Utang Pinjol Tembus Rp100,69 Triliun per Februari 2026, OJK Soroti Lonjakan Risiko Kredit Macet

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 7 April 2026 | 11:19 WIB
Utang pinjol Indonesia mencapai Rp100,69 triliun per Februari 2026. (Pexels/www.kaboompics.com)
Utang pinjol Indonesia mencapai Rp100,69 triliun per Februari 2026. (Pexels/www.kaboompics.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Total utang masyarakat Indonesia pada layanan pinjaman online (P2P lending) kembali mencatat lonjakan signifikan. Per Februari 2026, nilai outstanding pembiayaan mencapai Rp100,69 triliun atau tumbuh 25,75 persen secara tahunan.

Data tersebut disampaikan oleh perwakilan Otoritas Jasa Keuangan, Agusman, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Maret 2026.

“Pada industri pinjaman daring, outstanding pembiayaan pada Februari 2026 tumbuh 25,75% year-on-year dengan nilai nominal sebesar Rp 100,69 triliun,” ujar Agusman.

Secara bulanan, tren peningkatan juga terlihat konsisten. Dari Rp98,54 triliun pada Januari 2026, nilai utang pinjol bertambah sekitar Rp2,15 triliun hanya dalam waktu satu bulan.

Di balik pertumbuhan tersebut, risiko kredit macet atau tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) juga menunjukkan kenaikan. Per Februari 2026, angka TWP90 berada di level 4,54 persen, naik dari 4,38 persen pada bulan sebelumnya.

“Tingkat risiko kredit secara agregat atau TWP90 berada di posisi 4,54%,” kata Agusman.

Kenaikan ini mencerminkan adanya tekanan pada kemampuan bayar sebagian peminjam, seiring dengan semakin luasnya penyaluran pembiayaan digital.

Sementara itu, sektor pergadaian menunjukkan kinerja yang jauh lebih agresif. Pembiayaan industri ini melonjak 61,78 persen secara tahunan hingga mencapai Rp152,4 triliun pada Februari 2026.

Selain itu, total aset pergadaian juga meningkat secara bulanan dari Rp171,07 triliun menjadi Rp182,71 triliun.

Menurut Agusman, mayoritas pembiayaan disalurkan melalui produk gadai. “Pembiayaan terbesar di industri pergadaian ini disalurkan dalam bentuk produk gadai yaitu sebesar Rp126 triliun atau 83,01% dari total pembiayaan,” jelasnya.

Berbeda dengan dua sektor sebelumnya, industri modal ventura mencatat pertumbuhan yang relatif terbatas. Pembiayaan hanya naik 0,78 persen secara tahunan menjadi Rp16,46 triliun.

Meski demikian, total aset industri ini tetap mengalami peningkatan secara bulanan hingga mencapai Rp27,63 triliun.

Lonjakan utang pinjol menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan yang cepat dan mudah. Namun, peningkatan risiko kredit macet menjadi peringatan penting bagi semua pihak.

Penguatan pengawasan oleh Otoritas Jasa Keuangan serta literasi keuangan masyarakat dinilai menjadi kunci agar pertumbuhan industri tetap sehat.

Editor : Lugas Rumpakaadi
utang pinjol. februari Kredit Macet OJK