RADARBANYUWANGI.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimismenya terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dan beberapa tahun ke depan.
Dalam pandangannya, ekonomi nasional berpeluang tumbuh hingga 6 persen pada 2026 dan terus meningkat mendekati 7 persen, bahkan mencapai 8 persen pada 2029, apabila kebijakan fiskal dijalankan secara konsisten dan efektif.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat menjadi pembicara dalam acara Indonesia Economic Summit yang digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta.
Ia menilai kapasitas fiskal negara saat ini cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif dibandingkan periode sebelumnya.
Purbaya menegaskan bahwa ruang fiskal yang tersedia memungkinkan pemerintah mengakselerasi laju pertumbuhan ekonomi.
Ia menyebut dirinya memiliki sumber daya dan instrumen kebijakan yang memadai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level 6 persen hingga 7 persen.
Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen bukanlah sesuatu yang sulit dicapai.
Dengan pengelolaan anggaran yang tepat serta sinergi kebijakan, ekonomi nasional dinilai mampu bergerak lebih cepat dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Purbaya menekankan pentingnya keseimbangan peran antara sektor pemerintah dan sektor swasta.
Ia membandingkan pola pertumbuhan ekonomi pada dua era kepemimpinan nasional sebelumnya.
Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak digerakkan oleh sektor swasta.
Sementara itu, di era Presiden Joko Widodo, belanja pemerintah menjadi motor utama penggerak ekonomi nasional.
Ke depan, Purbaya berencana mengombinasikan kedua pendekatan tersebut.
Pemerintah akan tetap berperan aktif melalui belanja dan kebijakan fiskal, namun di saat yang sama mendorong partisipasi sektor swasta agar pertumbuhan ekonomi lebih optimal dan merata.
Purbaya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 6 persen pada tahun ini, meningkat menjadi 6,5 persen pada tahun berikutnya, dan terus mendekati 7 persen dalam beberapa tahun setelahnya.
Bahkan, ia menyebut pertumbuhan ekonomi berpotensi mencapai 8 persen pada 2029 apabila stabilitas ekonomi tetap terjaga dan kebijakan berjalan sesuai rencana.
Target tersebut mencerminkan keyakinan pemerintah terhadap fundamental ekonomi nasional, termasuk stabilitas fiskal, konsumsi domestik yang kuat, serta potensi investasi jangka panjang.
Salah satu dampak positif dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menurut Purbaya, adalah meningkatnya minat investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI).
Ia meyakini bahwa investor global akan datang dengan sendirinya ketika melihat kinerja ekonomi Indonesia yang solid dan konsisten.
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin secara aktif meminta investasi asing dalam kondisi ekonomi yang belum optimal.
Sebaliknya, fokus utama adalah menciptakan iklim ekonomi yang sehat dan tumbuh kuat.
Ketika pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 6 hingga 7 persen, daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi akan meningkat secara alami.
Stabilitas, kepastian kebijakan, dan pertumbuhan yang berkelanjutan menjadi faktor utama yang diperhitungkan investor global.
Selain mengejar angka pertumbuhan, Purbaya juga menekankan pentingnya kualitas pertumbuhan ekonomi.
Ia mengisyaratkan bahwa pertumbuhan yang tinggi harus diiringi dengan penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya beli masyarakat, serta pemerataan manfaat ekonomi.
Editor : Lugas Rumpakaadi