RADARBANYUWANGI.ID - Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (11/2/2026).
Logam mulia mencatat kenaikan moderat setelah data penjualan ritel Amerika Serikat memperkuat ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).
Mengutip laporan Bloomberg, harga emas diperdagangkan di level mendekati US$5.050 per ounce, setelah sempat melemah 0,6 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Penguatan ini menandai pemulihan lanjutan emas, setelah volatilitas tinggi yang terjadi sejak akhir Januari lalu.
Di pasar spot, harga emas tercatat naik 0,5 persen ke level US$5.051,89 per ounce pada pukul 07.23 pagi waktu Singapura.
Kenaikan ini menunjukkan kembali meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai, di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Perak Ikut Menguat, Dolar AS Cenderung Stabil
Tak hanya emas, harga perak juga bergerak naik pada perdagangan hari ini. Logam putih tersebut tercatat menguat 0,9 persen ke level US$81,5659 per ounce.
Kenaikan harga perak sejalan dengan pergerakan emas, yang sama-sama diuntungkan oleh melemahnya tekanan dari dolar AS.
Sementara itu, indeks Spot Dolar Bloomberg terpantau relatif stabil pada perdagangan Selasa.
Indeks tersebut hanya mengalami sedikit perubahan, setelah sebelumnya turun sekitar 1 persen dalam dua sesi perdagangan berturut-turut.
Pelemahan dolar AS turut menjadi faktor pendukung penguatan harga emas dan logam mulia lainnya.
Data Konsumen AS Perkuat Peluang Pemangkasan Suku Bunga
Sebagai informasi, pengeluaran konsumen Amerika Serikat secara tak terduga terhenti pada Desember 2025.
Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat AS terhadap biaya hidup yang terus membebani daya beli.
Data tersebut menjadi landasan penting bagi pasar menjelang rilis laporan ketenagakerjaan AS bulan Januari, yang tertunda dan sangat dinantikan pada hari ini.
Jika data ketenagakerjaan menunjukkan pelemahan, peluang The Fed untuk kembali memangkas suku bunga dinilai semakin terbuka.
Penurunan suku bunga umumnya memberikan dampak positif bagi emas. Pasalnya, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga lebih menarik ketika suku bunga berada pada level rendah atau mengalami penurunan.
Harga Emas Masih di Jalur Pemulihan
Sebelumnya, harga emas dunia sempat melonjak ke rekor tertinggi pada akhir Januari 2026, sebelum mengalami koreksi tajam dalam waktu singkat.
Sejak saat itu, harga emas perlahan kembali pulih dan telah berhasil menutup sekitar setengah dari kerugian sebelumnya.
Dalam sepekan terakhir, harga emas diperdagangkan relatif stabil di kisaran US$5.000 per ounce, mencerminkan konsolidasi pasar sembari menunggu kejelasan arah kebijakan moneter AS.
Ke depan, pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih akan fluktuatif, sangat bergantung pada rilis data ekonomi Amerika Serikat, pernyataan pejabat The Fed, serta dinamika geopolitik global.
Namun, prospek emas tetap dinilai positif selama ekspektasi penurunan suku bunga masih terjaga. (*)
Editor : Ali Sodiqin