Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Emas Berpotensi Turun ke Rp2,26 Juta per Gram pada Kuartal I 2026, Ini Analisis Penyebabnya

Ali Sodiqin • Senin, 16 Februari 2026 | 20:41 WIB

ILUSTRASI emas batangan.
ILUSTRASI emas batangan.

RADARBANYUWANGI.ID - Harga emas yang sempat menyentuh level tinggi di kisaran Rp2,44 juta per gram berpotensi mengalami koreksi pada kuartal pertama 2026.

Berdasarkan analisis pasar terbaru, logam mulia diperkirakan bisa turun hingga Rp2,26 juta per gram akibat aksi ambil untung (profit taking) serta sejumlah faktor eksternal.

Meski demikian, proyeksi jangka panjang masih menunjukkan tren bullish.

Setelah fase koreksi, harga emas diprediksi kembali menguat dan berpeluang menembus kisaran Rp2,5 juta hingga Rp2,7 juta per gram pada 2026.

Analis menilai koreksi ini tergolong wajar setelah reli panjang yang terjadi sepanjang 2025.

Lonjakan harga yang cepat biasanya diikuti fase konsolidasi sebagai bentuk penyesuaian pasar.

Aksi Ambil Untung Jadi Pemicu Utama

Salah satu faktor utama potensi penurunan harga emas adalah aksi ambil untung investor.

Setelah harga melonjak tajam hingga menembus Rp2,4 juta per gram, banyak investor memilih merealisasikan keuntungan.

Fenomena profit taking lazim terjadi ketika harga mencapai level psikologis baru. Tekanan jual meningkat, sehingga harga terkoreksi dalam jangka pendek.

“Setelah kenaikan signifikan, pasar biasanya butuh jeda. Investor mengunci keuntungan, sehingga harga terkoreksi sementara,” ujar MS Muntoha, salah satu analis komoditas.

Koreksi ini umumnya bersifat teknikal dan tidak selalu mengubah tren jangka panjang.

Penguatan Rupiah Tekan Harga Emas Domestik

Selain faktor global, harga emas di Indonesia sangat dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Jika rupiah menguat drastis, harga emas domestik berpotensi turun meskipun harga emas dunia stabil.

Sebagai informasi, harga emas global diperdagangkan dalam dolar AS. Ketika rupiah menguat, harga emas dalam negeri menjadi relatif lebih murah.

Kondisi ini membuat pergerakan kurs menjadi variabel penting bagi investor emas di Indonesia.

Bahkan dalam beberapa kasus, penguatan rupiah bisa mengimbangi kenaikan harga emas global.

Kebijakan The Fed dan Penguatan Dolar AS

Faktor berikutnya adalah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

Jika The Fed menahan atau memperlambat pemangkasan suku bunga, dolar AS berpotensi menguat.

Penguatan dolar biasanya memberikan tekanan pada harga emas. Sebab, emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan global bisa menurun.

Sebaliknya, ketika suku bunga turun agresif, emas cenderung menguat karena biaya peluang (opportunity cost) memegang emas menjadi lebih rendah.

Analis menilai arah kebijakan moneter AS pada awal 2026 akan sangat menentukan dinamika harga emas global.

Meredanya Ketegangan Geopolitik

Emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven atau instrumen lindung nilai saat terjadi ketidakpastian global.

Ketika konflik geopolitik meningkat, permintaan emas melonjak karena investor mencari aset aman.

Namun jika ketegangan global mereda, daya tarik emas sebagai safe haven bisa berkurang. Penurunan permintaan ini berpotensi menekan harga dalam jangka pendek.

Dengan kata lain, stabilitas politik dan ekonomi global dapat menjadi faktor koreksi setelah periode ketidakpastian yang mendorong reli emas.

Tren Jangka Panjang Masih Bullish

Meski berpotensi terkoreksi ke Rp2,26 juta per gram pada kuartal I 2026, prospek jangka panjang emas masih positif.

Fundamental global seperti diversifikasi cadangan bank sentral, ketidakpastian ekonomi, dan inflasi jangka panjang tetap menjadi penopang harga.

Sejumlah proyeksi menempatkan emas tetap dalam tren naik secara keseluruhan pada 2026. Setelah fase koreksi, harga berpeluang kembali menguat ke kisaran Rp2,5 juta hingga Rp2,7 juta per gram.

Bagi investor, fase koreksi kerap dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi bertahap, terutama bagi yang berorientasi jangka panjang.

Dengan dinamika tersebut, pergerakan harga emas pada 2026 diprediksi tetap fluktuatif. Investor disarankan mencermati faktor global, nilai tukar rupiah, serta kebijakan moneter internasional sebelum mengambil keputusan investasi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#kuartal 1 2026 #Analisis harga emas #prediksi harga emas #harga emas #harga emas turun