RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah tren kalimat motivasi yang populer di kalangan anak muda, “Masih muda sudah stuck? Jangan ya!”, kisah hidup Ahmad Sai menjadi cermin nyata tentang arti semangat, tanggung jawab, dan pantang menyerah.
Di usianya yang telah menginjak 86 tahun, pria asal Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, itu masih memilih tetap bekerja dan enggan berpangku tangan.
Pria yang akrab disapa Pak Mad tersebut setiap hari terlihat berjualan pisang di tepi Jalan Raden Wijaya, Lingkungan Kluncing, Kelurahan Giri.
Usia senja tak membuat langkahnya surut. Justru, semangat hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama generasi muda yang kerap merasa lelah menghadapi kerasnya kehidupan.
Sudah 15 Tahun Jualan Pisang
Pekerjaan sebagai penjual pisang telah dilakoni Pak Mad selama kurang lebih 15 tahun terakhir.
Di lapak sederhananya, ia menjajakan beragam jenis pisang.
Mulai dari:
-
pisang raja
-
pisang kepok
-
pisang berlin
-
pisang kayu
-
pisang ambon
dan jenis lainnya.
Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau.
Untuk satu sisir ukuran kecil, ia mematok harga sekitar Rp 12 ribu hingga Rp 13.500.
Sedangkan untuk ukuran besar dijual Rp 15 ribu sampai Rp 17 ribu.
“Saya sudah lama berjualan pisang di sini, sekitar 15 tahun,” ujarnya.
Lapak sederhana di pinggir jalan itu menjadi sumber nafkah utama bagi keluarganya.
Masa Muda Penuh Kerja Keras
Pak Mad mengaku, semasa mudanya ia telah menjalani berbagai jenis pekerjaan.
Mulai dari pekerjaan kasar hingga pekerjaan serabutan, semuanya pernah ia lakoni demi memenuhi kebutuhan hidup.
Kini, di usia yang tidak lagi muda, ia memilih berjualan pisang sebagai pekerjaan yang masih bisa dijalani.
Menurutnya, yang terpenting bukan jenis pekerjaannya, melainkan bagaimana tetap bisa mencari nafkah secara mandiri.
Pengalaman panjang hidup membuatnya terbiasa menghadapi kerasnya perjuangan ekonomi.
Berangkat Jalan Kaki dari Kelir ke Kluncing
Yang membuat kisah Pak Mad semakin menginspirasi adalah cara ia membawa dagangannya.
Tak jarang, ia berjalan kaki dari Desa Kelir menuju Kluncing sambil membawa pisang yang akan dijual.
Jarak yang tidak dekat itu tetap ia tempuh dengan semangat.
Meski demikian, terkadang ada pengendara yang berbaik hati menawarkan tumpangan.
“Kadang saya diantar orang yang kebetulan bertemu di jalan,” katanya.
Setiap hari, Pak Mad mulai berjualan sekitar pukul 08.00 WIB.
Ia akan tetap berada di lapaknya hingga dagangan habis atau paling lambat sekitar pukul 16.00 WIB.
Rutinitas itu ia jalani hampir tanpa keluhan.
Tetap Bekerja Demi Tanggung Jawab sebagai Suami
Bagi Pak Mad, alasan utama tetap bekerja di usia 86 tahun bukan sekadar untuk mengisi waktu.
Ia merasa masih memiliki tanggung jawab besar sebagai kepala keluarga dan suami.
Selama tubuhnya masih kuat, ia memilih tetap mencari nafkah sendiri.
“Selama saya masih kuat, saya akan tetap bekerja meski di umur 90 tahun sekalipun,” tuturnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa besar tekad dan prinsip hidup yang dipegangnya.
Baginya, bekerja adalah bentuk harga diri dan tanggung jawab.
Tidak Mau Bergantung pada Orang Lain
Pak Mad juga memiliki prinsip hidup yang kuat, yakni tidak ingin bergantung pada bantuan orang lain selama dirinya masih mampu bergerak.
Menurutnya, selama tangan dan kaki masih bisa digunakan untuk bekerja, maka tidak ada alasan untuk menyerah.
“Pedoman saya dari dulu yaitu tidak meminta bantuan selama saya masih bisa bergerak untuk mencari nafkah sendiri,” pungkasnya.
Kisah Pak Mad menjadi pengingat bahwa usia bukan penghalang untuk terus berkarya.
Semangat hidup dan etos kerja keras yang ditunjukkannya menjadi teladan bagi siapa saja agar tidak mudah merasa terjebak atau stuck dalam hidup.
Di tengah usia yang telah melewati tiga perempat abad, Pak Mad justru membuktikan bahwa semangat untuk terus maju tak pernah mengenal batas umur.
(mg1/sgt)
Editor : Ali Sodiqin