Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jelang Ramadan 2026, Penjual Bunga Tabur di TPU Sempu Banyuwangi Raup Untung hingga Rp 300 Ribu per Hari

Salis Ali Muhyidin • Rabu, 18 Februari 2026 | 08:00 WIB

UNTUNG: Pedagang bunga di sekitar tempat pemakaman umum meraup untung jelang Ramadan.
UNTUNG: Pedagang bunga di sekitar tempat pemakaman umum meraup untung jelang Ramadan.

RADARBANYUWANGI.ID – Tradisi ziarah makam menjelang bulan suci Ramadan membawa berkah tersendiri bagi pedagang bunga tabur di Banyuwangi.

Momentum tahunan ini dimanfaatkan para pedagang musiman untuk meraup keuntungan hingga ratusan ribu rupiah per hari.

Seperti yang terlihat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Krajan, Desa Sempu, Kecamatan Sempu, Selasa (17/2).

Sejak pagi, lapak-lapak sederhana berjajar di pinggir jalan menuju area makam. Mayoritas penjual adalah ibu-ibu yang biasanya berjualan sayur di pasar tradisional.

Menjelang Ramadan, mereka beralih profesi sementara menjadi pedagang bunga tabur untuk melayani warga yang hendak berziarah ke makam keluarga.

“Baru mulai hari ini (kemarin) berjualan. Kemarin (Senin, 16/2) masih belum dapat bunga,” ujar Riyatun, 55, salah satu penjual bunga di lokasi tersebut.

Jualan Sejak Puluhan Tahun

Riyatun mengaku sudah puluhan tahun berjualan bunga tabur, terutama saat momentum menjelang Ramadan dan Kamis Manis. Tradisi itu ia jalani sejak kecil.

“Dulu awalnya ikut orang tua, kemudian kakak, sampai akhirnya jualan sendiri. Untuk menyediakan warga yang mau ziarah ke makam keluarganya,” tuturnya.

Ia menyediakan berbagai jenis bunga tabur, mulai tumpak sewu, pacar air, kenanga, hingga mawar.

Sebagian bunga dipetik dari tanaman miliknya sendiri. Namun, sebagian besar kini harus didatangkan dari luar daerah.

“Sekarang sudah tidak banyak yang menanam bunga di sini. Saya harus beli bunga dari Bali,” akunya.

Pasokan dari Bali dan Jember

Hal serupa diungkapkan Ma’in, 45, pedagang lainnya. Ia mengaku kesulitan mendapatkan bunga dari wilayah sekitar, sehingga harus mendatangkan pasokan dari Jember.

“Kalau saya ambil dari Jember. Di sini sudah sulit,” katanya.

Untuk satu kantong kresek besar berisi bunga tabur, Ma’in harus merogoh kocek Rp 150 ribu. Dalam sekali pengiriman, biasanya ia membeli tiga kantong sekaligus.

Menurut dia, bunga harus segera terjual karena sifatnya mudah layu. Pembeli pun cenderung memilih bunga yang masih segar dan harum.

“Itu harus segera laku. Kalau tidak, bunganya bisa layu. Pembeli pasti cari yang masih segar,” tandasnya.

Bisa Untung Rp 300 Ribu Sehari

Meski harus mengeluarkan modal cukup besar, momentum jelang Ramadan menjadi peluang emas. Dalam sehari, Ma’in mengaku bisa meraup keuntungan hingga Rp 300 ribu.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding hari biasa. Tradisi nyekar atau ziarah makam menjelang Ramadan memang masih kuat di tengah masyarakat Banyuwangi.

Biasanya, warga datang bersama keluarga untuk mendoakan leluhur sekaligus membersihkan area makam.

Lonjakan pembeli biasanya terjadi dua hingga tiga hari sebelum Ramadan tiba. Lapak-lapak dadakan pun bermunculan di sekitar TPU untuk memenuhi kebutuhan peziarah.

Tradisi yang Terus Terjaga

Bagi warga, ziarah makam bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penghormatan kepada orang tua dan keluarga yang telah berpulang.

Sementara bagi pedagang bunga tabur, tradisi tersebut menjadi sumber penghasilan tambahan yang cukup signifikan.

Meski persaingan semakin ketat dan pasokan bunga harus didatangkan dari luar daerah, para pedagang tetap optimistis setiap Ramadan tiba.

“Alhamdulillah, setiap tahun pasti ada saja rezekinya,” ujar Riyatun sambil merapikan kantong-kantong bunga dagangannya.

Momentum religius ini pun menjadi bukti bahwa perputaran ekonomi kecil tetap hidup berkat tradisi yang terus dijaga masyarakat. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#ziarah kubur #jelang ramadan #Bunga Tabur #banyuwangi