RADARBANYUWANGI.ID – Menjelang Idul Fitri yang tahun ini berbarengan dengan musim tanam, para penyedia jasa bajak sawah di Banyuwangi ketiban berkah. Permintaan membajak lahan meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Fenomena itu dirasakan langsung oleh Sumardi, 57, warga Desa Kebaman, Kecamatan Srono. Setiap memasuki musim tanam, ia selalu kebanjiran pesanan dari petani di kampungnya.
“Kalau sudah musim tanam seperti ini, pasti ramai. Apalagi sekarang mau Lebaran, banyak yang ingin sawahnya cepat selesai dibajak,” ujarnya.
Sehari Bisa Garap Hingga Satu Hektare
Sumardi menuturkan, dalam sehari dirinya mampu membajak lahan mulai seperempat hektare hingga dua hektare, tergantung kondisi tanah dan cuaca. Namun rata-rata, satu hektare bisa diselesaikan dalam sehari kerja.
“Kerja satu hari saja sudah bisa menyelesaikan satu hektare,” katanya.
Untuk setiap seperempat hektare lahan, ia menerima upah sekitar Rp 300 ribu. Jika dalam sehari mampu menggarap satu hektare, penghasilannya tentu cukup menjanjikan.
“Untuk tiap seperempat hektare kami menerima upah sekitar Rp 300 ribu,” jelasnya.
Di wilayah Desa Kebaman sendiri, terdapat sekitar 15 hektare lahan persawahan yang dikelola warga. Saat musim tanam tiba, hampir seluruh lahan tersebut harus dipersiapkan secara bersamaan.
Bayar Setelah Panen, Jaga Silaturahmi
Menariknya, sistem pembayaran jasa bajak sawah di kampung tersebut cukup fleksibel. Mayoritas petani membayar setelah pekerjaan selesai.
Namun jika kondisi keuangan belum memungkinkan, pembayaran bisa dilakukan setelah masa panen.
“Biasanya dibayar setelah selesai. Tapi kalau belum ada rezeki, bisa dibayar nanti setelah padinya panen,” ujar Sumardi.
Menurutnya, sistem tersebut sudah menjadi kebiasaan turun-temurun di kalangan petani. Selain meringankan beban petani, pola ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga.
Ia mengaku tidak khawatir meski pembayaran dilakukan belakangan. Kepercayaan menjadi modal utama dalam hubungan antara petani dan penyedia jasa bajak sawah.
Air Melimpah, Petani Berebut Jadwal
Beberapa hari terakhir, hujan rutin mengguyur wilayah Srono dan sekitarnya. Ketersediaan air yang melimpah membuat petani semakin bersemangat memulai musim tanam.
Kondisi ini berdampak langsung pada lonjakan permintaan jasa bajak sawah. Banyak petani bahkan berebut jadwal agar lahannya segera diolah sebelum Lebaran.
“Apalagi ini mendekati hari raya. Banyak petani yang ingin lahannya segera dibajak agar bisa tanam sebelum Lebaran,” pungkasnya.
Momentum musim tanam yang bertepatan dengan persiapan Idul Fitri menjadi berkah tersendiri bagi para penyedia jasa pertanian.
Di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga jelang Lebaran, tambahan penghasilan dari membajak sawah menjadi penopang ekonomi keluarga.
Bagi Sumardi dan rekan-rekannya, musim tanam bukan hanya soal mengolah tanah, tetapi juga tentang menjaga tradisi gotong royong dan kepercayaan yang telah lama tumbuh di lingkungan pedesaan Banyuwangi. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin