Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Cabai Rawit di Banyuwangi Masih di Bawah Rp 30 Ribu, Petani Berharap Segera Naik

Zamrozi Wahyu • Minggu, 25 Januari 2026 | 04:30 WIB

TERDAMPAK HUJAN: Petani cabai rawit mengecek tanamannya yang siap panen di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Sabtu (24/1).
TERDAMPAK HUJAN: Petani cabai rawit mengecek tanamannya yang siap panen di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Sabtu (24/1).

RADARBANYUWANGI.ID – Harga cabai rawit di tingkat petani Banyuwangi, Jawa Timur, hingga kini masih bertahan di bawah Rp 30 ribu per kilogram.

Kondisi tersebut membuat petani berharap adanya lonjakan harga dalam waktu dekat, terlebih memasuki musim penghujan yang menuntut perawatan tanaman lebih intensif.

Cabai rawit merupakan salah satu komoditas bahan dapur yang harganya selalu dinanti para petani.

Saat harga tinggi, hasil panen mampu menutup biaya produksi dan memberi keuntungan.

Namun, ketika harga anjlok seperti saat ini, petani justru harus berjuang keras menutup modal tanam.

Salah satu petani cabai asal Kecamatan Bangorejo, Miswatin (48), mengaku harga cabai rawit dalam sebulan terakhir belum menunjukkan kenaikan signifikan.

Di tingkat petani, harga jual cabai rawit tak pernah menembus angka Rp 30 ribu per kilogram.

“Saat ini harga cabai masih murah, padahal biasanya mahal ketika musim hujan datang,” ujar Miswatin.

Menurutnya, harga cabai rawit saat ini berada di kisaran Rp 27 ribu per kilogram.

Meski begitu, angka tersebut sebenarnya sudah mengalami kenaikan dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

“Kalau sekarang Rp 27 ribu per kilogram. Awal bulan lalu sempat turun sampai Rp 20 ribu per kilogram,” katanya.

Miswatin menduga, murahnya harga cabai rawit dipengaruhi oleh kondisi pasar yang belum memungkinkan adanya kenaikan harga.

Di sisi lain, cuaca yang tidak menentu turut memperburuk kondisi tanaman cabai di lahan pertanian.

“Kalau panas menyengat lalu disusul hujan deras, tanaman cabai sering terkena penyakit. Banyak yang rusak, tapi harga belum juga naik,” keluhnya.

Padahal, lanjut Miswatin, musim penghujan justru membuat biaya perawatan tanaman cabai meningkat.

Petani harus lebih sering melakukan penyemprotan dan pemupukan agar tanaman tidak terserang penyakit.

Petani cabai lainnya, Sutrisno (52), mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, saat curah hujan tinggi, biaya perawatan tanaman cabai rawit melonjak cukup tajam.

Untuk lahan seluas seperempat hektare, biaya perawatan bisa mencapai sekitar Rp 1 juta per minggu.

“Uang itu untuk beli obat-obatan dan pupuk. Kalau hujan terus, perawatannya harus lebih intensif,” jelas Sutrisno.

Ia menilai, menanam cabai rawit ibarat berjudi. Modal yang dikeluarkan cukup besar, sementara harga jual sangat fluktuatif dan sulit diprediksi.

“Kalau lagi mahal, harganya bisa tembus Rp 100 ribu per kilogram. Tapi kalau murah seperti sekarang, bisa turun sampai Rp 19 ribu per kilogram,” ujar petani asal Dusun Kedungrejo, Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo itu.

Dengan kondisi tersebut, para petani berharap adanya perbaikan harga cabai rawit dalam waktu dekat.

Selain untuk menutup biaya produksi, kenaikan harga juga diharapkan mampu memberikan keuntungan yang layak bagi petani di tengah risiko cuaca dan tingginya biaya perawatan.

“Semoga harga cabai lekas membaik,” harap Miswatin. (why/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#banyuwangi #harga cabai rawit