RADARBANYUWANGI.ID – Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, suasana di sepanjang Jalan Letjen Sutoyo, Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi, tepatnya di kawasan TPU Setro Penganten, tampak berbeda dari biasanya.
Sejak Rabu (11/2), garis-garis putih penanda batas lapak pedagang takjil sudah mulai berderet rapi di sepanjang jalan tersebut.
Penataan ini menjadi tanda bahwa Pasar Takjil Ramadan Setro Penganten segera kembali digelar.
Pasar takjil yang berada di dekat kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Setro Penganten itu memang rutin diadakan setiap Ramadan dalam beberapa tahun terakhir. Antusiasme masyarakat, baik pedagang maupun pembeli, selalu tinggi.
300 UMKM Siap Ramaikan Ramadan
Tahun ini, tercatat sebanyak 300 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah mendaftar untuk membuka lapak di lokasi tersebut.
Lurah Tukang Kayu, Hotmada Tanjung, menjelaskan bahwa kegiatan pasar takjil ini sepenuhnya dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat tanpa campur tangan pihak luar.
“Acara takjil Ramadan ini pengelolaannya murni dari swadaya masyarakat,” ujarnya.
Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) pada Rabu (11/2), puluhan pelaku UMKM tampak mengantre di Kantor Kelurahan Tukang Kayu untuk mendapatkan nomor undian lapak.
Pembagian lapak dilakukan secara acak guna menjaga keadilan bagi seluruh peserta.
Menurut Tanjung, peserta yang mendaftar tidak hanya berasal dari Kelurahan Tukang Kayu, tetapi juga dari berbagai kecamatan lain di Banyuwangi, mulai dari Kecamatan Wongsorejo hingga Kecamatan Kalibaru.
Kontribusi untuk Santri dan Anak-Anak
Setiap pelapak dikenakan kontribusi sebesar Rp150 ribu. Namun, dana tersebut bukan untuk kepentingan komersial, melainkan dialokasikan sebagai bentuk apresiasi bagi para santri dan anak-anak yang akan tampil dalam rangkaian kegiatan Ramadan di lokasi tersebut.
“Uang itu nantinya diberikan kepada santri maupun anak-anak yang tampil mengaji, baik dalam bentuk voucher makanan maupun sertifikat sebagai bentuk penghargaan,” jelas Tanjung.
Dengan konsep ini, Pasar Takjil Setro Penganten tak hanya menjadi pusat ekonomi musiman, tetapi juga wadah pemberdayaan sosial dan pembinaan generasi muda selama Ramadan.
Koordinasi Lalu Lintas dan Perizinan
Kepanitiaan pasar takjil melibatkan unsur RT, RW, serta masyarakat Kelurahan Tukang Kayu.
Selain itu, pihak kelurahan juga berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) dan kepolisian terkait pengaturan lalu lintas dan perizinan selama kegiatan berlangsung.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kelancaran arus kendaraan dan keamanan pengunjung selama pasar takjil beroperasi dari awal hingga akhir Ramadan.
Pedagang Optimistis Omzet Naik
Bagi pelaku UMKM, Pasar Takjil Setro Penganten menjadi momentum penting untuk mendongkrak pendapatan.
Salah satu pedagang, Laily, 22, warga Kecamatan Rogojampi, mengaku telah dua tahun terakhir membuka lapak di lokasi tersebut.
Mahasiswi Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi itu menjual aneka jus buah. Ia menilai kawasan Setro Penganten cukup potensial karena selalu ramai pembeli menjelang waktu berbuka puasa.
“Saya sudah dua tahun ini selalu buka lapak di Setro Pengantin. Lumayan, pendapatan saya dari berjualan jus buah dalam sehari bisa tembus Rp200 ribu hingga Rp300 ribu,” ujarnya.
Sementara itu, Wanto, pedagang tahu walik asal Kelurahan Panderejo, mengaku baru pertama kali mendaftar berjualan di kawasan tersebut. Meski baru mencoba, ia optimistis bisa meraih hasil yang memuaskan.
“Ini baru pertama kali saya mendaftar jualan di Setro Pengantin. Mudah-mudahan nanti bisa mendapat omzet yang banyak,” ujarnya penuh harap.
Jadi Pusat Kuliner Ramadan
Dengan jumlah peserta mencapai 300 UMKM, Pasar Takjil Ramadan Setro Penganten diprediksi kembali menjadi salah satu pusat kuliner favorit masyarakat Banyuwangi selama bulan puasa.
Beragam menu takjil, mulai dari minuman segar, gorengan, jajanan tradisional, hingga makanan berat, siap memanjakan warga yang berburu hidangan berbuka puasa.
Keberadaan pasar takjil ini bukan hanya menggerakkan roda ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan tradisi Ramadan di Banyuwangi. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin