RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah gempuran promosi digital dan media sosial yang kini menjadi andalan banyak pelaku usaha, Toko Oleh-Oleh Nebula di Banyuwangi justru membuktikan bahwa kekuatan promosi dari mulut ke mulut masih sangat efektif.
Berlokasi di Jalan KH Wahid Hasyim No. 20, Kelurahan Penganjuran, Banyuwangi, toko oleh-oleh ini tak pernah sepi peminat. Sejak berdiri pada 2004, Nebula terus mempertahankan eksistensinya dengan cita rasa khas rumahan atau home made yang menjadi daya tarik utama.
Menariknya, pelanggan toko ini tidak hanya berasal dari Banyuwangi dan sekitarnya, tetapi juga menjangkau luar daerah seperti Jember hingga Jakarta. Dalam sehari, rata-rata penjualan mencapai 200 hingga 400 item dari berbagai varian produk.
Kesederhanaan tampilan toko justru menjadi magnet tersendiri bagi pelanggan.
Dari luar, toko tersebut tampak sederhana dan jauh dari kesan modern. Namun, justru nuansa rumahan itulah yang membuat banyak pembeli merasa nyaman.
Saat memasuki toko, pengunjung akan disambut dengan kursi-kursi yang ditata menyerupai ruang tamu rumah. Suasana hangat dan akrab membuat pelanggan tak sekadar datang untuk membeli oleh-oleh, tetapi juga merasa seperti sedang bertamu.
Tidak heran jika toko ini selalu ramai, baik oleh pembeli yang datang langsung maupun pelanggan yang memesan secara daring melalui WhatsApp.
Di balik kesuksesan Nebula, ada sosok Ratih, perempuan yang menjadi pendiri sekaligus pemilik usaha tersebut.
Ratih mengisahkan, usaha ini bermula saat dirinya mengikuti sang suami pindah dari Jember ke Banyuwangi. Berbekal kegemaran membuat kue sejak lama, ia mencoba membangun usaha dari dapur rumah.
“Saya kepikiran buka usaha serta tertarik bikin kue yang bisa untuk jangka panjang, jadi terciptalah toko oleh-oleh Nebula ini,” ujarnya.
Dari usaha rumahan tersebut, Ratih mulai belajar mengembangkan berbagai produk oleh-oleh. Salah satu produk yang hingga kini menjadi andalan adalah cheesecake, yang tetap bertahan sebagai best seller.
“Dari situ saya belajar bikin menu cheesecake yang bertahan sampai sekarang serta jadi best seller di toko oleh-oleh Nebula,” katanya.
Kecintaannya pada dunia baking ternyata tidak datang begitu saja. Ratih mengaku sudah terbiasa membuat kue sejak kecil karena latar belakang keluarga.
“Saya dari dulu memang suka bikin kue, karena ibu saya merupakan guru mata pelajaran tata boga,” ungkapnya.
Pada masa awal merintis usaha, pemasaran dilakukan dengan cara menitipkan produk ke sejumlah toko lain. Namun seiring perkembangan usaha, Nebula mulai memproduksi sebagian besar produknya sendiri.
Sekitar 50 persen produk yang dijual merupakan hasil produksi internal, sementara sisanya berasal dari mitra yang sebagian besar masih merupakan keluarga sendiri.
Produk yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari bakiak keju, aneka kukis, prol tape, cheese stick, hingga cheesecake andalan.
“Toko oleh-oleh Nebula memproduksi sendiri dagangannya sekitar 50 persen. Selain cheesecake, ada kukis, bakiak, serta yang lainnya. Sedangkan produk lainnya diambil dari mitra yang rata-rata berasal dari keluarga saya sendiri,” jelas Ratih.
Usaha ini mulai menunjukkan perkembangan signifikan pada tahun ketiga dan keempat sejak berdiri. Setelah itu, bisnis berjalan stabil hingga sekarang.
Pada 2019, Ratih mengambil keputusan penting, yakni menghentikan sistem penitipan produk di toko lain demi fokus mengembangkan merek Nebula.
“Saya mengambil keputusan untuk tidak menitipkan produk Nebula ke toko lain dengan tujuan agar bisnis saya bisa semakin berkembang. Sejak awal merintis juga saya tidak memakai sales untuk penjualan,” ujarnya.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Hingga kini, pelanggan Nebula tersebar di berbagai kota di Pulau Jawa, bahkan mencapai Jakarta.
Untuk pengiriman, Nebula membatasi wilayah distribusi hanya di Pulau Jawa dan Bali guna menjaga kualitas produk.
“Saya tidak menyediakan pengiriman ke luar Pulau Jawa, kecuali yang dekat seperti Bali. Karena kemungkinan besar jika dikirim ke tempat yang jauh, produk bisa rusak sebelum sampai ke tangan pelanggan,” katanya.
Yang paling menarik, di tengah era digital saat ini, Nebula tetap tidak menggunakan media sosial sebagai sarana promosi maupun penjualan.
Seluruh pertumbuhan pelanggan berjalan secara alami melalui rekomendasi dari mulut ke mulut.
“Penjualan saya dari awal merintis tahun 2004 murni dari mulut ke mulut hingga mendapatkan customer dari luar kota. Alhamdulillah pembeli masih stabil hingga saat ini,” ujarnya.
Strategi sederhana tersebut justru menjadi kekuatan utama Nebula.
Ratih menekankan bahwa kualitas rasa menjadi prioritas utama. Produk dari mitra selalu melalui proses seleksi ketat sebelum dipasarkan.
“Produk dari mitra saya coba dulu, apakah rasanya enak atau tidak. Jika menurut saya enak baru saya ambil. Jadi banyak customer yang bilang produk oleh-oleh dari Nebula selalu termakan,” ungkapnya.
Saat pandemi Covid-19 melanda, usaha ini sempat terdampak. Namun Ratih berhasil bertahan dengan memanfaatkan data pelanggan lama yang sebelumnya pernah berbelanja dan mencantumkan nomor WhatsApp.
Ia melakukan follow up secara personal dan menawarkan produk langsung kepada pelanggan.
“Saat pandemi saya mulai menawarkan produk ke customer yang sebelumnya pernah membeli dan mencantumkan nomor WhatsApp. Saya follow up serta menawarkan produk, bahkan banyak yang minta dikirim langsung ke rumah. Dari situ saya bisa survive,” jelasnya.
Kini, untuk mendukung operasional, Nebula memiliki delapan karyawan, terdiri dari lima orang di bagian produksi dan tiga orang di pelayanan toko.
Sebagian besar pelanggan melakukan pemesanan melalui WhatsApp, sementara sisanya datang langsung ke toko.
Menurut Ratih, salah satu kunci utama keberhasilan Nebula adalah pendekatan personal kepada pelanggan.
“Saya melakukan pendekatan personal, memperlakukan pelanggan seperti teman. Itu yang membuat mereka betah hingga merekomendasikan dagangan saya dari mulut ke mulut,” ujarnya.
Suasana toko yang dibuat menyerupai ruang tamu rumah semakin memperkuat kesan hangat dan akrab tersebut.
Dari sisi omzet, penjualan cenderung stabil sepanjang tahun, dengan lonjakan signifikan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Dalam sehari, toko ini mampu menjual 200 hingga 400 produk, dengan harga rata-rata Rp 20 ribu per item.
Editor : Ali Sodiqin“Rata-rata penjualan toko oleh-oleh Nebula bisa mencapai 200 hingga 400 produk yang terjual per harinya, baik dari pemesanan lewat WA maupun datang langsung ke sini,” tutupnya. (ray/aif)