Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Banyuwangi Jadi Pemasok BBM Ramah Lingkungan, Pabrik Bioetanol 30 Ribu KL Dibangun di PG Glenmore

Ali Sodiqin • Minggu, 8 Februari 2026 | 06:00 WIB

Banyuwangi akan memiliki pabrik bioetanol berkapasitas 30 ribu KL per tahun di PG Glenmore, mendukung transisi energi dan serapan tebu petani.
Banyuwangi akan memiliki pabrik bioetanol berkapasitas 30 ribu KL per tahun di PG Glenmore, mendukung transisi energi dan serapan tebu petani.

RADARBANYUWANGI.ID - Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, bersiap menjadi salah satu daerah strategis pemasok bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan di Indonesia.

Hal ini ditandai dengan pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas produksi 30 ribu kilo liter (KL) per tahun yang akan berdiri di kawasan Pabrik Gula (PG) Glenmore, Banyuwangi.

Pabrik bioetanol tersebut merupakan bagian dari agenda besar transisi energi nasional.

Bioetanol yang dihasilkan akan menjadi bahan bakar bersih berbasis tebu, sekaligus mendukung bauran energi nasional dan program substitusi impor BBM.

Pabrik ini akan mentransformasi molase atau tetes tebu—yang selama ini merupakan produk sampingan industri gula—menjadi bioetanol sebagai sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut positif pembangunan pabrik bioetanol tersebut.

Menurutnya, kehadiran industri energi bersih di Banyuwangi akan memberikan kontribusi strategis, baik bagi ketahanan energi nasional maupun perekonomian daerah.

“Bioetanol merupakan energi bersih yang lebih ramah lingkungan. Pabrik ini akan berkontribusi pada pasokan energi bersih nasional,” ujar Ipuk, dilansir dari laman banyuwangikab.go.id, Sabtu (7/2/2026).

Ipuk menambahkan, keberadaan pabrik bioetanol ini juga akan memberikan dampak langsung bagi sektor pertanian, khususnya petani tebu di Banyuwangi dan sekitarnya.

Pasalnya, kebutuhan bahan baku bioetanol akan memaksimalkan serapan tebu petani.

“Tebu petani Banyuwangi dan daerah sekitar akan kian terserap maksimal. Selain untuk kebutuhan produksi gula, juga dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol,” kata Ipuk.

Pabrik bioetanol tersebut dibangun oleh PT Pertamina secara sinergis bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).

Proyek ini berdiri di atas lahan seluas 10 hektare di kawasan PG Glenmore.

Pembangunan pabrik ini merupakan bagian dari fase pertama program hilirisasi yang dijalankan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia.

Pembangunan fisik pabrik dijadwalkan mulai dilakukan pada Juni 2026, dengan estimasi waktu pengerjaan selama 24 bulan.

Proyek ini telah ditandai dengan pelaksanaan groundbreaking pada Jumat (6/2/2026).

Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis PT Pertamina, Agung Wicaksono, menjelaskan bahwa pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi ini diproyeksikan menghasilkan 30.000 kiloliter bioetanol per tahun dengan bahan baku utama berbasis tebu.

“Ini merupakan transformasi produk sampingan gula menjadi energi bersih. Dengan pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi, kita akan menghasilkan 30.000 kiloliter bioetanol per tahun yang akan mendorong swasembada energi melalui perekonomian rakyat,” ujarnya.

Menurut Agung, dengan kapasitas produksi tersebut, pabrik bioetanol di Banyuwangi diproyeksikan mampu mengurangi impor BBM hingga USD 13,9 juta atau setara Rp 233,52 miliar per tahun.

Selain itu, keberadaan pabrik ini juga berkontribusi signifikan terhadap pengurangan emisi karbon.

“Pabrik ini akan menekan impor BBM dan menurunkan emisi karbon. Melalui substitusi impor BBM senilai USD 13,9 juta, ketahanan energi akan tercapai.

Sementara melalui pengurangan emisi tahunan mencapai 66.000 ton CO2 ekuivalen, keberlanjutan lingkungan juga dapat diwujudkan,” jelas Agung.

Hasil produksi bioetanol dari pabrik ini nantinya akan dikirim ke Terminal BBM Pertamina.

Selanjutnya, bioetanol akan disalurkan ke pasar sebagai campuran BBM yang dijual melalui SPBU Pertamina di berbagai wilayah.

Agung menambahkan, sebelum pabrik bioetanol di Banyuwangi beroperasi penuh, Pertamina telah lebih dulu menyalurkan BBM ramah lingkungan Pertamax Green 95.

Produk ini memiliki kandungan etanol sebesar 5 persen dan telah dipasarkan melalui 177 SPBU Pertamina yang tersebar di Pulau Jawa.

“Melalui pabrik bioetanol di Banyuwangi ini, implementasi BBM berbasis etanol akan diperluas wilayahnya dan kandungan etanolnya juga akan ditingkatkan.

Dengan begitu, Indonesia akan sejajar dengan negara-negara besar yang telah menggunakan etanol sebagai bahan bakar bersih,” terang Agung.

Dari sisi hulu, Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi memastikan ketersediaan bahan baku molase untuk pabrik bioetanol sangat mencukupi.

Ia menegaskan, produksi molase dari jaringan pabrik gula SGN mampu menopang kebutuhan bahan baku jangka panjang.

“Dari sisi feed-stock aman. Kurang lebih untuk kapasitas 100 KLP itu dibutuhkan sekitar 120 ribu ton molase per tahun. Sementara produksi molase dari PT SGN secara total hampir 700 ribu ton. Saya kira cukup, apalagi nanti juga disupport dari lima pabrik gula di sekitar,” ungkap Mahmudi.

Dengan dibangunnya pabrik bioetanol di PG Glenmore, Banyuwangi tidak hanya memperkuat posisinya sebagai sentra agroindustri, tetapi juga menjadi bagian penting dari peta transisi energi bersih nasional berbasis ekonomi kerakyatan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#pabrik bioetanol #bbm ramah lingkungan #pg glenmore #banyuwangi