RADARBANYUWANGI.ID – Sejak lama Banyuwangi dikenal sebagai daerah dengan denyut kehidupan pertanian yang kuat.
Di tengah hamparan lahan yang subur, para petani terus beradaptasi, mencoba berbagai komoditas, serta mencari cara baru untuk meningkatkan hasil panen.
Dari proses panjang tersebut, lahirlah Kelompok Petani Buah Naga (Panaba) Banyuwangi yang kini mampu berkembang pesat berkat inovasi dan dukungan program Klasterku Hidupku dari BRI.
Klaster Petani Buah Naga Panaba dipimpin oleh Edy, seorang petani yang sejak awal melihat potensi buah naga sebagai komoditas unggulan di Banyuwangi.
Melihat peluang tersebut, Edy mengajak petani lain untuk membudidayakan buah naga secara bersama-sama agar memiliki kekuatan kolektif dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Klaster buah naga ini kami bentuk pada tahun 2016. Waktu itu, jumlah tanaman buah naga di Banyuwangi mulai banyak, tapi mulai muncul berbagai masalah, seperti serangan penyakit dan pasar yang menjadi over saat produksi meningkat,” kata Edy.
Menurutnya, kondisi tersebut mendorong para petani untuk membentuk Klaster Petani Buah Naga Panaba sebagai wadah untuk mencari solusi secara bersama-sama.
Dengan adanya klaster, petani tidak lagi bergerak sendiri-sendiri, melainkan saling berbagi informasi dan pengalaman.
“Makanya kami membentuk Klaster Petani Buah Naga (Panaba) untuk mengatasi masalah tersebut bersama teman-teman petani,” ujarnya.
Setelah klaster terbentuk, ruang diskusi dan kolaborasi antarpetani pun terbuka lebar. Klaster Panaba menjadi tempat bertukar pengetahuan terkait budidaya, pengendalian penyakit, hingga strategi pemasaran.
Selain itu, klaster juga berperan penting dalam menjaga stabilitas harga buah naga di tingkat petani.
Edy menjelaskan, klaster Panaba menetapkan pedoman harga yang harus dipatuhi oleh pedagang yang tergabung dalam klaster. Tujuannya untuk melindungi petani dari permainan harga, terutama saat panen raya.
“Pedagang yang ikut klaster mengikuti pedoman harga. Misalnya, kalau harga di pasar Rp 10 ribu, mereka membeli dari petani minimal Rp 7 ribu. Pedagang yang tidak ikut klaster biasanya memanfaatkan situasi dengan membeli lebih murah,” jelas Edy.
Untuk memastikan sistem tersebut berjalan, anggota klaster diberikan kode khusus dan panduan harga. Dengan demikian, petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat dan tidak mudah dirugikan.
Berkembang Lewat Program Klasterku Hidupku BRI
Seiring berkembangnya Klaster Panaba, kebutuhan akan dukungan yang lebih terarah semakin terasa, terutama dari sisi permodalan dan peningkatan kapasitas usaha.
Dalam proses itulah, Klaster Panaba kemudian mendapatkan pendampingan melalui Program Klasterku Hidupku yang diinisiasi oleh BRI sejak tahun 2017.
“Dengan pendampingan dari BRI, petani jadi lebih berani mengembangkan usaha. Apalagi kalau mau pakai teknologi, itu kan butuh modal besar. Kalau sendiri, berat,” ujar Edy.
Pendampingan yang diberikan BRI sejak awal difokuskan pada kebutuhan paling mendasar dalam budidaya buah naga, salah satunya pemanfaatan lampu.
Melalui inovasi tersebut, petani dapat mengatur siklus produksi buah naga agar tidak sepenuhnya bergantung pada musim.
Inovasi penggunaan lampu ini sebenarnya telah dikembangkan sejak 2013 dan menjadi salah satu kunci penting dalam meningkatkan konsistensi produksi serta kualitas panen buah naga di Banyuwangi.
Dengan teknologi tersebut, petani mampu memicu pembungaan buah naga di luar musim, sehingga pasokan tetap terjaga.
“Bentuk pemberdayaan dari BRI itu mendukung kegiatan-kegiatan klaster. Ada juga bantuan berupa pelatihan, seperti mendatangkan pakar supaya petani bisa belajar langsung,” kata Edy.
Selain pelatihan, BRI juga memberikan kemudahan akses permodalan bagi petani. Proses pengajuan pinjaman dibuat lebih sederhana dan disesuaikan dengan kondisi petani buah naga.
“Kalau petani sudah punya tanaman buah naga, proses pinjamannya tidak ribet dan tidak perlu agunan yang sulit,” imbuhnya.
Menurut Edy, rangkaian dukungan tersebut berdampak besar terhadap kepercayaan diri petani dalam mengembangkan usaha.
Petani merasa tidak berjalan sendiri dan memiliki mitra yang siap mendukung pertumbuhan usaha mereka.
“Dengan adanya pendampingan dari BRI ini, petani jadi lebih yakin dan lebih berani untuk mengembangkan usaha buah naganya,” ujarnya.
Dorong UMKM Naik Kelas
Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa Program Klasterku Hidupku dirancang sebagai pendekatan pemberdayaan untuk mendorong UMKM naik kelas, khususnya pelaku usaha di sektor produksi yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Melalui penguatan klaster, BRI tidak hanya menghubungkan pelaku usaha dengan akses permodalan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang mendorong kolaborasi, peningkatan skala produksi, serta penguatan daya saing di tingkat lokal.
“Dengan pendekatan ini, BRI berharap klaster usaha yang berhasil berkembang dapat menjadi referensi dan role model bagi UMKM di daerah lainnya,” ujar Akhmad.
Ia berharap kisah sukses Klaster Usaha Panaba di Banyuwangi dapat menjadi inspirasi yang dapat direplikasi oleh pelaku usaha di berbagai daerah di Indonesia.
“Semoga cerita inspiratif dari Klaster Usaha Panaba di Banyuwangi bisa menjadi kisah inspiratif yang dapat direplika oleh pelaku usaha di daerah lain,” tambahnya.
Berdasarkan data BRI, hingga akhir tahun 2025 tercatat sebanyak 42.682 Klaster Usaha telah dibina melalui Program Klasterku Hidupku.
Selain itu, BRI juga melaksanakan 3.001 kegiatan pemberdayaan yang mencakup pelatihan usaha serta dukungan sarana dan prasarana produksi.
Fokus pembinaan diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki daya ungkit tinggi terhadap perekonomian daerah, termasuk sektor pertanian seperti yang dijalankan Klaster Petani Buah Naga Panaba Banyuwangi. (*)
Editor : Ali Sodiqin