Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Perak Dunia Melonjak 1,3% ke USD 83,07 per Ons, Konflik AS-Iran dan Dolar Melemah Jadi Pendorong

Ali Sodiqin • Kamis, 5 Maret 2026 | 09:30 WIB

Ilustrasi perak murni batangan.
Ilustrasi perak murni batangan.

RADARBANYUWANGI.ID - Harga perak dunia bangkit tajam pada perdagangan Rabu setelah tekanan besar sehari sebelumnya.

Ketegangan geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta pelemahan dolar AS menjadi katalis utama penguatan logam mulia tersebut.

Pada Kamis (5/3/2026), harga perak spot tercatat naik 1,3% menjadi USD 83,07 per ons.

Kenaikan ini terjadi setelah perak sempat anjlok lebih dari 8% pada sesi perdagangan sebelumnya, mencerminkan volatilitas tinggi di pasar logam mulia.

Penguatan harga perak terjadi seiring dengan rebound harga emas dan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah memanasnya situasi global.

Konflik AS-Iran Picu Lonjakan Safe Haven

Ketegangan geopolitik meningkat tajam menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Laporan menyebutkan sebuah kapal selam militer AS menenggelamkan kapal perang Iran di perairan dekat Sri Lanka.

Di sisi lain, sistem pertahanan udara NATO dilaporkan berhasil menghancurkan rudal balistik Iran yang diarahkan ke Turki.

Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar global dan mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap aman, termasuk emas dan perak.

Meski dikenal sebagai logam industri, perak juga memiliki karakteristik sebagai aset lindung nilai.

Dalam situasi ketidakpastian tinggi, investor cenderung memborong logam mulia untuk menjaga nilai portofolio mereka.

Pelemahan Dolar Dorong Daya Tarik Perak

Selain faktor geopolitik, pergerakan perak juga dipengaruhi oleh dinamika mata uang. Dolar AS yang sebelumnya menguat tajam kini mengalami koreksi.

Menurut analis di Zaner Metals, pelemahan dolar memberikan ruang penguatan bagi logam mulia, termasuk perak, karena harga menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

Dolar yang lebih lemah meningkatkan daya beli investor global terhadap komoditas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS. Kondisi ini kerap menjadi pemicu reli lanjutan di pasar logam mulia.

Investor Cermati Data Tenaga Kerja AS

Selain isu geopolitik, pasar juga menantikan data ekonomi Amerika Serikat, terutama laporan ketenagakerjaan resmi yang akan dirilis Jumat.

Berdasarkan survei Reuters, nonfarm payrolls diperkirakan hanya bertambah sekitar 59.000 pekerjaan pada Februari, lebih rendah dibandingkan kenaikan 130.000 pada Januari.

Jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan ekonomi, ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter bisa meningkat.

Situasi tersebut berpotensi menjadi sentimen positif tambahan bagi logam mulia seperti perak.

Prospek Perak: Kombinasi Safe Haven dan Logam Industri

Berbeda dengan emas yang murni berfungsi sebagai aset lindung nilai, perak memiliki dua peran sekaligus: sebagai safe haven dan bahan baku industri, termasuk sektor elektronik, energi surya, dan otomotif.

Dalam jangka pendek, arah harga perak masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik global dan pergerakan dolar AS.

Namun dalam jangka menengah, prospek permintaan industri juga berpotensi menjadi faktor penopang tambahan.

Dengan volatilitas yang masih tinggi, analis memperkirakan harga perak akan bergerak fluktuatif.

Jika ketegangan geopolitik terus berlanjut dan dolar tetap melemah, peluang penguatan lanjutan tetap terbuka lebar.

Bagi investor, momentum ini menjadi pengingat bahwa perak bukan hanya alternatif emas, tetapi juga instrumen strategis yang sensitif terhadap dinamika global dan siklus ekonomi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#dolar as melemah #harga perak dunia hari ini #Investasi Perak #harga logam mulia #harga perak spot 5 Maret 2026 #konflik AS Iran