RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan.
Mata uang Garuda sempat melemah hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar global.
Pada perdagangan hari ini, rupiah tercatat anjlok 76 poin atau sekitar 0,45 persen hingga menyentuh Rp17.001 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya sentimen penghindaran risiko atau risk off di pasar global.
Salah satu faktor utama yang memicu tekanan terhadap rupiah adalah lonjakan harga minyak dunia yang kini telah menembus US$100 per barel.
Kenaikan tajam tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap dampaknya terhadap perekonomian global.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak kenaikan harga minyak mentah yang berpotensi memicu inflasi global.
Menurutnya, lonjakan harga minyak mentah membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati US$100 per barel yang dikhawatirkan akan berdampak besar pada perekonomian global dan inflasi,” kata Lukman di Jakarta, Senin (9/3).
Ia memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berada pada kisaran Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar AS.
Lonjakan harga minyak dunia sendiri dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran dilaporkan semakin meluas ke berbagai wilayah, sehingga memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Ketegangan geopolitik tersebut membuat pasar global menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Selain konflik yang meningkat, ketidakpastian politik di Iran juga turut memicu lonjakan harga minyak dunia.
Hal ini terjadi setelah Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan meninggal dunia.
Penunjukan tokoh yang dikenal dekat dengan kelompok garis keras tersebut dinilai meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa Iran tidak akan segera melunak dalam konflik dengan Amerika Serikat maupun Israel.
Situasi tersebut memperbesar potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah.
Ketegangan yang meningkat juga berdampak pada jalur pelayaran energi strategis dunia, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak terbesar di dunia sehingga setiap potensi gangguan di wilayah itu langsung memicu reaksi pasar global.
Akibat meningkatnya kekhawatiran tersebut, harga minyak dunia melonjak tajam.
Pada pukul 07.50 WIB, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 20,81 persen hingga mencapai US$109,82 per barel.
Sementara itu, harga minyak Brent juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 18,17 persen hingga menyentuh US$109,53 per barel.
Lonjakan harga energi tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap potensi lonjakan inflasi global.
Kenaikan inflasi biasanya mendorong bank sentral di berbagai negara untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi ini pada akhirnya membuat aliran modal global cenderung kembali ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.
Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut mengalami tekanan.
Para pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak dunia yang berpotensi terus mempengaruhi stabilitas pasar keuangan global.
Jika harga minyak terus bertahan di level tinggi, tekanan terhadap mata uang negara berkembang diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. (*)
Editor : Ali Sodiqin