Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Analisis Saham BUMI hingga BBCA Saat IHSG Downtrend: Investor Diminta Waspada Distribusi Asing

Ali Sodiqin • Jumat, 6 Maret 2026 | 00:34 WIB

Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025).

RADARBANYUWANGI.ID - Pergerakan pasar saham Indonesia kembali menjadi perhatian pelaku pasar di tengah tekanan yang masih membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Hingga perdagangan Selasa (3/3), indeks acuan pasar modal tersebut masih bergerak dalam tren penurunan setelah memasuki area Fibonacci 7.989–7.866.

Secara teknikal, kondisi Indeks Harga Saham Gabungan menunjukkan fase downtrend yang belum terkonfirmasi berakhir.

Garis trendline jangka pendek masih belum berhasil ditembus, sehingga membuka peluang pelemahan lanjutan dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.

Di tengah situasi geopolitik global yang memanas, para analis pasar menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dalam mengelola portofolio investasi agar tidak terjebak pada pergerakan pasar yang fluktuatif.

Analisis Saham BUMI: Distribusi Asing Masih Mendominasi

Salah satu emiten yang menjadi sorotan adalah Bumi Resources. Dalam analisis teknikal terbaru, saham BUMI sempat mengalami gap up pada awal sesi perdagangan.

Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama setelah harga mengalami rejection di area Fibonacci.

Meski pada akhirnya ditutup menguat sekitar 1,61 persen, volume transaksi tercatat masih relatif rendah sehingga belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat.

Data transaksi menunjukkan adanya aksi distribusi cukup besar dari beberapa broker utama. Pada perdagangan 3 Maret, broker MG tercatat menjual saham BUMI dengan nilai lebih dari Rp100 miliar.

Sementara itu, sejak 20 Februari hingga awal Maret, broker AK telah melepas sekitar 11 juta lot saham dengan nilai mencapai Rp313 miliar.

Beberapa broker lain seperti CC, NI, dan OD terlihat mulai menampung saham tersebut. Namun posisi mereka masih berada dalam kondisi floating loss sehingga tekanan jual diperkirakan belum sepenuhnya mereda.

Jika investor asing belum kembali agresif melakukan akumulasi, pergerakan saham BUMI diperkirakan masih akan bergerak sideways hingga fase distribusi selesai.

Saham Energy Retest Support, AK Masih Simpan Profit

Pergerakan menarik juga terlihat pada saham energi, yakni Energi Mega Persada.

Saham ini sebelumnya sempat mencatat breakout, namun kini memasuki fase retest pada area support di kisaran 2.080. Tekanan jual muncul akibat aksi ambil untung dari sejumlah broker besar, terutama MG dan PD.

Meski demikian, broker AK diketahui masih memiliki rata-rata harga di level 1.650 dengan posisi floating profit sekitar 29 persen.

Kondisi tersebut membuat tekanan jual dari pihak tersebut belum terlalu agresif. Jika area support berhasil dipertahankan, peluang kenaikan lanjutan masih terbuka.

Saham Dewa dan Antam Uji Area Support Penting

Pergerakan saham tambang juga menjadi perhatian, termasuk Dewa United yang saat ini tertahan di area Fibonacci sekaligus support kuat.

Volume jual dari investor asing relatif tipis sehingga membuka peluang bagi saham ini untuk segera menyelesaikan fase distribusi dan beralih menuju akumulasi.

Sementara itu saham Aneka Tambang atau Antam terkoreksi sekitar 4 persen setelah harga emas global mengalami pelemahan.

Padahal sebelumnya saham ini sempat mencatat gap up yang cukup kuat. Tekanan jual terutama datang dari investor asing, termasuk broker AK yang melepas sebagian kepemilikan dengan posisi masih mencatat floating profit sekitar 9 persen.

Area support terdekat Antam berada di kisaran 4.240 hingga 3.930. Zona ini dinilai cukup krusial karena sebelumnya pernah menjadi area resistance kuat.

