Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Emas Dunia Tembus US$5.033 per Troy Ons, Menguat 2,32% Usai Inflasi AS Lebih Rendah dari Ekspektasi

Ali Sodiqin • Sabtu, 14 Februari 2026 | 14:30 WIB
Ilustrasi emas batangan.
Ilustrasi emas batangan.

RADARBANYUWANGI.ID - Harga emas dunia kembali bersinar. Logam mulia di pasar spot ditutup menguat sekaligus meneguhkan tren positif sepanjang pekan ini dengan bertahan di atas level psikologis US$5.000 per troy ons.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas spot ditutup di level US$5.033,6 per troy ons pada perdagangan Jumat (13/2/2026).

Posisi ini menguat 2,32% dalam sehari. Secara mingguan, harga emas dunia berhasil tumbuh 1,53%.

Penguatan signifikan ini terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar, sehingga memicu kembali harapan penurunan suku bunga oleh bank sentral AS.

Inflasi AS Melandai, Harapan Pemangkasan Suku Bunga Menguat

Data menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik 0,2% pada Januari, lebih rendah dibandingkan ekspektasi ekonom sebesar 0,3%. Angka tersebut juga lebih kecil dari inflasi 0,3% pada Desember 2025.

Angka inflasi yang lebih moderat ini langsung direspons positif oleh pasar emas. Pelaku pasar kini memperkirakan total penurunan suku bunga sebesar 63 basis poin sepanjang tahun ini, dengan pemangkasan pertama diproyeksikan terjadi pada Juli.

Ekspektasi tersebut mengarah pada kebijakan yang lebih longgar dari bank sentral AS, yakni Federal Reserve atau The Fed.

Sebagaimana diketahui, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

Oleh karena itu, logam mulia cenderung berkinerja lebih baik dalam era suku bunga rendah karena opportunity cost untuk memegang emas menjadi lebih kecil.

“Emas, dan khususnya perak, sedang menikmati reli pemulihan setelah angka IHK Januari yang moderat meredakan kekhawatiran yang dipicu oleh laporan ketenagakerjaan yang kuat pada hari Rabu,” ujar Tai Wong, pedagang logam independen, dikutip dari Refinitiv, Sabtu (14/2/2026).

Sempat Tersungkur ke Bawah US$5.000

Pergerakan harga emas sepanjang pekan ini terbilang volatil. Pada perdagangan Kamis (12/2/2026), harga emas bahkan sempat terlempar dari zona US$5.000.

Saat itu, harga logam mulia turun 3,13% ke posisi US$4.919,69 per troy ons. Penurunan tersebut dipicu oleh data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid.

Jumlah pekerjaan sektor nonpertanian meningkat 130.000 pada Januari. Sementara itu, tingkat pengangguran sedikit turun menjadi 4,3%.

Data tambahan menunjukkan klaim tunjangan pengangguran awal turun menjadi 227.000 pada pekan yang berakhir 7 Februari.

Kondisi pasar tenaga kerja yang tangguh memperkuat keyakinan Federal Reserve terhadap ketahanan ekonomi AS.

Situasi ini memberi ruang bagi pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama demi memastikan inflasi benar-benar terkendali.

Namun tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Begitu data inflasi keluar lebih rendah dari perkiraan, harga emas langsung bangkit dan kembali ke atas US$5.000 per troy ons.

Proyeksi ANZ: Emas Bisa Sentuh US$5.800

Optimisme terhadap emas juga datang dari kalangan analis. Bank investasi global ANZ menaikkan proyeksi harga emas kuartal kedua menjadi US$5.800 per troy ons. Sebelumnya, proyeksi berada di level US$5.400 per troy ons.

Revisi tersebut didasarkan pada meningkatnya daya tarik emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global dan potensi pelonggaran kebijakan moneter.

Kenaikan ini semakin mempertegas posisi emas sebagai instrumen lindung nilai (hedging) terhadap inflasi dan gejolak pasar keuangan.

Tren Bullish Masih Terjaga

Dengan kembali bertahannya harga di atas level psikologis US$5.000 per troy ons, emas kini dinilai memiliki fondasi kuat untuk melanjutkan tren bullish.

Faktor utama yang akan menjadi penentu arah harga selanjutnya adalah:

Jika ekspektasi penurunan suku bunga semakin menguat, emas berpotensi melanjutkan reli dan bahkan mendekati target proyeksi US$5.800 per troy ons.

Untuk saat ini, pasar tampaknya kembali menempatkan emas sebagai primadona di tengah kombinasi inflasi yang mulai melandai dan peluang kebijakan moneter yang lebih akomodatif. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#inflasi AS #penurunan suku bunga #harga emas dunia