Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Potensi Kargo Udara Kediri Raya Menggeliat, Bandara Dhoho Jadi Tumpuan Tanaman dan Industri

Ali Sodiqin • Sabtu, 31 Januari 2026 | 12:30 WIB

Potensi kargo udara Kediri Raya terus tumbuh. Bandara Dhoho Kediri jadi tumpuan pengiriman tanaman dan kebutuhan industri ke berbagai daerah.
Potensi kargo udara Kediri Raya terus tumbuh. Bandara Dhoho Kediri jadi tumpuan pengiriman tanaman dan kebutuhan industri ke berbagai daerah.

RADARBANYUWANGI.ID - Potensi usaha kargo di wilayah Kediri Raya dinilai semakin menjanjikan.

Kehadiran Bandara Internasional Dhoho Kediri membuka peluang besar bagi pelaku usaha, khususnya di sektor tanaman hias, bibit perkebunan, hingga kebutuhan industri, untuk memanfaatkan jalur kargo udara yang lebih cepat dan efisien.

PIC DMK Cargo Kediri, Elka Dwi, mengungkapkan bahwa aktivitas pengiriman kargo dari Kediri Raya menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam kurun waktu tiga bulan, tercatat sudah terjadi sekitar 10 kali pengiriman kargo melalui Bandara Dhoho.

“Dalam tiga bulan ini sudah ada sekitar 10 kali pengiriman. Setiap pengiriman rata-rata bisa mencapai satu ton,” ujar Elka saat ditemui di kantornya, seperti dikutip dari Radar Kediri.

Menurutnya, komoditas yang paling dominan dalam pengiriman kargo udara dari Kediri Raya masih berasal dari sektor tanaman.

Hal ini tidak terlepas dari posisi Kediri yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra tanaman terbesar di Jawa Timur, baik tanaman hias, bibit perkebunan, maupun tanaman produktif lainnya.

Elka mencontohkan, beberapa pengiriman tanaman yang telah dilakukan melalui DMK Cargo Kediri antara lain anggrek lain sebanyak tiga koli dengan berat 129 kilogram tujuan Banjarmasin.

Selain itu, pada 23 Januari, bibit jati seberat 30 kilogram juga dikirim ke Palu, Sulawesi Tengah.

“Pada momen tahun baru lalu, kami juga mengirimkan bunga hias sebanyak empat koli dengan total berat 81 kilogram ke Ternate,” jelasnya.

Tak hanya sektor tanaman, kebutuhan industri mulai ikut memanfaatkan layanan kargo udara dari Bandara Dhoho Kediri.

Baru-baru ini, DMK Cargo Kediri menangani pengiriman spare part pabrik dengan berat mencapai 100 kilogram tujuan Jakarta.

“Hampir setiap minggu selalu ada pengiriman lewat Bandara Dhoho. Ini menandakan mulai tumbuhnya kepercayaan pelaku usaha terhadap layanan kargo udara di Kediri,” imbuh Elka.

Cakupan layanan kargo Kediri Raya tidak hanya melayani Kota dan Kabupaten Kediri, tetapi juga menjangkau wilayah sekitar seperti Nganjuk, Tulungagung, Jombang, hingga Trenggalek.

Wilayah eks Karesidenan Kediri tersebut dinilai memiliki potensi kargo yang sangat besar, terutama untuk komoditas tanaman.

Bahkan, menurut Elka, banyak sentra tanaman yang selama ini dikenal berasal dari Batu, Malang, ternyata sebagian besar pasokan awalnya berasal dari Kediri.

“Banyak pelanggan pecahan dari Batu justru datang langsung ke Kediri karena beli di sini lebih murah,” ungkapnya.

Meski potensinya besar, Elka mengakui bahwa pengiriman kargo dari sektor tanaman belum bisa dilakukan secara rutin.

Hal ini dipengaruhi oleh masa tanam dan kesiapan komoditas yang tidak selalu tersedia setiap waktu.

“Kadang kirim bulan ini, bulan depan belum tentu. Biasanya repeat order baru bisa dua bulan kemudian, tergantung panen dan kesiapan tanaman,” katanya.

Dari sisi biaya, pengiriman kargo udara melalui Bandara Dhoho Kediri dinilai cukup kompetitif.

Elka menyebut, ongkos kirim bisa lebih murah hingga 30 persen dibandingkan pengiriman melalui Bandara Juanda Surabaya.

Namun demikian, masih ada sejumlah tantangan yang dihadapi. Saat ini, sebagian besar pengiriman kargo udara dari Kediri masih harus transit di Jakarta, sehingga waktu pengiriman menjadi lebih panjang dan kurang ideal untuk barang yang bersifat mendesak.

“Kalau barang urgent, memang masih kurang cocok karena harus transit. Itu yang membuat pengiriman ke daerah lain jadi lebih lama,” jelasnya.

Selain persoalan rute, minimnya informasi juga menjadi kendala. Banyak pelaku usaha yang belum mengetahui keberadaan dan potensi layanan kargo udara di Bandara Dhoho Kediri, sehingga pengiriman melalui jalur darat masih mendominasi.

Padahal, menurut Elka, potensi kargo di Kediri Raya sangat beragam dan bisa terus dikembangkan.

Ia menilai optimalisasi gerbang kargo udara menjadi solusi utama ke depan. Harapannya, rute langsung ke kota-kota besar seperti Jakarta, Makassar, Denpasar, dan Banjarmasin dapat segera dibuka.

“Kalau hanya Jakarta saja seperti sekarang, kirim ke daerah lain jadi mahal karena banyak transit. Kalau ada rute langsung, tentu akan jauh lebih efisien,” ujarnya.

Selain pembukaan rute baru, Elka juga menyoroti pentingnya pengaturan jadwal penerbangan kargo.

Menurutnya, penerbangan sebaiknya dilakukan pada pagi atau siang hari agar lebih kompetitif.

“Kalau penerbangannya malam, akan sulit bersaing dengan Surabaya. Jadwal ini juga penting untuk mendukung ketepatan waktu pengiriman,” pungkasnya.

Dengan berbagai potensi dan tantangan tersebut, Bandara Dhoho Kediri diyakini memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai hub kargo udara di wilayah barat Jawa Timur, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi regional berbasis logistik dan industri. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Bandara Dhoho #kediri #kargo udara