Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menjamur di Banyuwangi, Toko Madura 24 Jam Jadi Tulang Punggung Ekonomi Rakyat

Ali Sodiqin • Selasa, 7 April 2026 | 02:30 WIB
TAK ADA PEMBATASAN: Keberadaan toko Madura di Banyuwangi makin menjamur. Seperti toko Madura di dekat traffic light Sukowidi, Kelurahan Klatak, ini yang beroperasi selama 24 jam nonstop.  
TAK ADA PEMBATASAN: Keberadaan toko Madura di Banyuwangi makin menjamur. Seperti toko Madura di dekat traffic light Sukowidi, Kelurahan Klatak, ini yang beroperasi selama 24 jam nonstop.  

RADARBANYUWANGI.ID – Sejak pandemi COVID-19 melanda, fenomena menjamurnya toko kelontong atau yang populer disebut “toko Madura” kian terlihat di berbagai sudut Banyuwangi.

Kini, jumlahnya terus bertambah dan menjadi bagian penting dari denyut ekonomi masyarakat.

Toko Madura dikenal sebagai warung kelontong yang buka selama 24 jam.

Hampir di setiap kawasan permukiman, toko ini mudah dijumpai dengan ciri khas yang seragam, mulai dari penataan barang, penjualan bensin eceran, hingga etalase sederhana dengan rokok yang disusun miring.

Barang yang dijual pun beragam, mulai dari jajanan, air mineral, rokok, hingga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gas elpiji, pulsa, dan token listrik.

Keberadaan toko ini dinilai memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama karena lokasinya yang dekat dan jam operasionalnya tanpa henti.

Menariknya, sebagian besar toko Madura dikelola dalam sistem jaringan. Satu pemilik bisa memiliki beberapa toko sekaligus, dengan sistem sewa tempat untuk jangka waktu tertentu.

Distribusi barang biasanya dilakukan oleh pemasok atau sales yang langsung mengirim ke toko.

Namun, tidak semua toko menerapkan sistem tersebut. Seperti yang dilakukan Lukman Hakim, pemilik toko kelontong di simpang tiga Pasar Rogojampi. Ia memilih menjalankan usahanya secara mandiri tanpa sistem jaringan.

“Kalau punya saya tempat tidak sewa, tapi milik sendiri dan belanja juga sendiri,” ujarnya.

Dengan sistem tersebut, Lukman mampu menekan harga jual karena tidak terbebani biaya sewa. Apalagi, lokasi tokonya yang dekat dengan pasar memudahkan akses kulakan barang.

“Kalau soal harga hampir sama dengan harga pasar, karena tempat kulakan juga sama di pusat grosir,” tambahnya.

Menurut Lukman, sistem toko Madura memang beragam. Ada yang menggunakan sistem bagi hasil, ada pula yang hanya mempekerjakan penjaga toko.

Rata-rata penjaga toko adalah pasangan suami istri yang merantau dari luar daerah. Mereka tinggal di lokasi toko dan bekerja menjaga operasional selama 24 jam penuh.

Salah satunya Rahmat, yang datang dari Situbondo bersama istrinya. Ia mengaku pekerjaan ini menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya.

“Alhamdulillah, bisa untuk menyambung hidup bersama keluarga,” katanya.

Rahmat dan istrinya bekerja bergantian melayani pembeli. Saat toko ramai, keduanya turun bersama agar pelayanan tetap cepat.

“Kalau pelayanan lambat, pembeli bisa kabur dan tidak kembali lagi. Makanya kami utamakan pelayanan cepat,” ujarnya.

Dari usaha tersebut, Rahmat mengaku mampu meraih omzet harian sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Bahkan, saat bulan Ramadan, pendapatan bisa meningkat karena tingginya aktivitas belanja pada malam hari.

Selain Rahmat, pengalaman berbeda dirasakan Wahid (33). Ia sempat bekerja menjaga toko selama pandemi dengan bayaran Rp 2,5 juta per bulan.

Awalnya, pekerjaan tersebut terasa ringan karena hanya menjaga toko. Namun, sistem kerja tanpa libur selama 24 jam membuatnya merasa jenuh.

“Saya bertahan cuma empat bulan. Memang enak, tapi tidak bisa ke mana-mana,” ujarnya.

Hal serupa diungkapkan pelaku usaha toko Madura, Andi Nova. Ia menjelaskan bahwa sistem kerja biasanya dibagi dalam dua sif, masing-masing 12 jam.

Dalam satu toko, biasanya terdapat dua orang pekerja, yakni penanggung jawab dan karyawan. Mayoritas merupakan pasangan suami istri untuk memudahkan pengelolaan.

“Tidak ada libur. Kalau mau libur harus gantian atau cari pengganti. Makanya ada istilah ‘kiamat buka setengah hari’,” ujarnya sambil tertawa.

Terkait sistem penghasilan, ada yang menggunakan gaji tetap, ada pula sistem bagi hasil. Untuk gaji tetap, rata-rata berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan di Banyuwangi.

Meski terlihat menjanjikan, Andi menilai prospek bisnis toko Madura di Banyuwangi mulai menghadapi tantangan. Persaingan yang semakin ketat dan kondisi ekonomi daerah menjadi faktor utama.

“Kalau di kota besar omzet bisa Rp 5 juta per hari. Di Banyuwangi, dapat Rp 500 ribu sehari sudah bagus,” jelasnya.

Meski demikian, keberadaan toko Madura tetap memberikan kontribusi positif bagi perekonomian lokal.

Selain membuka lapangan kerja, toko ini juga mendekatkan layanan kebutuhan sehari-hari kepada masyarakat.

Di tengah persaingan dengan toko modern, warung tradisional ini membuktikan bahwa kedekatan dengan konsumen, jam operasional fleksibel, dan pelayanan cepat menjadi kunci utama bertahan di pasar.

Ke depan, persaingan antara toko Madura dan ritel modern diprediksi akan semakin dinamis.

Namun satu hal yang pasti, toko Madura telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Banyuwangi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#toko Madura Banyuwangi #warung 24 jam #usaha kelontong #bisnis sembako #ekonomi rakyat