Haji Isam Raup Cuan Sawit Hampir Rp 5 Triliun di 2025, Kinerja PGUN dan JARR Moncer

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 7 April 2026 | 13:00 WIB
 Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. (Kaltim Post)
Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. (Kaltim Post)

RADARBANYUWANGI.ID – Pengusaha nasional Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam kembali mencatatkan kinerja impresif dari bisnis kelapa sawit sepanjang 2025.

Melalui dua emiten yang terafiliasi dengannya, yakni PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), total pendapatan yang dibukukan hampir menyentuh angka Rp 5 triliun.

Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) serta kuatnya permintaan pasar.


PGUN Tumbuh Stabil, Laba Melonjak Signifikan

PT Pradiksi Gunatama Tbk mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 792,72 miliar sepanjang 2025. Angka tersebut tumbuh 7,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 738,5 miliar.

Kontribusi terbesar berasal dari:

Menariknya, sekitar 87,66 persen pendapatan PGUN ditopang oleh transaksi dengan pihak berelasi, yakni JARR. Sinergi ini memberikan kepastian pasar bagi produksi PGUN di tengah fluktuasi global.

Perusahaan yang berdiri sejak 1995 ini mengelola perkebunan sawit di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, dengan luas izin usaha mencapai lebih dari 22 ribu hektare.

Dari sisi profitabilitas, PGUN mencatat lonjakan laba bersih menjadi Rp 159,3 miliar, meningkat tajam dibandingkan 2024 yang sebesar Rp 79,18 miliar.

Kenaikan laba ini turut mendorong laba per saham (EPS) naik signifikan menjadi Rp 27,76 dari sebelumnya Rp 13,8.

Kinerja tersebut tidak lepas dari strategi efisiensi perusahaan. Beban pokok penjualan justru turun tipis 0,81 persen menjadi Rp 515,4 miliar, sehingga margin keuntungan meningkat.


JARR Catat Pendapatan Rp 4,27 Triliun

Sementara itu, PT Jhonlin Agro Raya Tbk menunjukkan performa yang lebih agresif. Perusahaan ini membukukan pendapatan sebesar Rp 4,27 triliun pada 2025, naik 10,62 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,86 triliun.

Sebagai perusahaan hilir sawit terintegrasi di Kalimantan Selatan, JARR mengolah CPO menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti biodiesel, minyak goreng, hingga turunan lainnya.

Meski pendapatan meningkat, JARR menghadapi tekanan dari sisi biaya. Beban pokok penjualan tercatat naik menjadi Rp 3,52 triliun, disertai peningkatan beban operasional lainnya seperti penjualan, administrasi, dan bunga.

Namun demikian, perusahaan tetap mampu mencatat laba kotor sebesar Rp 750,28 miliar, meningkat signifikan dari Rp 610,6 miliar pada 2024.

Hal ini menunjukkan bahwa margin usaha masih terjaga berkat tingginya volume penjualan dan efisiensi operasional.


Harga Sawit Jadi Faktor Penentu

Kinerja positif kedua perusahaan ini tidak lepas dari tren kenaikan harga CPO di pasar global sepanjang 2025. Kondisi tersebut memberikan angin segar bagi pelaku industri sawit nasional.

Selain itu, integrasi bisnis dari hulu ke hilir yang dimiliki grup Jhonlin menjadi keunggulan kompetitif dalam menjaga stabilitas pendapatan.


Prospek Bisnis Sawit Masih Menjanjikan

Dengan capaian tersebut, bisnis sawit milik Haji Isam dinilai masih memiliki prospek cerah ke depan. Permintaan global terhadap produk turunan sawit, termasuk biodiesel dan minyak goreng, diprediksi tetap tinggi.

Kombinasi antara efisiensi operasional, integrasi bisnis, serta dukungan harga komoditas membuat kedua emiten ini berpeluang mempertahankan kinerja positif di tahun-tahun mendatang.

Bagi investor, performa PGUN dan JARR menjadi indikator kuat bahwa sektor perkebunan sawit masih menjadi salah satu primadona di pasar modal Indonesia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
bisnis sawit 2025 PT Pradiksi Gunatama Jhonlin Agro Raya harga CPO Haji Isam