dolar Amerika Serikat menguat seiring meningkatnya permintaan aset safe haven.
Kondisi ini juga dapat memicu tekanan inflasi global yang lebih tinggi. Sebagai respons, bank sentral di berbagai negara kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkannya untuk meredam lonjakan harga energi.
Proyeksi Support dan Resistance Harga Emas
Dalam sepekan ke depan, harga emas diperkirakan bergerak sangat volatil dengan kecenderungan dipengaruhi sentimen geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Menurut Ibrahim Assuaibi, terdapat beberapa level penting yang menjadi acuan pergerakan harga emas dunia.
Jika terjadi tekanan, maka:
-
Support pertama emas dunia berada di level US$ 4.638 per troy ons, setara sekitar Rp 2.840.000 per gram.
-
Support kedua berada di US$ 4.358 per troy ons, dengan harga emas dalam negeri sekitar Rp 2.780.000 per gram.
Namun apabila terjadi penguatan, maka:
-
Resistance pertama emas dunia berada di US$ 4.897 per troy ons, setara sekitar Rp 2.880.000 per gram.
-
Jika momentum bullish berlanjut, emas berpotensi menembus level psikologis baru di atas US$ 5.000 per troy ons, hingga US$ 5.138 per troy ons atau sekitar Rp 3.100.000 per gram.
Emas Berpotensi Sentuh Rp 3 Juta per Gram
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, emas kembali menjadi instrumen favorit investor sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Peralihan portofolio ke emas dinilai akan semakin kuat apabila risiko geopolitik terus meningkat.
“Jadi ada kemungkinan besar (logam mulia) ke Rp 3.100.000 per gram,” kata Ibrahim.
Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa emas masih memiliki ruang penguatan signifikan apabila eskalasi antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel terus berlanjut tanpa adanya kesepakatan diplomatik baru.
Dengan kondisi global yang masih rentan, pasar keuangan diperkirakan akan tetap berada dalam fase waspada dalam beberapa waktu ke depan. (*)
Editor : Ali Sodiqin