Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ramadan 2026 Berkah Pedagang Blewah dan Krai di Banyuwangi, Penjualan Naik Tiga Kali Lipat

Salis Ali Muhyidin • Jumat, 20 Februari 2026 | 08:30 WIB
MUSIMAN: Salah satu pedagang blewah melayani pembeli di Jalan Wahid Hasyim, Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, Kamis (19/2).
MUSIMAN: Salah satu pedagang blewah melayani pembeli di Jalan Wahid Hasyim, Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, Kamis (19/2).

RADARBANYUWANGI.ID – Bulan suci Ramadan membawa berkah tersendiri bagi pedagang buah blewah dan krai di Banyuwangi. Dua komoditas yang identik dengan minuman segar berbuka puasa itu mengalami lonjakan permintaan signifikan sejak awal Ramadan.

Di sejumlah pasar dan lapak pinggir jalan, blewah dan krai menjadi buruan warga untuk bahan es buah, es blewah, hingga campuran minuman segar lainnya. Kondisi ini membuat omzet pedagang meningkat tajam dibanding hari biasa.

Salah satu pedagang, Nur Ismi, 42, yang berjualan di Jalan Wahid Hasyim, Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, mengaku penjualan blewah naik hampir tiga kali lipat selama Ramadan.

“Dalam sehari buah blewah yang terjual bisa mencapai 30 sampai 50 kilogram (kg). Tapi ya seperti ini di bulan Ramadan saja,” ujarnya, Kamis (19/2).

Photo
Photo

Stok Dipesan Sejak Jauh Hari

Menurut Nur Ismi, lonjakan permintaan sudah diprediksi sejak jauh hari. Ia pun memesan stok blewah kepada petani langganannya di Lamongan beberapa pekan sebelum Ramadan tiba.

“Selain Ramadan buah blewah relatif sulit dicari. Untuk stok harus rebutan dengan pedagang lain, makanya jauh-jauh hari harus sudah pesan ke petani,” tuturnya.

Ia menyebut, blewah memang buah musiman yang sangat identik dengan Ramadan. Permintaan tinggi membuat pedagang harus sigap mengamankan pasokan agar tidak kehabisan stok di tengah bulan puasa.

Saat ini, blewah dijual dengan harga Rp 10 ribu per kilogram. Harga tersebut relatif stabil sejak Ramadan tahun sebelumnya.

“Dulu pernah Rp 12 ribu, tapi kemudian turun jadi Rp 10 ribu per kilogram,” paparnya.

Dengan penjualan yang meningkat, Nur Ismi mengaku mampu meraup omzet harian sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding hari biasa di luar Ramadan.

Favorit untuk Menu Buka Puasa

Blewah dan krai banyak diminati karena rasanya yang manis dan segar. Teksturnya yang lembut serta kandungan air yang tinggi membuat kedua buah ini cocok dijadikan minuman pelepas dahaga setelah seharian berpuasa.

“Banyak warga yang mencari blewah untuk minuman buka puasa,” jelas warga Dusun Kopen, Desa Gentengkulon itu.

Tak hanya dijual dalam bentuk utuh, sebagian pedagang juga mengupas dan memotong blewah agar lebih praktis bagi pembeli. Strategi tersebut dinilai efektif menarik minat konsumen yang ingin serba cepat dan praktis.

Krai pun tak kalah laris. Buah yang masih satu keluarga dengan timun itu kerap dijadikan campuran es buah atau es campur. Permintaan krai biasanya meningkat seiring mendekati waktu berbuka.

Harapan Panen Untung Selama Ramadan

Dengan tingginya permintaan, para pedagang berharap musim blewah dan krai tahun ini membawa keuntungan lebih besar. Mereka berupaya menjaga kualitas buah agar tetap segar serta memastikan ketersediaan stok hingga akhir Ramadan.

Beberapa pedagang bahkan menambah jumlah pasokan setiap pekan untuk mengantisipasi lonjakan pembeli menjelang akhir pekan dan mendekati Lebaran.

Ramadan memang selalu menjadi momentum peningkatan konsumsi buah segar di Banyuwangi. Selain blewah dan krai, sejumlah buah lain seperti semangka dan melon juga ikut terdongkrak penjualannya.

Bagi pedagang kecil, momen Ramadan menjadi kesempatan emas untuk menambah pemasukan. Selama mampu menjaga kualitas dan harga tetap bersaing, peluang meraup untung masih terbuka lebar hingga penghujung bulan suci. (sas/sgt)

 

Editor : Ali Sodiqin
#berkah ramadan #menu buka puasa #Pedagang Blewah #Kuliner #banyuwangi