RADARBANYUWANGI.ID - Kehadiran becak listrik atau belis mulai mewarnai aktivitas transportasi tradisional di wilayah perkotaan Banyuwangi.
Sejak disalurkan kepada para tukang becak lansia, belis kini tampak berseliweran di sejumlah ruas jalan dan mangkal di beberapa titik strategis.
Namun, meski tidak lagi mengandalkan tenaga kayuh, pendapatan para pembecak masih belum menunjukkan perubahan berarti.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, Jumat (6/2), sejumlah becak listrik terlihat mangkal di kawasan Taman Sritanjung, Taman Blambangan, hingga depan Kantor Kecamatan Banyuwangi.
Para pembecak tampak duduk menunggu penumpang di atas becaknya. Kondisi ini tak jauh berbeda dengan becak konvensional yang masih banyak beroperasi berdampingan.
Meski sudah dibekali teknologi listrik, suasana mangkal terlihat relatif sepi penumpang. Minimnya minat masyarakat untuk menggunakan jasa becak menjadi tantangan tersendiri bagi para pengemudi belis.
Salah satu pembecak listrik, Jamal, yang mangkal di depan Kantor Kecamatan Banyuwangi, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran becak listrik.
Pria berusia 70 tahun asal Kelurahan Kertosari itu mengatakan, belis meringankan beban fisik yang selama ini menjadi tantangan utama bagi pembecak lanjut usia.
“Alhamdulillah, dengan becak listrik kerja nggak capek lagi. Kaki nggak pegal seperti dulu waktu harus ngontel,” ujar Jamal.
Menurut Jamal, pengoperasian becak listrik tidak jauh berbeda dengan becak konvensional. Ia tidak mengalami kendala berarti saat mulai mengendarainya.
“Sama saja seperti becak yang digayuh, nggak sulit. Tinggal biasakan saja,” tuturnya.
Namun, dari sisi pendapatan, Jamal mengaku belum merasakan dampak signifikan.
Penghasilan harian yang diperolehnya masih sama seperti sebelum menggunakan becak listrik.
“Saya narik dari pagi sampai sore, hasilnya masih sekitar Rp 30 ribu. Kadang Rp 50 ribu per hari,” ungkapnya.
Hal serupa dirasakan Hadri, pembecak listrik berusia 64 tahun yang juga mangkal di lokasi yang sama.
Ia menyebut becak listrik sangat membantu mengurangi kelelahan saat bekerja.
“Tidak perlu mengayuh lagi, jadi nggak capek seperti dulu,” ujarnya.
Meski begitu, Hadri menilai masih ada sejumlah kendala di lapangan. Salah satunya terkait tarif jasa becak.
Ia mengaku beberapa penumpang justru menawar lebih murah karena menganggap pembecak tidak lagi mengeluarkan tenaga besar.
“Pernah ngantar ke Pasar Karangrejo. Biasanya Rp 25 ribu, tapi penumpang cuma ngasih Rp 15 ribu. Alasannya karena pakai becak listrik, katanya nggak capek,” keluhnya.
Kendala lain yang dihadapi Hadri adalah masalah pengisian daya baterai. Saat baterai hampir habis, ia terpaksa pulang ke rumah untuk mengisi ulang.
“Kalau baterai mau habis, saya pulang dulu. Ngecas bisa sampai tujuh jam,” kata pria asal Kelurahan Tamanbaru tersebut.
Soal penghasilan, Hadri menyebut pendapatannya juga belum berubah.
“Masih sama, sekitar Rp 40 ribuan per hari,” jelasnya.
Ia juga menyoroti menurunnya minat masyarakat terhadap jasa becak secara umum.
Menurutnya, kehadiran ojek online dan kendaraan modern membuat becak semakin tersisih.
“Sekarang orang jarang naik becak. Kalah saing sama ojek online,” tuturnya.
Ke depan, Hadri berharap ada dukungan lanjutan dari pemerintah agar keberadaan becak listrik benar-benar berdampak pada kesejahteraan pembecak.
“Harapannya ada tempat cas di jalan dan aturan yang mendorong masyarakat mau naik becak,” ujarnya.
Sebagai informasi, sebanyak 200 unit becak listrik telah disalurkan kepada tukang becak kategori lansia di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Sabtu (24/1) lalu.
Bantuan tersebut disambut antusias oleh para penerima manfaat karena mereka tidak lagi harus menggenjot becak secara manual. Cukup dengan menekan starter, becak sudah bisa melaju.
Ratusan becak listrik tersebut merupakan bantuan pribadi Presiden Prabowo Subianto melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN).
Penyaluran dilakukan untuk meringankan beban kerja para pembecak sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan mereka.
Wakil Ketua GSN, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa bantuan becak listrik tersebut tidak bersumber dari anggaran negara.
“Becak listrik gratis ini tidak ada urusan dengan APBN. Ini bantuan pribadi Pak Presiden Prabowo melalui GSN,” ujarnya.
Nanik berharap penggunaan becak listrik dapat meningkatkan produktivitas para pembecak.
“Harapannya penghasilan bisa naik tiga sampai empat kali lipat dibanding sebelumnya dan pembecak tidak lagi kelelahan,” pungkasnya. (M Ksatria Raya/aif)