RADARBANYUWANGI.ID – Kenaikan harga bahan baku plastik yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah mulai berdampak ke sektor perdagangan di Banyuwangi.
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu pihak yang paling merasakan imbasnya.
Harga berbagai produk turunan plastik seperti gelas plastik, kantong kresek, hingga styrofoam mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini memaksa sejumlah pedagang menaikkan harga jual produk mereka.
Salah satu pedagang es teh di Kelurahan Sobo, Solihin, 43, mengaku harus menyesuaikan harga jual akibat kenaikan harga bahan baku.
“Dulu jual Rp 3 ribu, sekarang jadi Rp 3.500 per gelas. Soalnya harga gelas plastik naik,” ujarnya.
Ia menyebut harga gelas plastik yang sebelumnya sekitar Rp 11 ribu per slop kini melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp 21 ribu. Kenaikan ini membuat margin keuntungan semakin tergerus.
Pedagang Mulai Tertekan, Harga Berpotensi Naik Lagi
Kenaikan harga plastik juga dirasakan pedagang es kelapa muda. Mariani, 50, pedagang di kawasan Jalan Kepiting, mengungkapkan bahwa biaya operasionalnya meningkat karena dua komponen utama—gelas plastik dan kantong kresek—sama-sama mengalami kenaikan.
“Kresek naik sekitar Rp 4 ribu per kemasan, gelas plastik juga naik dua kali lipat. Tapi saya masih jual Rp 5 ribu per gelas,” katanya.
Meski belum menaikkan harga, Mariani mengaku tidak menutup kemungkinan akan melakukan penyesuaian jika harga bahan baku terus meningkat.
“Kalau naik lagi, mungkin terpaksa ikut naikkan harga,” tambahnya.
Pasokan Terganggu, Harga Melonjak Hingga 70 Persen
Di tingkat distributor, kenaikan harga plastik disebut sudah mencapai 70 persen dari harga normal.
Shin, pemilik toko plastik di Banyuwangi, mengatakan lonjakan ini dipicu terganggunya pasokan bahan baku dari Timur Tengah.
“Kenaikan sudah terasa dari produsen. Pasokan bahan baku seperti nafta terganggu, jadi harga ikut naik,” jelasnya.
Ia menambahkan, kenaikan bahan baku berada di kisaran 30 hingga 80 persen. Selain faktor global, kondisi pasca-Lebaran juga membuat sejumlah pabrik kehabisan stok.
“Mau tidak mau tetap beli meski mahal. Tapi kami juga tidak berani menyetok banyak karena harga masih tinggi,” ujarnya.
Pedagang Kurangi Stok, Pasar Melambat
Hal serupa disampaikan Steven Wijaya, pemilik toko plastik di Jalan KH Agus Salim. Ia memilih tidak menyimpan stok dalam jumlah besar karena harga yang fluktuatif.
“Saya sekarang beli kalau ada pesanan saja. Tidak berani stok banyak,” katanya.
Steven merinci, kenaikan harga cukup signifikan di berbagai jenis produk. Gelas plastik yang sebelumnya dijual Rp 7.500 kini naik menjadi Rp 12 ribu hingga Rp 20 ribu per slop.
Kantong kresek naik dari Rp 3.500 menjadi Rp 6 ribu, sementara styrofoam melonjak dari Rp 23 ribu menjadi Rp 35 ribu.
“Kenaikan tergantung merek. Pasarnya masih ada, tapi karena mahal, pembeli juga mulai membatasi,” jelasnya.
Dampak Berantai ke UMKM
Kondisi ini menunjukkan adanya efek berantai dari kenaikan harga bahan baku terhadap sektor UMKM. Pelaku usaha kecil yang bergantung pada kemasan plastik harus menghadapi dilema antara menaikkan harga atau menekan keuntungan.
Jika tren kenaikan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga berbagai produk konsumsi masyarakat akan ikut terdongkrak.
Para pelaku usaha berharap kondisi global segera membaik agar pasokan bahan baku kembali normal dan harga plastik bisa kembali stabil. Hingga saat ini, pelaku UMKM di Banyuwangi masih berupaya bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin