Transformasi Ekonomi Desa Tugu Selatan Bogor: Kampung Koboi, BUMDes, dan Desa BRILiaN Dongkrak Kesejahteraan Warga

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 1 April 2026 | 07:32 WIB
Kampung Koboi Tugu Selatan, Wujud Transformasi Desa Berbasis Potensi Lokal dalam Program Desa BRILiaN. (foto: BRI)
Kampung Koboi Tugu Selatan, Wujud Transformasi Desa Berbasis Potensi Lokal dalam Program Desa BRILiaN. (foto: BRI)

RADARBANYUWANGI.ID – Transformasi ekonomi desa berbasis potensi lokal terus menunjukkan tren positif. Hal tersebut tercermin dari geliat pembangunan di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, yang berhasil mengintegrasikan kekuatan alam, tradisi, dan inovasi menjadi ekosistem ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Berada di wilayah perbatasan Kabupaten Cianjur dengan lanskap pegunungan hijau yang asri, Desa Tugu Selatan menjelma menjadi contoh nyata bagaimana desa mampu mengoptimalkan sumber daya setempat sebagai motor penggerak ekonomi sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat.

Bagi warga, alam bukan sekadar latar kehidupan, melainkan fondasi utama penghidupan. Berbagai aktivitas ekonomi tumbuh dari sektor pertanian, peternakan, hingga pariwisata berbasis kearifan lokal. Seluruh sektor tersebut dikembangkan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan panorama alam sebagai daya tarik utama.

Kepala Desa Tugu Selatan, M. Eko Windiana, menjelaskan bahwa percepatan transformasi desa mulai terasa sejak wilayahnya masuk dalam nominasi Desa BRILiaN, program pemberdayaan desa yang diinisiasi oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Menurutnya, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat, baik dalam pengembangan usaha, peningkatan layanan desa, hingga kemudahan akses pembiayaan.

“Kampung Koboi itu bermula dari di desa kami ada sebuah kampung yang sejak dulu bernama Kampung Teksas. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai penunggang kuda,” jelas Eko.

Dari identitas unik tersebut, lahirlah Kampung Koboi sebagai destinasi wisata edukatif yang kini menjadi ikon desa.

Pengembangan kawasan ini tidak hanya menghadirkan pengalaman wisata berbeda bagi pengunjung, tetapi juga membuka peluang usaha baru dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pengelolaan ekonomi desa dilakukan secara terintegrasi. Berbagai unit usaha dikembangkan, mulai dari layanan internet desa, Café Landing Paralayang yang menjadi ruang tumbuh UMKM lokal, hingga pengelolaan Kampung Koboi sebagai magnet wisata.

BUMDes juga menghadirkan layanan keuangan melalui BRILink Agen, yang memudahkan masyarakat dalam melakukan berbagai transaksi secara cepat dan efisien tanpa harus keluar desa.

Kehadiran Kampung Koboi memberikan dampak nyata, khususnya bagi para penunggang kuda yang kini memiliki sumber pendapatan tambahan dari sektor pariwisata. Lonjakan kunjungan wisatawan turut mendorong perputaran ekonomi desa.

Tak hanya itu, dukungan pembiayaan dari perbankan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis mereka.

Di sektor peternakan, klaster sapi perah menunjukkan perkembangan signifikan. Produksi susu yang mencapai sekitar 2.000 liter per hari menjadi indikator meningkatnya kapasitas usaha masyarakat.

Dukungan permodalan dan kolaborasi dengan BUMDes turut memperkuat produktivitas dan populasi ternak.

Sementara itu, sektor pertanian yang tergabung dalam kelompok gabungan tani (Gapoktan) terus diperkuat melalui bantuan alat pertanian serta pendampingan intensif guna meningkatkan hasil produksi dan memperluas lahan usaha.

Keberhasilan Desa Tugu Selatan tidak lepas dari implementasi empat pilar utama Desa BRILiaN. Pilar tersebut meliputi penguatan kelembagaan desa melalui BUMDes, digitalisasi layanan, inovasi berbasis kearifan lokal, serta prinsip keberlanjutan dalam pembangunan desa.

Secara terpisah, Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa Program Desa BRILiaN merupakan bagian dari strategi perseroan dalam memperkuat ekonomi desa sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru di tingkat lokal.

Program tersebut dirancang untuk mendorong desa agar mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki melalui penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, serta integrasi ekosistem usaha.

“Program Desa BRILiaN kami arahkan untuk membangun desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis kekuatan lokal. BRI tidak hanya menghadirkan pembiayaan, tetapi juga mendorong penguatan kelembagaan, digitalisasi, dan pengembangan ekosistem usaha agar desa mampu naik kelas secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendampingan dan pemberdayaan akan terus dilakukan guna memastikan terciptanya nilai tambah ekonomi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Transformasi yang terjadi di Desa Tugu Selatan menjadi bukti bahwa desa memiliki potensi besar untuk berkembang mandiri.

Dengan kolaborasi yang kuat, inovasi berkelanjutan, serta pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal, desa mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif dan berdaya saing. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Desa BRLiaN Desa Tugu Selatan Kampung Koboi bri bbri