Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Cabai Banyuwangi Tetap Tinggi, Cuaca Tak Menentu Picu Penyakit Cacar dan Biaya Perawatan Membengkak

Zamrozi Wahyu • Rabu, 8 April 2026 | 11:00 WIB
MEMERIKSA TANAMAN: Petani sedang mengecek kondisi cabai rawit di persawahan Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo, Senin (6/4). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
MEMERIKSA TANAMAN: Petani sedang mengecek kondisi cabai rawit di persawahan Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo, Senin (6/4). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Cuaca yang tidak menentu dalam beberapa pekan terakhir membawa dampak serius bagi petani cabai di Banyuwangi.

Tanaman cabai rawit menjadi rentan terserang penyakit, terutama cacar buah, yang berimbas langsung pada tingginya harga komoditas di pasaran.

Sejak menjelang Hari Raya Idul Fitri, harga cabai rawit di tingkat petani terpantau tidak pernah turun di bawah Rp 50 ribu per kilogram. Bahkan, pada Senin (6/4/2026), harga masih berada di kisaran Rp 60 ribu per kilogram.

Salah satu petani cabai asal Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Irfan Efendi, mengungkapkan bahwa harga sempat melonjak tajam saat Lebaran.

“Menjelang Idul Fitri, harga cabai sempat tembus Rp 100 ribu per kilogram. Setelah itu memang turun, tapi tidak pernah di bawah Rp 50 ribu. Kalau kondisi sekarang justru tergolong stabil,” ujarnya.


Cuaca Ekstrem Picu Penyakit Tanaman

Menurut Irfan, tingginya harga cabai saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan pasar, tetapi juga kondisi cuaca yang ekstrem dan sulit diprediksi.

“Kadang panas terik, tiba-tiba hujan. Kondisi ini membuat tanaman cabai mudah terserang penyakit, terutama cacar buah,” jelasnya.

Serangan penyakit tersebut menyebabkan kualitas dan jumlah produksi menurun, sehingga pasokan ke pasar ikut berkurang. Dampaknya, harga cabai tetap bertahan tinggi meski momentum Lebaran telah berlalu.


Biaya Perawatan Melonjak Tajam

Petani lainnya, Edo Eka, asal Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo, menambahkan bahwa kondisi cuaca yang sering hujan membuat biaya perawatan tanaman meningkat drastis.

Ia mengaku harus mengeluarkan biaya hingga Rp 1 juta per pekan hanya untuk merawat lahan cabai seluas seperempat hektare.

“Biaya itu untuk beli obat tanaman karena penyakit gampang muncul saat musim hujan,” katanya.

Menurut Edo, mahalnya harga cabai saat ini masih sebanding dengan tingginya biaya produksi yang harus ditanggung petani. Selain itu, ia juga menyoroti pola klasik dalam komoditas cabai.

“Kalau harga mahal biasanya panen sedikit. Tapi kalau panen melimpah, harga justru jatuh. Itu sudah biasa terjadi,” ujarnya.


Pasar Masih Bergantung pada Cuaca

Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pertanian cabai masih sangat bergantung pada faktor cuaca. Ketidakstabilan iklim tidak hanya memengaruhi produksi, tetapi juga harga di tingkat petani hingga konsumen.

Dengan cuaca yang masih sulit diprediksi, petani berharap adanya dukungan berupa teknologi pertanian maupun bantuan pengendalian hama dan penyakit agar produksi tetap terjaga.

Sementara itu, masyarakat sebagai konsumen juga diminta memahami kondisi di lapangan. Harga cabai yang relatif tinggi saat ini bukan semata karena permainan pasar, tetapi juga akibat tantangan yang dihadapi petani dalam menjaga kualitas dan hasil panen.

Jika cuaca kembali normal dan serangan penyakit dapat ditekan, bukan tidak mungkin harga cabai akan kembali turun. Namun untuk saat ini, tren harga tinggi diperkirakan masih akan bertahan. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#harga cabai Banyuwangi #cabai rawit mahal #penyakit cacar cabai #cuaca Banyuwangi #Petani Cabai