RADARBANYUWANGI.ID - Harga emas dan perak dunia mengalami kejatuhan tajam pada Jumat (30/1/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan Kevin Warsh sebagai kandidat kuat ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya.
Penunjukan ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS, sekaligus mendorong penguatan signifikan dolar Amerika Serikat.
Penurunan Harga Perak Terburuk dalam Puluhan Tahun
Melansir CNBC, Harga perak spot tercatat merosot sekitar 28% ke level USD 83,45 per ons, mendekati titik terendah harian.
Sementara itu, kontrak berjangka perak anjlok lebih dalam hingga 31,4% dan ditutup di USD 78,53 per ons.
Penurunan ini menjadi yang terburuk sejak Maret 1980, menandai tekanan luar biasa di pasar logam mulia.
Tekanan jual tidak hanya datang dari perubahan sentimen kebijakan moneter, tetapi juga dari aksi ambil untung investor jangka pendek.
Perak sebelumnya menjadi aset favorit para pedagang harian, sehingga posisi leverage yang tinggi memicu penjualan paksa dan margin call saat harga mulai jatuh.
Emas Turun dari Rekor Tertinggi
Harga emas juga tidak luput dari tekanan.
Emas spot turun sekitar 9% ke level USD 4.895,22 per ons, sedangkan emas berjangka melemah 11,4% dan ditutup di USD 4.745,10 per ons.
Koreksi ini terjadi setelah reli emas yang sangat kuat sepanjang 2025, di mana harga sempat mendekati ambang psikologis USD 5.000 per ons.
Para analis menilai bahwa reli emas sebelumnya berlangsung terlalu cepat dan mudah, sehingga koreksi tajam menjadi sulit dihindari ketika sentimen pasar berubah.
Dolar AS Menguat, Logam Mulia Kehilangan Daya Tarik
Salah satu faktor utama pelemahan emas dan perak adalah lonjakan nilai dolar AS.
Indeks dolar tercatat naik sekitar 0,8%, membuat harga logam mulia menjadi lebih mahal bagi investor global.
Kondisi ini sekaligus menggoyahkan narasi bahwa emas dan perak dapat sepenuhnya menggantikan dolar AS sebagai mata uang cadangan global.
Menurut Evercore ISI, pasar menilai Kevin Warsh sebagai figur yang relatif hawkish, sehingga berpotensi menstabilkan dolar dan menekan spekulasi pelemahan mata uang AS yang ekstrem.
Reaksi Pasar dan Risiko Whipsaw
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan agar pasar tidak berlebihan dalam menafsirkan sikap kebijakan Warsh.
Ia dinilai sebagai sosok pragmatis yang tetap menjunjung independensi bank sentral, bukan sekadar pendukung kebijakan moneter ketat.
Ketidakpastian ini membuka peluang terjadinya volatilitas lanjutan atau whipsaw di berbagai kelas aset, termasuk logam mulia, mata uang, dan pasar saham.
Dampak ke Saham dan ETF Perak
Gejolak di pasar logam mulia turut menyeret saham dan produk investasi terkait. Saham Coeur Mining tercatat turun 17%.
Sementara itu, ETF perak mengalami tekanan ekstrem, dengan ProShares Ultra Silver Fund anjlok lebih dari 62% dan iShares Silver Trust turun sekitar 31%, keduanya menuju hari terburuk sepanjang sejarah.
Prospek Jangka Menengah Tetap Dihantui Ketidakpastian Global
Meski terjadi koreksi tajam, sejumlah pelaku pasar menilai prospek jangka menengah emas masih didukung oleh ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan AS, serta kekhawatiran negara berkembang terhadap kepemilikan aset berbasis dolar.
Namun, dalam jangka pendek, pasar diperkirakan masih akan diwarnai penyesuaian posisi dan volatilitas tinggi.
Editor : Lugas Rumpakaadi