RADARBANYUWANGI.ID - Sudah sejak lama Kabupaten Jember dikenal sebagai salah satu daerah penghasil jeruk unggulan di Jawa Timur.
Nama jeruk Semboro bahkan telah melekat kuat sebagai ikon buah jeruk dengan cita rasa manis dan kualitas premium yang dikenal hingga tingkat nasional.
Jeruk asal Jember kerap menjadi rujukan kualitas, baik untuk konsumsi lokal maupun distribusi ke berbagai daerah di Indonesia.
Reputasi tersebut dibangun dari konsistensi rasa, ukuran buah, serta aroma khas yang dimiliki jeruk Semboro.
Enam Sentra Jeruk di Jember
Produksi jeruk di Kabupaten Jember tidak hanya bertumpu pada satu wilayah.
Setidaknya terdapat enam kecamatan yang selama ini menjadi sentra utama penghasil jeruk dan berkontribusi besar terhadap sektor hortikultura Jawa Timur.
Keenam daerah tersebut meliputi Semboro, Umbulsari, Bangsalsari, Sumberbaru, Jombang, dan Gumukmas.
Wilayah-wilayah ini memiliki karakter tanah dan iklim yang mendukung budidaya jeruk sejak puluhan tahun lalu.
Tak heran, jeruk Semboro kerap menjadi primadona pasar, terutama saat musim panen raya tiba. Bahkan, nama “Semboro” sendiri sudah identik dengan jeruk manis berkualitas tinggi.
Produksi Jeruk Jember Mulai Menurun
Namun di balik popularitas tersebut, tak banyak yang menyadari bahwa produksi jeruk di Jember dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan.
Sejumlah faktor diduga menjadi penyebabnya, mulai dari alih fungsi lahan, perubahan pola tanam, hingga tantangan cuaca dan regenerasi petani.
Penurunan produksi ini membuat posisi Jember sebagai daerah penghasil jeruk terbesar mulai tergeser.
Meski kualitas tetap diakui, secara kuantitas Jember kini tak lagi berada di puncak.
Banyuwangi Justru Melonjak
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jeruk di Kabupaten Banyuwangi justru menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi.
Dalam satu tahun, Banyuwangi mampu menghasilkan hampir 5 juta kuintal jeruk.
Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan produksi jeruk Kabupaten Jember, yang tercatat berada di kisaran 2,5 juta kuintal per tahun.
Dengan capaian tersebut, Banyuwangi kini menempati posisi pertama sebagai daerah penghasil jeruk terbesar di Jawa Timur.
Tak hanya unggul dari sisi jumlah, jeruk Banyuwangi juga mulai dikenal luas memiliki kualitas yang baik dan bermutu tinggi, sehingga semakin kompetitif di pasar regional maupun nasional.
Kualitas vs Kuantitas
Kondisi ini menegaskan adanya perbedaan peran antara kedua daerah. Jember tetap unggul sebagai ikon jeruk berkualitas premium, khususnya jeruk Semboro yang sudah memiliki nama besar.
Sementara itu, Banyuwangi tampil dominan dari sisi produksi dan suplai pasar.
Dengan dukungan lahan yang luas, inovasi pertanian, serta pengembangan hortikultura yang masif, Banyuwangi berhasil memaksimalkan potensi jeruk sebagai komoditas unggulan daerah.
Tantangan ke Depan
Ke depan, tantangan bagi Jember adalah bagaimana menjaga kualitas jeruk semboro sembari meningkatkan kembali produktivitas.
Sementara Banyuwangi dituntut untuk menjaga konsistensi mutu agar lonjakan produksi tetap sejalan dengan kualitas buah.
Kesimpulannya, Jember masih identik dengan jeruk semboro yang legendaris, namun untuk urusan volume produksi, Banyuwangi kini tampil sebagai pemenang dan penghasil jeruk terbesar di Jawa Timur. (*)
Editor : Ali Sodiqin