RADARBANYUWANGI.ID - Prospek kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada 2026 diperkirakan semakin cerah.
Kenaikan harga emas dunia, stabilnya bisnis nikel, serta kontribusi bauksit diproyeksikan menjadi pendorong utama lonjakan laba perusahaan tambang pelat merah tersebut.
Sejumlah analis bahkan berani memasang rekomendasi positif terhadap saham ANTM dengan target harga lebih tinggi dibanding sebelumnya.
Kinerja Kuartal IV 2025 Moderat
Berdasarkan riset OCBC Sekuritas, Antam diprediksi mencetak laba bersih Rp1,3 triliun pada kuartal IV 2025 atau naik tipis 2,9 persen secara kuartalan.
Pendapatan juga meningkat 8,4 persen menjadi Rp14,1 triliun. Peningkatan ini didorong kenaikan rata-rata harga jual (ASP) emas yang melesat 21,8 persen.
Namun demikian, volume penjualan emas justru turun akibat kendala pasokan.
“Terdapat penurunan volume penjualan emas karena masalah pasokan,” tulis riset tersebut, Rabu (11/2/2026).
Dampak Gangguan Tambang Grasberg
Penjualan emas bulanan Antam sepanjang kuartal IV 2025 hanya mencapai 1,1 ton, turun dari kuartal sebelumnya 1,6 ton.
Kondisi ini dipicu force majeure penghentian operasional tambang Tambang Grasberg pada September 2025.
Akibatnya, sepanjang 2025 penjualan emas Antam hanya mencapai 37,4 ton, di bawah target perusahaan sekitar 40 ton.
Di sisi lain, produksi bijih nikel mencapai 16,1 juta ton dan dinilai masih sesuai ekspektasi pasar.
2026 Jadi Tahun Lonjakan Kinerja
Memasuki 2026, kinerja Antam diprediksi melonjak signifikan. OCBC Sekuritas memperkirakan laba bersih perseroan bisa menembus Rp11 triliun.
Pendapatan diproyeksikan melonjak 46 persen menjadi Rp125,9 triliun.
Optimisme ini didukung proyeksi harga emas global yang dinaikkan menjadi sekitar US$4.600 per ons dan US$4.500 per ons, serta pasokan dari Grasberg yang diperkirakan kembali normal mulai kuartal II 2026.
Kontribusi Nikel dan Bauksit
Tak hanya emas, bisnis nikel juga menjadi penopang kuat. Analis memperkirakan:
- ASP bijih nikel: US$56 per ton
- Harga feronikel: US$13.000 per ton
Sementara itu, dari bisnis bauksit, penjualan diproyeksikan mencapai 2 juta ton dengan ASP US$35 per ton.
Kombinasi tiga komoditas tersebut dipandang mampu menopang pertumbuhan pendapatan perusahaan secara agresif.
Rekomendasi Buy, Target Harga Naik
Atas dasar proyeksi tersebut, OCBC Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ANTM.
Target harga dinaikkan menjadi Rp5.000 per saham dari sebelumnya Rp4.150, mencerminkan price to earnings ratio (PER) sekitar 10,9 kali.
Dengan dukungan harga komoditas dan normalisasi pasokan, saham Antam diperkirakan menjadi salah satu emiten tambang paling prospektif pada 2026. (*)
Editor : Ali Sodiqin