RADARBANYUWANGI.ID – Harga cabai rawit di wilayah Purwoharjo, Banyuwangi, Jawa Timur, mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Dari sebelumnya berkisar Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram, kini harga cabai rawit di tingkat petani melonjak tajam hingga Rp65 ribu per kilogram, Senin (9/2).
Kenaikan harga tersebut sejatinya menjadi kabar baik bagi petani. Namun, di lapangan kondisi justru tidak sepenuhnya menggembirakan.
Banyak petani cabai rawit di Purwoharjo mengeluhkan serangan penyakit tanaman, salah satunya cacar buah, yang membuat hasil panen menurun drastis.
Salah satu petani asal Dusun Bloksolo, Desa Sumbersari, Kecamatan Purwoharjo, Sukayin, mengaku kenaikan harga cabai rawit saat ini tidak sebanding dengan kondisi tanaman di lahan.
“Harganya memang naik, tapi panenan banyak yang terkena cacar buah karena sering hujan,” kata Sukayin.
Biaya Perawatan Membengkak
Menurut Sukayin, intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir membuat tanaman cabai rawit rentan terserang penyakit. Akibatnya, petani harus mengeluarkan biaya perawatan yang tidak sedikit.
“Kalau sering hujan, biaya perawatan makin mahal. Untuk lahan seperempat hektare, biaya perawatan bisa mencapai Rp1 juta dalam sepekan,” jelasnya.
Biaya tersebut sebagian besar digunakan untuk membeli obat-obatan tanaman guna menekan penyebaran penyakit. Namun, meski perawatan sudah maksimal, hasil panen tetap tidak bisa optimal.
Sukayin menilai, kondisi seperti ini sudah menjadi siklus yang biasa dialami petani cabai. Ketika harga tinggi, produksi justru menurun karena berbagai kendala, terutama faktor cuaca.
“Kalau harganya mahal, biasanya panenan memang sedikit. Tapi kalau panenan bagus, harganya pasti murah,” ujarnya.
Harga Tinggi, Panen Jarang Ideal
Keluhan serupa juga disampaikan petani lain, Kasianto, 55. Ia mengatakan, sangat jarang terjadi kondisi di mana harga cabai tinggi dan panenan melimpah secara bersamaan.
“Kalau harga mahal dan tanamannya bagus, petani bisa langsung senang. Mungkin langsung bisa kredit sepeda motor,” kelakarnya.
Namun dalam kenyataannya, lanjut Kasianto, kenaikan harga cabai rawit sering kali justru menjadi indikator produksi yang menurun akibat serangan penyakit atau cuaca ekstrem.
Ia berharap ada pendampingan lebih intensif dari pihak terkait, terutama dalam hal pengendalian penyakit tanaman dan edukasi penggunaan obat yang tepat, agar petani tetap bisa merasakan keuntungan saat harga cabai sedang tinggi.
Kondisi ini kembali menunjukkan fluktuasi harga cabai rawit yang masih sangat dipengaruhi faktor cuaca dan kesehatan tanaman.
Meski harga di pasaran melonjak, petani di tingkat bawah belum tentu menikmati keuntungan maksimal akibat tingginya biaya produksi dan menurunnya hasil panen. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin