RADARBANYUWANGI.ID – Harga daging ayam broiler di sejumlah pasar tradisional di Banyuwangi masih bertahan tinggi pasca Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Hingga Kamis (26/3) atau H+5 Lebaran, harga komoditas tersebut masih berada di kisaran Rp 40 ribu per kilogram (kg), jauh di atas harga normal.
Pantauan di Pasar Genteng 1, Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, menunjukkan harga daging ayam belum juga kembali stabil. Para pedagang masih menjual ayam potong dengan harga Rp 40 ribu per kg.
Padahal, sebelum Ramadan atau pada hari biasa, harga ayam broiler hanya berkisar Rp 28 ribu hingga Rp 30 ribu per kg.
Petugas Pasar Genteng 1, Arif Kurniawan, mengungkapkan bahwa lonjakan harga ini sudah terjadi sejak pertengahan Ramadan dan belum mengalami penurunan signifikan hingga saat ini. Bahkan, menjelang Lebaran, harga sempat menyentuh angka lebih tinggi.
“Pada H-2 Lebaran harga daging ayam sempat mencapai Rp 42 ribu per kilogram. Sekarang ini memang sedikit turun, tapi masih tergolong mahal,” ujarnya.
Menurut Arif, tingginya harga daging ayam dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Sejak Ramadan hingga Lebaran, kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam meningkat tajam, sementara stok dari peternak belum mencukupi.
“Dari informasi pedagang, banyak peternak yang belum memasuki masa panen. Di sisi lain, permintaan masyarakat meningkat cukup tinggi sejak Ramadan,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat ketersediaan daging ayam di pasar kerap terbatas. Bahkan, tidak jarang stok cepat habis karena tingginya permintaan dari konsumen.
Tak hanya daging ayam, sejumlah komoditas lain juga masih bertahan di harga tinggi. Salah satunya adalah cabai rawit atau lombok litik. Saat ini, harga cabai rawit berada di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 52 ribu per kg.
“Sebelumnya sempat mencapai Rp 80 ribu, sekarang memang sudah turun, tapi masih relatif mahal,” tambah Arif.
Situasi serupa juga terjadi di pasar lain di wilayah Banyuwangi. Di Pasar Dusun Panjen, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, harga daging ayam masih belum menunjukkan penurunan signifikan.
Salah satu pedagang, Misti Marsela, 44, menyebut kenaikan harga daging ayam terjadi secara bertahap sejak awal Ramadan hingga mencapai puncaknya menjelang Lebaran.
“Naiknya pelan-pelan dari Rp 30 ribu, lalu terus naik sampai puncaknya sebelum Lebaran,” ungkapnya.
Meski harga relatif mahal, permintaan daging ayam justru meningkat pada Lebaran tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Banyak masyarakat memilih daging ayam sebagai bahan utama berbagai hidangan Lebaran.
“Banyak pelanggan saya yang biasanya membuat pentol dari daging sapi, sekarang beralih menggunakan daging ayam karena lebih terjangkau,” pungkasnya.
Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, hingga pasokan dari peternak kembali normal dan mampu memenuhi tingginya permintaan pasar. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin