Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pasar Saham RI Bergejolak, Danantara Ungkap Alasan Saham Indonesia Menarik

Lugas Rumpakaadi • Selasa, 3 Februari 2026 | 08:15 WIB
Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025).

RADARBANYUWANGI.ID - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) memastikan akan menghadiri pertemuan antara PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Kehadiran Danantara dalam agenda strategis tersebut bersifat sebagai pendamping, tanpa terlibat langsung dalam proses diskusi bersama penyedia indeks global tersebut.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, menegaskan bahwa pihaknya hanya akan mengikuti jalannya pertemuan yang dipimpin oleh BEI.

Menurut Pandu, peran utama dalam dialog dengan MSCI sepenuhnya berada di tangan Bursa Efek Indonesia.

“Ya nanti kan saya hanya ngikutin saja, nonton saja di sini. Yang nanti meeting adalah IDX kok. Yang meeting IDX,” ujar Pandu saat ditemui di Gedung BEI Jakarta, Senin (2/2/2026), mengutip Antara.

Peran Danantara di Pasar Modal Indonesia

Lebih lanjut, Pandu menjelaskan bahwa Danantara Indonesia memposisikan diri sebagai pembeli (buyer) di pasar modal Indonesia.

Ia menilai saham-saham di Tanah Air memiliki daya tarik yang kuat, baik dari sisi fundamental ekonomi maupun valuasi.

Menurutnya, kondisi ekonomi nasional yang relatif solid turut mendukung prospek pasar saham Indonesia.

Selain itu, valuasi sejumlah saham dinilai masih menarik bagi investor institusional jangka panjang.

“Karena kami merasa saham-saham di Indonesia itu menarik karena ekonominya juga bagus dan saya merasa valuasinya juga sangat menarik,” jelas Pandu.

Ia juga menyoroti langkah cepat yang diambil oleh regulator dan Bursa dalam merespons dinamika pasar.

Beberapa laporan broker, kata Pandu, menilai kebijakan yang dikeluarkan otoritas pasar modal cukup sigap dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan investor.

Agenda Reformasi Pasar Modal dalam Pertemuan dengan MSCI

Pada Senin (2/2/2026) sore, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI dan Self-Regulatory Organization (SRO) menggelar pertemuan secara daring dengan MSCI.

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memaparkan rencana aksi reformasi pasar modal Indonesia.

Dalam agenda tersebut, OJK dan SRO menyampaikan sejumlah kebijakan strategis, antara lain peningkatan batas minimum kepemilikan saham publik (free float) emiten dari 7,5 persen menjadi 15 persen.

Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas serta kualitas pasar modal nasional.

Selain itu, otoritas juga mendorong peningkatan transparansi kepemilikan saham emiten, khususnya untuk porsi kepemilikan di bawah 5 persen.

Langkah lain yang turut dibahas adalah percepatan proses demutualisasi Bursa sebagai bagian dari penguatan tata kelola pasar modal Indonesia.

Kondisi Pergerakan IHSG

Di sisi lain, kinerja pasar saham pada perdagangan Senin menunjukkan tekanan yang cukup signifikan.

Hingga pukul 15.27 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 440,20 poin atau turun 5,28 persen ke level 7.889,40.

Frekuensi perdagangan saham mencapai 2.737.058 kali transaksi, dengan total volume saham yang diperdagangkan sebanyak 44,09 miliar lembar senilai Rp24,98 triliun.

Tercatat hanya 49 saham yang menguat, sementara 722 saham melemah dan 42 saham stagnan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Danantara