Saham Raja, Mina, hingga Buva Mulai Tunjukkan Pola Akumulasi

Sejumlah saham lain juga memperlihatkan pola teknikal yang menarik.

Saham Rukun Raharja berhasil mencatat breakout dan saat ini sedang melakukan retest di area support sekitar 4.600. Volume transaksi yang menurun ketika harga melemah dinilai sebagai anomali positif yang berpotensi memicu rebound.

Di sisi lain, saham Sanurhasta Mitra membentuk pola doji di area support kuat. Menariknya, data transaksi menunjukkan broker AK justru melakukan pembelian cukup besar ketika investor retail mulai keluar dari saham tersebut.

Pola serupa juga terjadi pada saham Bukit Uluwatu Villa. Broker AK tercatat melakukan pembelian sekitar Rp28 miliar, meski broker AZ masih melakukan distribusi.

Karakter broker AK yang dikenal sebagai trader aktif membuat pergerakan saham ini berpotensi fluktuatif dalam jangka pendek.

INET hingga Medco Perlihatkan Sinyal Berbeda

Pergerakan saham Sinergi Inti Andalan Prima menunjukkan pola doji di area support 312.

Broker AK mulai melakukan akumulasi sejak 2 Maret. Jika harga berhasil menembus trendline, peluang technical rebound diperkirakan cukup menarik bagi trader jangka pendek.

Berbeda dengan saham Medco Energi Internasional yang justru menunjukkan sinyal distribusi.

Broker AK dan DR tercatat sebagai penjual utama, sementara pihak pembeli didominasi investor retail dengan daya dorong yang relatif terbatas.

Jika distribusi ini terus berlanjut, harga saham berpotensi menguji area support di kisaran 1.715.

BBCA dan BBRI Jadi Penentu Sentimen Pasar

Dari sektor perbankan, pergerakan dua saham bank besar juga menjadi perhatian investor.

Saham Bank Central Asia atau BBCA ditutup menguat sekitar 0,71 persen dan berada di area support kuat.

Kemunculan candle yang menyerupai doji membuka peluang terjadinya pembalikan arah jika harga mampu menembus trendline jangka pendek.

Sebaliknya, saham Bank Rakyat Indonesia atau BBRI justru terkoreksi sekitar 1,31 persen dan mendekati area support historisnya.

Level tersebut sebelumnya beberapa kali menjadi titik pantulan harga. Apakah kali ini mampu bertahan atau justru ditembus menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Saham Perkapalan dan GTSI Melonjak

Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham sektor perkapalan justru mencatat lonjakan signifikan.

Saham Humpuss Intermoda Transportasi atau Humi melonjak hampir 20 persen setelah memantul dari area support.

Broker AK dan MG tercatat sebagai pembeli dominan, sementara investor retail justru melakukan aksi jual.

Dengan posisi floating profit broker AK yang masih tipis sekitar 3 persen, peluang dorongan harga lanjutan masih terbuka selama belum terjadi aksi distribusi besar.

Sementara itu saham GTS Internasional juga menunjukkan akumulasi cukup signifikan dari broker AK.

Jika area resistance 330 berhasil ditembus, saham ini berpotensi melanjutkan kenaikan menuju level 376.

Investor Disarankan Selektif di Tengah Tren Turun

Secara keseluruhan, kondisi pasar saham Indonesia saat ini masih bergerak selektif.

Selama Indeks Harga Saham Gabungan belum keluar dari tren penurunan, para analis menyarankan investor untuk menerapkan strategi wait and see serta disiplin dalam memperhatikan area support dan resistance.

Pendekatan tersebut dinilai menjadi kunci utama untuk menghindari risiko kerugian yang lebih besar di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#distribusi asing saham #ihsg turun #saham BBCA BBRI #saham Antam hari ini #analisis teknikal saham Indonesia #Analisis Saham Bumi