RADARBANYUWANGI.ID – Transformasi ekonomi desa berbasis potensi lokal terus menunjukkan peran strategis dalam memperkuat ekonomi kerakyatan di Indonesia. Salah satu contoh nyata hadir dari Desa Manemeng, yang menjadikan nilai gotong royong sebagai fondasi utama dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Semangat kebersamaan yang dikenal dengan istilah “Marenta Barmak”, atau bekerja bersama, menjadi kekuatan utama desa dalam membangun ekosistem ekonomi yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan.
Nilai tersebut tidak hanya tumbuh sebagai budaya sosial yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga telah menjadi denyut utama aktivitas ekonomi warga. Mulai dari sektor pertanian, produksi batu bata dan batako, hingga peternakan sapi, seluruhnya berjalan beriringan sebagai penopang penghidupan masyarakat desa.
Kepala Desa Manemeng, Jayadi, menuturkan bahwa mayoritas warga masih menggantungkan hidup pada sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi desa.
“Manemeng adalah desa yang homogen, mayoritasnya petani dan buruh tani. Ada yang berladang dan berternak, tetapi pekerjaan utamanya tetap di sektor pertanian,” ujarnya.
Menurutnya, sektor pertanian bukan hanya sumber pendapatan utama, tetapi juga menjadi identitas ekonomi masyarakat yang telah terbentuk sejak lama. Aktivitas bertani dan berladang dilakukan hampir oleh seluruh keluarga di desa tersebut.
Di sela aktivitas utama sebagai petani, warga juga mengembangkan berbagai usaha lain sebagai sumber penghasilan tambahan. Mulai dari klaster peternakan, produksi bahan bangunan, hingga usaha mikro yang dikelola secara mandiri maupun kelompok.
Perkembangan ekonomi ini semakin menunjukkan kemajuan signifikan sejak Desa Manemeng menjadi bagian dari Program Desa BRILiaN.
Program yang digagas BRI tersebut dinilai mampu membuka akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital sekaligus memperluas peluang usaha desa.
“Sekarang masyarakat sudah mulai menggunakan BRImo, ada juga yang menjadi BRILink Agen. Layanan digital seperti ini membantu aktivitas ekonomi masyarakat dan mampu mengurangi tingkat kemiskinan di desa,” kata Jayadi.
Digitalisasi layanan keuangan menjadi salah satu titik penting dalam percepatan ekonomi desa. Kehadiran BRImo dan BRILink memungkinkan masyarakat melakukan transaksi secara lebih mudah, cepat, dan efisien tanpa harus pergi jauh ke pusat layanan perbankan.
Tidak hanya itu, keberadaan agen BRILink juga membuka peluang usaha baru bagi warga, sekaligus memperkuat inklusi keuangan di wilayah pedesaan.
Peran strategis lain dalam penguatan ekonomi Desa Manemeng datang dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukses Mandiri yang telah berdiri sejak 2018.
BUMDes tersebut kini menjadi motor penggerak utama dalam berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, terutama dalam penguatan distribusi dan pemasaran produk pangan desa.
Keberadaan lembaga ini dinilai berhasil menjembatani kebutuhan pasar dengan potensi produksi masyarakat lokal.
Saat ini, BUMDes Sukses Mandiri fokus memperkuat rantai distribusi produk pangan hasil desa sekaligus membantu pengelolaan usaha masyarakat agar lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Keterlibatan Desa Manemeng dalam Program Desa BRILiaN juga memberikan dorongan semangat baru bagi para pengelola BUMDes untuk terus mengembangkan potensi ekonomi desa.
Selain sektor pertanian dan BUMDes, produksi batu bata juga menjadi salah satu sumber penghidupan penting bagi masyarakat.
Setiap hari, para pekerja mampu memproduksi ribuan batu bata yang kemudian dijemur sebelum masuk tahap pembakaran.
Meski proses produksinya masih dilakukan secara sederhana dan tradisional, sektor ini terbukti mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.
Menariknya, pemasaran produk kini tidak lagi bergantung pada metode konvensional.
Warga mulai memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk konsumen dari wilayah sekitar yang sedang mengalami pertumbuhan pembangunan.
Selain batu bata, usaha produksi batako juga berkembang seiring meningkatnya kebutuhan material konstruksi.
Pemanfaatan bahan baku lokal menjadi keunggulan tersendiri karena mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga keberlanjutan usaha masyarakat.
Sektor lain yang turut berkembang adalah peternakan sapi.
Melalui kerja sama antarwarga, kelompok ternak mengelola usaha secara kolektif dengan prinsip gotong royong yang kuat.
Model usaha kolektif ini dinilai efektif dalam meningkatkan produktivitas sekaligus meminimalkan risiko usaha.
Untuk mendukung pengembangan sektor tersebut, masyarakat juga memanfaatkan dukungan pembiayaan, termasuk melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Akses pembiayaan yang lebih mudah memungkinkan kelompok ternak memperluas skala usaha, meningkatkan kualitas ternak, serta memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyampaikan bahwa Program Desa BRILiaN merupakan bagian dari strategi BRI dalam memperkuat fondasi ekonomi desa melalui pendekatan yang terintegrasi.
Program ini juga selaras dengan Asta Cita Pemerintah dalam mendorong pemerataan pembangunan dan penguatan ekonomi dari desa.
Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia.
“Program Desa BRILiaN merupakan bagian dari strategi BRI untuk mendorong desa agar mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki melalui penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, serta integrasi ekosistem usaha. Melalui pendekatan tersebut, BRI berupaya memperkuat kapasitas ekonomi desa agar lebih produktif dan berdaya saing. Pada akhirnya, upaya ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat desa secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Transformasi yang terjadi di Desa Manemeng menjadi bukti bahwa pembangunan ekonomi desa berbasis kekuatan lokal dan semangat gotong royong mampu menciptakan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Model pembangunan seperti ini dinilai dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam membangun ekonomi yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan. (*)
Editor : Ali Sodiqin