RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah tantangan perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, serta ancaman krisis pangan global, sosok HM Arum Sabil, SH, SP, MKL tampil sebagai salah satu tokoh yang konsisten mendorong penguatan ketahanan pangan nasional dengan pendekatan inovatif dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut mengantarkan Arum Sabil meraih Sunrise of Java (SoJ) Award 2026 dari Jawa Pos Radar Banyuwangi.
Penghargaan ini diberikan atas peran aktifnya dalam mengembangkan pertanian modern yang berpihak pada petani, efisien secara teknologi, serta adaptif terhadap dinamika lingkungan dan sosial.
Green Farm Banyuwangi, Laboratorium Ketahanan Pangan
Peran nyata Arum Sabil diwujudkan melalui pengembangan Green Farm Banyuwangi yang berlokasi di Desa Karangsari, Kecamatan Sempu.
Kawasan ini tidak sekadar menjadi lahan produksi pertanian, tetapi dirancang sebagai pusat pelatihan pertanian terpadu yang terbuka bagi berbagai kalangan.
“Kawasan ini kami kembangkan sebagai ruang pembelajaran bersama. Mulai generasi muda, pelajar, hingga anggota Pramuka dapat belajar langsung praktik pertanian modern berbasis teknologi ramah lingkungan,” ujar Arum Sabil.
Green Farm Banyuwangi menjadi contoh konkret bagaimana sektor pertanian dapat dikelola secara profesional, edukatif, dan berorientasi masa depan.
Di tempat ini, pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional semata, tetapi sebagai bidang strategis yang sarat inovasi.
Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan
Salah satu terobosan yang diterapkan di Green Farm Banyuwangi adalah sistem irigasi bertenaga surya.
Teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus menekan konsumsi energi fosil, sehingga lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan visi Arum Sabil dalam mendorong pertanian yang tangguh menghadapi perubahan iklim.
Efisiensi sumber daya menjadi kunci agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Kolaborasi Multisektor Perkuat Produksi Pangan
Program ketahanan pangan yang dikembangkan di Green Farm Banyuwangi tidak berjalan sendiri.
Arum Sabil mengedepankan kolaborasi multisektor dengan melibatkan pemerintah daerah, TNI–Polri, serta organisasi petani seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Kolaborasi ini terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan produksi pangan di tingkat regional.
Berdasarkan data produksi Januari–Oktober 2025, produksi jagung di Banyuwangi mencapai 208.673 ton, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa pendekatan pertanian inovatif yang terintegrasi mampu memberikan hasil nyata bagi daerah sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan nasional.
Peran Strategis di HKTI Jawa Timur
Selain mengelola Green Farm Banyuwangi, Arum Sabil juga aktif sebagai Ketua DPD HKTI Jawa Timur.
Dalam perannya ini, ia fokus memperkuat kelembagaan petani dengan membentuk puluhan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) di berbagai daerah.
Penguatan organisasi petani tersebut diposisikan sebagai ujung tombak dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.
Melalui HKTI, Arum Sabil mendorong petani agar tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek utama dalam sistem pangan nasional.
Sinergi Kepemimpinan dan Pengabdian
Di luar sektor pertanian, Arum Sabil juga dikenal sebagai figur yang aktif dalam pembinaan generasi muda.
Ia tercatat sebagai Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur terpilih masa bakti 2025–2030.
Peran tersebut melengkapi visinya bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal produksi, tetapi juga soal pendidikan, karakter, dan regenerasi.
Menurutnya, keberlanjutan sektor pangan harus disiapkan sejak dini melalui edukasi dan pembinaan generasi muda.
Inspirasi Ketahanan Pangan Masa Depan
Penghargaan SoJ Award 2026 yang diterima HM Arum Sabil menjadi pengakuan atas dedikasi dan konsistensinya dalam mendorong pertanian inovatif dan berkelanjutan.
Melalui Green Farm Banyuwangi dan kiprahnya di berbagai organisasi, Arum Sabil membuktikan bahwa ketahanan pangan dapat diperkuat dengan sentuhan teknologi, kolaborasi, dan keberpihakan kepada petani.
Upaya tersebut menjadikan Banyuwangi tidak hanya sebagai lumbung pangan regional, tetapi juga model inovasi ketahanan pangan nasional yang layak direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. (aif)
Editor : Ali Sodiqin