Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bandeng Juwana Elrina Jadi Primadona Oleh-Oleh Semarang Saat Mudik Lebaran, Ini Kisah dan Strategi Suksesnya Berkat Binaan BRI

Ali Sodiqin • Minggu, 22 Maret 2026 | 16:19 WIB

Bandeng Juwana Elrina Jadi Ikon Oleh-Oleh Semarang di Musim Mudik Lebaran
Bandeng Juwana Elrina Jadi Ikon Oleh-Oleh Semarang di Musim Mudik Lebaran

RADARBANYUWANGI.ID - Musim libur Lebaran selalu menghadirkan cerita khas di berbagai kota jalur mudik, termasuk Semarang.

Kota pesisir di Jawa Tengah ini tak hanya menjadi tempat persinggahan pemudik, tetapi juga dikenal sebagai surga oleh-oleh yang selalu diburu saat perjalanan pulang kampung maupun arus balik.

Di antara beragam pilihan buah tangan khas Semarang, nama Bandeng Juwana Elrina tetap menjadi yang paling menonjol.

Bagi banyak pemudik, singgah di kota ini belum terasa lengkap tanpa membawa pulang bandeng presto yang telah melegenda tersebut.

Toko oleh-oleh ini bahkan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi mudik selama puluhan tahun.

Setiap musim Lebaran, antrean pembeli menjadi pemandangan yang lazim terlihat, terutama menjelang arus balik.

Berawal dari Stand Sederhana di Depan Rumah

Jason Nathaniel Kusmadi, cucu pendiri Bandeng Juwana Elrina, mengisahkan perjalanan usaha keluarga yang dimulai dari mimpi sederhana sang kakek.

Kala itu, almarhum ingin memiliki usaha sendiri demi menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang pendidikan lebih tinggi, bahkan hingga ke luar negeri.

Awalnya, keluarga berencana membuka usaha bakery. Namun keterbatasan modal membuat rencana tersebut urung terealisasi.

Inspirasi kemudian datang dari lingkungan sekitar rumah yang banyak menjual ikan bandeng.

Melihat peluang tersebut, keluarga mencoba mengolah bandeng sendiri dan menjualnya di depan rumah. Usaha ini resmi dimulai pada 3 Januari 1981, meski dalam bentuk yang sangat sederhana.

“Bukan toko besar seperti sekarang, melainkan hanya sebuah stand kecil yang menempel di rumah yang juga berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus praktik dokter,” ungkap Jason.

Tumbuh Pesat, Jadi Toko Oleh-Oleh Legendaris

Perkembangan usaha ini terbilang cepat. Hanya dalam waktu tiga tahun, tepatnya pada 1984, stand kecil tersebut berkembang menjadi toko oleh-oleh yang lebih besar.

Produk utamanya tetap bandeng duri lunak atau bandeng presto, yang menjadi ciri khas dan daya tarik utama. T

ekstur lembut dan cita rasa gurih menjadikan produk ini digemari berbagai kalangan.

Seiring berjalannya waktu, variasi produk pun terus bertambah. Kini pelanggan dapat menemukan berbagai olahan bandeng seperti bandeng asap, bandeng dalam sangkar, otak-otak bandeng, hingga boneless bandeng.

Inovasi Produk Jadi Kunci Bertahan

Tidak hanya mengandalkan satu produk, Bandeng Juwana Elrina terus berinovasi untuk menghadapi persaingan bisnis oleh-oleh yang semakin ketat.

“Bandeng masih jadi produk utama, tapi kalau hanya jualan bandeng tentu akan sulit bersaing. Jadi, kami berinovasi dengan memproduksi wingko babat, lumpia, tahu bakso, dan bakpia,” jelas Jason.

Langkah ini terbukti efektif dalam memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya tarik toko bagi wisatawan.

Jadi One Stop Shopping Oleh-Oleh

Tak berhenti di situ, Bandeng Juwana Elrina juga membuka peluang bagi pelaku UMKM lokal untuk menitipkan produk mereka. Berbagai makanan khas seperti moci, jenang, keripik, hingga abon kini tersedia di toko tersebut.

Konsep ini menjadikan Bandeng Juwana Elrina sebagai pusat oleh-oleh terpadu atau one stop shopping, yang memudahkan pelanggan mendapatkan berbagai jenis buah tangan dalam satu tempat.

“Kalau orang datang ke sini, cari oleh-oleh ya sudah cukup di sini saja,” ujar Jason.

Kolaborasi dengan BRI Dorong UMKM Naik Kelas

Dalam mengembangkan usahanya, Bandeng Juwana Elrina juga menjalin kerja sama strategis dengan BRI.

Dukungan yang diberikan mencakup akses pembiayaan, pelatihan pengelolaan keuangan, hingga bantuan pengurusan izin usaha seperti PIRT dan sertifikat halal.

Di area toko juga tersedia BRI Corner yang menawarkan berbagai produk kerajinan dan pernak-pernik. Selain itu, kolaborasi ini menghadirkan berbagai promo menarik bagi pelanggan, seperti cashback, tukar poin, hingga program tebus murah.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung pelaku usaha agar terus berkembang.

“Kami memberikan akses pembiayaan dan pendampingan agar pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitasnya, membuka lapangan kerja, serta memperkuat ekonomi daerah,” ujarnya.

Puncak Penjualan Justru Saat Arus Balik

Menariknya, puncak keramaian Bandeng Juwana Elrina tidak terjadi saat hari H Lebaran, melainkan setelahnya.

“Kalau Lebaran itu justru ramai setelahnya, saat arus balik. Orang-orang yang kembali ke kota asal biasanya mampir membeli oleh-oleh,” kata Jason.

Fenomena ini menjadi bukti bahwa Semarang tetap menjadi titik penting dalam perjalanan mudik, sekaligus destinasi kuliner yang tak boleh dilewatkan.

Inspirasi UMKM untuk Berkembang

Kisah Bandeng Juwana Elrina menjadi contoh nyata bagaimana usaha kecil yang dimulai dari rumah dapat berkembang menjadi bisnis besar dengan strategi yang tepat.

Dukungan dari lembaga keuangan seperti BRI, inovasi produk, serta kolaborasi dengan UMKM lokal menjadi faktor penting dalam keberhasilan tersebut.

Cerita ini diharapkan dapat menginspirasi pelaku usaha lain di berbagai daerah untuk terus berinovasi dan memanfaatkan peluang yang ada, terutama di momen besar seperti Lebaran. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#bri #Bandeng Juwana Elrina #kuliner semarang #lebaran #bandeng presto #pemberdayaan umkm #bbri #semarang #oleh oleh khas #mudik lebaran #BRI dukung UMKM