RADARBANYUWANGI.ID - Isu mengenai rencana penutupan Tokopedia dan penggantian layanan oleh TikTok Shop ramai diperbincangkan di media sosial.
Kabar tersebut memicu spekulasi luas di tengah masyarakat, terutama pelaku usaha dan pengguna setia platform e-commerce lokal tersebut.
Informasi awal mengenai isu ini pertama kali disampaikan oleh akun X (sebelumnya Twitter) @ecommurz, sebuah akun yang dikenal aktif membagikan kabar seputar dunia startup dan teknologi.
Dalam unggahannya pada Kamis (29/1/2026), akun tersebut menuliskan pernyataan berbahasa Inggris yang mengklaim berasal dari sumber internal Tokopedia, yang menyebut bahwa aplikasi Tokopedia akan dihentikan dan TikTok Shop akan berjalan melalui aplikasi terpisah.
Menanggapi kabar yang beredar, pihak TikTok tidak secara langsung mengonfirmasi maupun membantah rencana penutupan Tokopedia.
Juru bicara TikTok menegaskan bahwa perusahaan akan terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
“Kami terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia sebagai bagian dari strategi kami untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan,” ujar juru bicara TikTok pada Jumat (30/1/2026).
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa Tokopedia masih menjadi bagian penting dari strategi bisnis TikTok di Indonesia, khususnya setelah akuisisi mayoritas saham oleh induk usaha TikTok, ByteDance.
Isu penutupan Tokopedia mencuat tidak lama setelah adanya perubahan di jajaran manajemen.
Melissa Sisa Juminto, yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Tokopedia, dipindahkan ke posisi komisaris.
Melissa diketahui memimpin Tokopedia sejak awal pendirian perusahaan oleh William Tanuwijaya, yang kini tergabung dalam grup GoTo.
Sebagaimana diketahui, GoTo telah menjual 75 persen saham Tokopedia kepada ByteDance pada Januari 2024.
Pasca-akuisisi tersebut, perusahaan melakukan sejumlah langkah restrukturisasi.
Berdasarkan informasi yang diperoleh CNBC Indonesia, total sekitar 420 karyawan Tokopedia terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga Agustus 2025.
Rinciannya, sebanyak 180 karyawan terkena PHK pada Juli, disusul 240 karyawan pada Agustus.
Pemangkasan tenaga kerja ini mencakup berbagai divisi, mulai dari teknologi informasi (IT), layanan pelanggan (customer care), hingga tim pemenuhan pesanan dan pergudangan.
Di sisi lain, TikTok juga diterpa kabar mengenai pemberian insentif khusus kepada pedagang asal China yang berjualan di TikTok Shop.
Insentif tersebut disebut berupa subsidi iklan hingga 30 persen.
Namun, kebijakan serupa dikabarkan tidak diberikan kepada pedagang Indonesia, sehingga memunculkan kekhawatiran terkait persaingan yang tidak seimbang di ekosistem perdagangan digital.
Menurut data Sensor Tower, Tokopedia saat ini masih menjadi aplikasi ritel dengan jumlah unduhan terbesar ketiga di Indonesia.
Sementara itu, TikTok, yang dikategorikan sebagai aplikasi media sosial, tetap menjadi aplikasi dengan jumlah unduhan terbanyak di Tanah Air.
Menariknya, meskipun berstatus sebagai platform media sosial, TikTok mencatatkan nilai transaksi terbesar di Indonesia.
Dari sisi pendapatan, TikTok berada di posisi teratas, diikuti oleh Google One, Vidio, Facebook, dan CapCut.
Editor : Lugas Rumpakaadi