BANYUWANGI – Pelaksanaan pasar murah gas elpiji 3 kilogram atau gas melon di Kecamatan Genteng, Banyuwangi, diwarnai kericuhan.
Antrean panjang, cuaca panas, serta keterbatasan stok memicu emosi warga yang telah menunggu sejak pagi.
Meski pelaksanaan sudah dibagi di beberapa titik dan tidak dipusatkan di satu lokasi, kondisi di lapangan tetap tidak terkendali.
Ribuan warga berjubel untuk mendapatkan gas bersubsidi, sementara stok yang disediakan sangat terbatas.
Antrean Panjang Berujung Ricuh
Sejak pagi hari, warga sudah memadati lokasi pasar murah di Kecamatan Genteng. Namun, situasi mulai memanas ketika banyak warga nekat memotong antrean.
Di tengah terik matahari dan kondisi berpuasa, emosi warga memuncak hingga terjadi adu argumen antara sesama warga maupun dengan petugas.
“Katanya diutamakan untuk warga Genteng saja, padahal sebelumnya hanya diminta bawa KTP,” keluh Tutut Wahyuni, 53.
Warga Luar Kecamatan Ditolak
Kericuhan semakin menjadi ketika petugas mulai membatasi pembelian hanya untuk warga Kecamatan Genteng. Warga dari luar kecamatan yang sudah antre berjam-jam terpaksa pulang dengan tangan kosong.
Kebijakan tersebut dinilai mendadak karena tidak disosialisasikan sejak awal. Hal ini memicu kekecewaan, terutama bagi warga yang datang dari jauh.
Stok Terbatas, Tidak Seimbang dengan Permintaan
Dalam operasi pasar tersebut, hanya tersedia 560 tabung gas elpiji yang dibagi dalam dua tahap:
- Tahap pertama: 200 tabung
- Tahap kedua: 360 tabung
Jumlah ini dinilai jauh dari cukup dibandingkan dengan jumlah warga yang datang.
“Tidak cukup sama sekali, makanya banyak yang pulang sambil marah,” imbuh Tutut.
Petugas Turun Tangan Amankan Situasi
Kericuhan yang terjadi membuat aparat dari Polsek Genteng bersama Satuan Polisi Pamong Praja harus turun tangan untuk mengendalikan situasi.
Cekcok antara warga dan petugas sempat terjadi sebelum akhirnya kondisi berhasil ditenangkan.
Prioritas untuk Warga Lokal
Petugas agen elpiji, Andre, menjelaskan bahwa prioritas diberikan kepada warga Genteng karena operasi pasar juga digelar di wilayah lain.
“Setiap lokasi hanya mendapat jatah 560 tabung. Warga bisa mencari di titik lain seperti SPBU Setail atau pangkalan di Dusun Cangaan,” ujarnya.
Beberapa titik alternatif yang disediakan antara lain:
- SPBU Setail
- Pangkalan elpiji di Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan
Stok Aman, Permintaan Melonjak
Meski terjadi kelangkaan di tingkat distribusi lapangan, pihak agen memastikan stok dari Pertamina hingga agen sebenarnya dalam kondisi aman.
“Stok aman, bahkan sudah beberapa kali ditambah. Yang digunakan untuk pasar murah ini juga tambahan,” jelas Andre.
Namun, lonjakan permintaan menjelang Lebaran menjadi faktor utama kelangkaan di lapangan.
Efek Mudik dan Nyepi
Peningkatan kebutuhan gas elpiji disebut dipicu oleh tingginya arus mudik tahun ini, yang datang lebih awal akibat berdekatan dengan Hari Raya Nyepi.
Banyaknya pemudik yang pulang kampung membuat konsumsi rumah tangga meningkat signifikan.
“Kondisi ini membuat permintaan melonjak drastis, sehingga distribusi di tingkat pangkalan sering cepat habis,” tandasnya.
Evaluasi Diperlukan
Kejadian ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara agar ke depan distribusi gas bersubsidi bisa lebih tertata.
Mulai dari sosialisasi aturan, penambahan kuota, hingga pengaturan antrean dinilai perlu diperbaiki agar tidak kembali memicu kericuhan di tengah masyarakat.
Di tengah meningkatnya kebutuhan menjelang Lebaran, masyarakat berharap distribusi gas elpiji dapat berjalan lebih adil, merata, dan tepat sasaran. (sas/aif)
Editor : Ali Sodiqin