RADARBANYUWANGI.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada perdagangan Selasa (7/4/2026).
Mata uang Garuda ditutup melemah 0,33% ke level Rp17.095 per dolar AS, setelah sempat menyentuh titik terendah sepanjang masa (all-time low) di Rp17.100 pada perdagangan intraday.
Pelemahan rupiah ini mencerminkan tekanan eksternal dan domestik yang masih kuat, terutama dari lonjakan harga minyak dunia serta pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sejak awal tahun 2026, rupiah tercatat telah terdepresiasi sekitar 2,37% terhadap dolar AS.
Tekanan dari Harga Minyak dan Kebijakan Subsidi
Kondisi rupiah yang melemah tak lepas dari tingginya harga minyak global yang membebani fiskal negara. Pemerintah tetap berkomitmen mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, meski harga minyak dunia terus naik.
Harga minyak jenis Brent bahkan sempat menyentuh US$111,8 per barel pada perdagangan intraday Selasa (7/4), sebelum turun ke kisaran US$108,7 per barel pada sore hari.
Situasi ini membuat tekanan terhadap anggaran negara semakin besar, terutama karena pemerintah harus menahan kenaikan harga BBM demi menjaga stabilitas ekonomi dan sosial.
Defisit APBN Melebar
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa defisit APBN hingga triwulan I 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 0,43% terhadap PDB.
“Defisit ini dipengaruhi oleh peningkatan belanja negara yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan penerimaan,” jelas Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat kerja bersama DPR.
Secara rinci, penerimaan negara tumbuh 10,5% secara tahunan (year on year/YoY), didorong kenaikan penerimaan pajak sebesar 20,7%. Namun, belanja negara melonjak lebih tinggi, yakni 31,4% YoY.
Pemerintah Jaga Defisit di Bawah 3 Persen
Meski tekanan fiskal meningkat, pemerintah memastikan defisit APBN tetap terkendali di bawah batas aman 3% terhadap PDB.
Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 berada di kisaran 2,9% terhadap PDB, dengan asumsi harga minyak rata-rata US$100 per barel sepanjang tahun.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis, di antaranya:
-
Penghematan anggaran hingga Rp190 triliun
-
Pemangkasan belanja kementerian sebesar 10%
-
Peningkatan penerimaan negara melalui royalti batu bara
-
Penerapan bea ekspor untuk komoditas batu bara dan nikel
Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan fiskal di tengah tekanan global.
Faktor Geopolitik Perburuk Tekanan
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperparah tekanan terhadap rupiah. Laporan dari IRNA menyebutkan bahwa Iran menolak tawaran gencatan senjata dari Amerika Serikat dan menginginkan penyelesaian konflik secara permanen.
Menanggapi hal tersebut, Presiden AS Donald Trump menegaskan pentingnya kebebasan navigasi di Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan.
Trump bahkan mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi dalam tenggat waktu yang ditentukan.
Ketidakpastian ini memicu lonjakan harga energi global yang pada akhirnya berdampak pada nilai tukar rupiah.
Prospek Rupiah ke Depan
Analis menilai pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya harga minyak dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Selain itu, kemampuan pemerintah dalam menjaga defisit fiskal dan stabilitas ekonomi domestik juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah rupiah.
Dengan tekanan yang masih tinggi, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada terhadap volatilitas nilai tukar dalam jangka pendek. (*)
Editor : Ali Sodiqin