Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tercabaikan Bandung: Dari Baso Aci Rumahan Jadi UMKM Kuliner Inovatif, Sukses Berkat Digitalisasi dan LinkUMKM BRI

Ali Sodiqin • Kamis, 26 Maret 2026 | 09:14 WIB

Tercabaikan Bandung berkembang dari baso aci rumahan jadi UMKM inovatif. Sukses lewat digitalisasi dan dukungan LinkUMKM BRI.
Tercabaikan Bandung berkembang dari baso aci rumahan jadi UMKM inovatif. Sukses lewat digitalisasi dan dukungan LinkUMKM BRI.

RADARBANYUWANGI.ID - Berangkat dari ketertarikan mengolah kuliner berbahan dasar tepung aci, brand kuliner Tercabaikan kini menjelma menjadi salah satu pelaku usaha makanan lokal yang cukup diperhitungkan di Bandung.

Mengusung konsep kuliner tradisional dengan sentuhan modern, usaha ini berhasil menghadirkan beragam menu yang dekat dengan lidah masyarakat, mulai dari baso aci hingga aneka jajanan khas Sunda lainnya.

Di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat, Tercabaikan tampil dengan diferensiasi rasa dan inovasi produk.

Menu yang ditawarkan pun cukup beragam, antara lain baso aci, cimol bojot, cireng kuah, mie kocok, kupat tahu, mie ayam, hingga cilok.

Keberagaman ini menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen yang menginginkan variasi dalam satu brand kuliner.

Inovasi Rasa Jadi Kunci Bertahan

Tidak sekadar menyajikan menu tradisional, Tercabaikan terus melakukan inovasi untuk menjaga relevansi produk dengan selera pasar yang dinamis.

Cita rasa yang kaya bumbu menjadi salah satu keunggulan utama, didukung dengan berbagai pilihan topping dan isian yang menggugah selera.

Beberapa inovasi yang dihadirkan antara lain kupat tahu dengan sambal geprek maupun chili oil, serta baso aci dengan berbagai varian kuah seperti keju, seblak, hingga soto.

Inovasi ini menjadi strategi penting untuk memperluas segmentasi pasar, khususnya generasi muda yang cenderung menyukai eksplorasi rasa baru.

Terinspirasi dari Antrean Baso Aci di Garut

Pemilik Tercabaikan, Inggra DP, mengungkapkan bahwa ide awal membangun usaha ini muncul dari pengalaman sederhana saat berkunjung ke Garut.

Ia melihat antusiasme masyarakat terhadap baso aci yang begitu tinggi, bahkan rela mengantre sejak subuh.

“Awalnya saya melihat sebuah toko baso aci di Garut yang sangat ramai. Dari situ muncul rasa penasaran, lalu saya mencoba membuat sendiri di rumah dan membagikannya sebagai oleh-oleh,” ujarnya.

Respons positif dari keluarga menjadi titik awal berkembangnya usaha ini. Bahkan pada momen syukuran pernikahannya di tahun 2017, Inggra membagikan baso aci buatannya kepada keluarga dan tetangga.

Dari sana, pesanan pre-order mulai berdatangan dan menjadi fondasi awal perjalanan bisnis Tercabaikan.

Tantangan Awal: Serba Mandiri

Seperti kebanyakan UMKM yang baru dirintis, perjalanan Tercabaikan tidak lepas dari berbagai tantangan.

Pada tahap awal, seluruh proses bisnis dijalankan secara mandiri oleh Inggra, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga pemasaran.

Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang. Justru, hal itu menjadi pengalaman berharga dalam memahami setiap aspek bisnis secara menyeluruh.

Seiring waktu, strategi pemasaran pun mulai berkembang dengan memanfaatkan kanal digital seperti website, marketplace, media sosial, hingga WhatsApp Business dan layanan pesan antar.

Naik Kelas Lewat LinkUMKM BRI

Dalam upaya meningkatkan kapasitas usaha, Inggra aktif mengikuti berbagai pelatihan, salah satunya melalui platform LinkUMKM BRI.

Ia pertama kali mengenal platform tersebut pada tahun 2020 saat mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.

“Program dari LinkUMKM sangat membantu karena menyediakan pelatihan gratis yang relevan dengan kebutuhan usaha, bahkan sampai topik kekinian seperti kecerdasan buatan,” jelasnya.

Hingga akhir 2025, LinkUMKM telah dimanfaatkan oleh sekitar 14,98 juta pelaku UMKM di Indonesia.

Platform ini menyediakan berbagai fitur terintegrasi seperti UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, serta Register NIB. Selain itu, tersedia lebih dari 750 modul pembelajaran yang mendukung peningkatan soft skill dan hard skill pelaku usaha.

Dorongan Transformasi UMKM di Era Digital

Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyampaikan bahwa LinkUMKM dirancang sebagai ekosistem pembelajaran untuk membantu pelaku usaha berkembang secara berkelanjutan.

Menurutnya, akses terhadap pelatihan yang relevan menjadi kunci bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing di era digital.

Selain itu, platform ini juga membuka peluang jejaring yang lebih luas dan akses pasar yang semakin berkembang.

“Dengan penguatan kapasitas yang berkelanjutan, kami berharap semakin banyak UMKM yang mampu naik kelas dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujarnya.

Konsistensi dan Adaptasi Jadi Kunci

Perjalanan Tercabaikan menjadi bukti bahwa konsistensi, inovasi, dan kemampuan beradaptasi merupakan faktor penting dalam membangun usaha kuliner.

Dari dapur rumah hingga menjadi brand lokal yang dikenal, langkah demi langkah yang ditempuh menunjukkan bahwa peluang selalu terbuka bagi siapa saja yang mau berusaha.

Dengan memadukan cita rasa tradisional dan sentuhan modern, serta dukungan ekosistem digital seperti LinkUMKM BRI, Tercabaikan optimistis dapat terus berkembang dan memperluas jangkauan pasar di masa mendatang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#bri #pemberdayaan #LinkUMKM BRI #Tercabaikan #rumah BUMN #bbri #umkm bandung #kuliner aci #Link UMKM