RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dipicu konflik AS-Israel dengan Iran tak hanya mengguncang pasar energi, melainkan juga mulai merambat ke rantai pasok pertanian global.
Dampak paling cepat terasa pada harga pupuk nitrogen, yang langsung melonjak seiring kekhawatiran terganggunya jalur distribusi melalui Selat Hormuz.
Menurut laporan Farmdoc yang mengutip analis StoneX, harga urea di pelabuhan New Orleans melonjak ke kisaran US$520–US$550 per ton, dari rata-rata US$475 per ton pada pekan sebelumnya.
Kenaikan sekitar US$70 per ton ini dipicu oleh kekhawatiran distribusi pupuk dari kawasan Timur Tengah, mengingat sekitar seperempat perdagangan nitrogen global melewati Selat Hormuz.
Lonjakan biaya input pertanian di awal musim tanam belahan bumi utara ini langsung berdampak pada pergerakan harga sejumlah komoditas pangan.
Data Trading Economics per awal Maret 2026 mencatat lima komoditas dengan kenaikan mingguan tertinggi.
Susu memimpin dengan kenaikan 10,92 persen secara mingguan, diperdagangkan di level US$16,56 per hundredweight.
Jus jeruk menyusul dengan lonjakan 8,71 persen dalam sepekan hingga menyentuh 194 sen per pon, bahkan melonjak lebih dari 21 persen dalam sebulan.
Beras ikut bergerak naik 4,47 persen secara mingguan ke posisi US$10,39 per cwt, memanfaatkan ruang rebound setelah koreksi panjang beberapa bulan terakhir.
Wol mencatat kenaikan 4,37 persen ke level 1.767 dolar Australia per 100 kilogram, dengan kenaikan tahunan yang bahkan telah melampaui 44 persen.
Minyak sawit menutup daftar dengan lonjakan 3,58 persen didukung kenaikan harga minyak mentah dan depresiasi ringgit Malaysia.
Pergerakan serentak berbagai komoditas ini memperlihatkan bagaimana satu titik gangguan geopolitik mampu menjalar cepat ke seluruh ekosistem pangan dunia.
Ketika biaya pupuk dan energi naik bersamaan di awal musim tanam, volatilitas harga komoditas pertanian diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Editor : Lugas Rumpakaadi