RADARBANYUWANGI.ID – Raut wajah para pedagang takjil di wilayah Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur tidak lagi sesemringah seperti Ramadan tahun lalu.
Pada bulan puasa tahun ini, banyak pedagang mengaku omzet dagangan mereka merosot hingga separuh dibandingkan Ramadan 2025.
Penurunan tersebut dirasakan oleh sejumlah pedagang yang membuka lapak di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Blambangan Muncar. Lokasi tersebut biasanya menjadi salah satu titik keramaian penjualan aneka menu berbuka puasa.
Salah satu pedagang, Nur Kholis, mengungkapkan bahwa penjualan takjil pada Ramadan 2026 jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu.
Jika pada Ramadan 2025 ia bisa meraup omzet hingga Rp600 ribu per hari, kini pendapatannya hanya berkisar Rp300 ribu per hari.
“Ramadan tahun lalu omzet kami bisa sampai Rp600 ribu per hari. Sekarang paling Rp300 ribu,” ujarnya saat ditemui di lapaknya.
Kholis mengatakan dirinya mulai berjualan sejak sekitar pukul 15.00 hingga 23.00. Meski berjualan hingga delapan jam setiap hari, pendapatan yang diperoleh tetap tidak sebanding dengan Ramadan tahun lalu.
“Karena sepi, dapat Rp300 ribu sehari itu sudah berat,” keluhnya.
Menurut Kholis, ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan omzet pedagang takjil tahun ini. Selain jumlah pedagang yang semakin banyak, kondisi ekonomi masyarakat juga dinilai sedang tidak sebaik tahun sebelumnya.
“Sekarang yang jualan takjil makin banyak. Ditambah lagi kondisi ekonomi masyarakat juga terasa melemah,” tuturnya.
Hal serupa juga dirasakan sejumlah pedagang lainnya di kawasan tersebut. Namun, tidak semua pedagang mengalami penurunan signifikan.
Endang, pedagang takjil lainnya di RTH Blambangan Muncar, mengaku omzet dagangannya masih relatif stabil dibandingkan Ramadan tahun lalu. Ia yang menjual berbagai jenis gorengan mengaku masih mampu meraup omzet sekitar Rp700 ribu per hari.
“Omzet saya kurang lebih sama dengan tahun lalu, sekitar Rp700 ribu per hari,” ujarnya.
Meski demikian, Endang mengakui bahwa persaingan pedagang takjil memang semakin ketat. Setiap tahun jumlah penjual yang membuka lapak selama Ramadan terus bertambah, sehingga pembeli terbagi ke lebih banyak pedagang.
Fenomena menjamurnya pedagang takjil ini memang kerap terjadi setiap Ramadan. Banyak masyarakat memanfaatkan momentum bulan puasa untuk menambah penghasilan dengan menjual makanan dan minuman berbuka puasa.
Namun, di sisi lain, bertambahnya jumlah pedagang juga berdampak pada persaingan yang semakin ketat. Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang harus rela menerima penurunan omzet dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Para pedagang berharap kondisi ekonomi masyarakat segera membaik sehingga daya beli meningkat dan penjualan takjil kembali ramai seperti Ramadan sebelumnya. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin