Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Emas Dunia Naik 0,7% ke USD 5.120,71 per Ons, Konflik AS-Iran Picu Aksi Borong Safe Haven

Ali Sodiqin • Kamis, 5 Maret 2026 | 08:30 WIB

Desakan pemulangan emas Jerman dari AS menguat.
Desakan pemulangan emas Jerman dari AS menguat.

RADARBANYUWANGI.ID - Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu setelah konflik di Timur Tengah semakin memanas.

Ketegangan geopolitik tersebut mendorong investor memburu emas sebagai aset safe haven atau pelindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Pada Kamis (5/3/2026), harga emas spot tercatat naik sekitar 0,7% menjadi USD 5.120,71 per ons.

Kenaikan ini terjadi setelah sehari sebelumnya logam mulia tersebut sempat merosot lebih dari 4% pada perdagangan Selasa.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April ditutup menguat 0,2% ke level USD 5.134,70 per ons.

Dolar Melemah, Emas Menguat

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga emas.

“Dolar mengalami koreksi sehingga memberikan dukungan bagi harga emas. Secara keseluruhan, faktor fundamental makro masih sangat mendukung emas. Selama perang dengan Iran masih berlangsung, kondisi tersebut juga akan tetap menopang harga emas,” ujarnya.

Dolar AS sebelumnya sempat melonjak tajam pada perdagangan Selasa. Namun, koreksi yang terjadi membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor pemegang mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan.

Grant menambahkan volatilitas pasar masih berpotensi berlanjut di tengah situasi global yang belum stabil.

“Ada risiko volatilitas akan terus berlanjut. Namun saya tetap optimistis dan yakin kita akan melihat harga emas mencapai rekor tertinggi baru,” katanya.

Perang AS-Iran Dorong Lonjakan Safe Haven

Ketegangan geopolitik meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran meluas.

Laporan menyebutkan sebuah kapal selam militer AS menenggelamkan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka yang menewaskan sedikitnya 80 orang.

Di sisi lain, sistem pertahanan udara NATO berhasil menghancurkan rudal balistik Iran yang diluncurkan menuju Turki.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar global dan mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap aman, seperti emas.

Sebagai aset non-yielding atau tidak memberikan imbal hasil, emas kerap menjadi pilihan utama saat risiko geopolitik meningkat atau ketika prospek ekonomi memburuk.

Logam mulia ini juga sering digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi, terutama saat suku bunga rendah.

Investor Menanti Data Tenaga Kerja AS

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati data ekonomi Amerika Serikat, khususnya sektor ketenagakerjaan.

Laporan ketenagakerjaan nasional dari ADP menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Februari. Namun, data bulan sebelumnya direvisi turun cukup tajam.

Investor kini menanti laporan resmi ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat.

Berdasarkan survei Reuters terhadap para ekonom, nonfarm payrolls diperkirakan bertambah sekitar 59.000 pekerjaan pada Februari, setelah sebelumnya naik 130.000 pada Januari.

Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS dan pergerakan dolar ke depan, yang pada akhirnya memengaruhi harga emas global.

Logam Mulia Lain Ikut Menguat

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada emas. Sejumlah logam mulia lain juga mencatat penguatan signifikan.

Harga perak spot naik 1,3% menjadi USD 83,07 per ons, setelah sebelumnya sempat turun lebih dari 8% pada sesi sebelumnya.

Sementara itu, platinum spot melonjak 2,8% menjadi USD 2.141,71 per ons. Palladium juga menguat 1,2% ke level USD 1.667,51 per ons.

World Platinum Investment Council menyebut pasar platinum global diperkirakan akan mengalami defisit untuk tahun keempat berturut-turut pada 2026.

Kondisi ini berpotensi menopang harga platinum dalam jangka menengah hingga panjang.

Prospek Harga Emas ke Depan

Dengan kombinasi ketegangan geopolitik, volatilitas dolar, serta ketidakpastian ekonomi global, emas diperkirakan masih memiliki ruang penguatan dalam waktu dekat.

Namun, pelaku pasar tetap disarankan mencermati perkembangan konflik internasional serta data ekonomi utama AS yang dapat memicu pergerakan harga secara signifikan.

Jika ketegangan antara AS dan Iran terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi baru dalam beberapa waktu ke depan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#harga emas berjangka AS #harga perak platinum palladium #harga emas dunia hari ini #safe haven #konflik AS Iran #harga emas spot 5 Maret 2026