Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Cabai Lokal Jember Berfluktuasi Jelang Ramadan, Sempat Anjlok hingga Rp 6.000 per Kilogram

Ali Sodiqin • Kamis, 15 Januari 2026 | 05:30 WIB

TUNGGU PEMBELI: Seorang pedagang sembako di Pasar Banyuwangi menata cabai yang harganya semakin melambung. Saat ini harga satu kilogram cabai rawit tembus Rp 70 ribu.
TUNGGU PEMBELI: Seorang pedagang sembako di Pasar Banyuwangi menata cabai yang harganya semakin melambung. Saat ini harga satu kilogram cabai rawit tembus Rp 70 ribu.

RADARBANYUWANGI.ID - Menjelang sejumlah hari besar Islam, harga cabai lokal di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalami fluktuasi cukup tajam.

Kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan pasar serta menurunnya produktivitas tanaman cabai akibat faktor cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut.

Pantauan di tingkat petani menunjukkan, harga cabai lokal saat ini berada di kisaran Rp 25.000 per kilogram.

Angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan beberapa hari sebelumnya, meski masih tergolong fluktuatif.

Petani cabai di Desa Karang Semanding, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, Didik Setiawan, mengatakan harga cabai lokal mulai merangkak naik dalam beberapa hari terakhir.

Kenaikan tersebut disambut cukup positif oleh petani setelah sebelumnya harga sempat berada di titik terendah.

Info Selengkapnya Klik di sini!
Info Selengkapnya Klik di sini!

“Alhamdulillah hari ini harganya bisa mencapai Rp 25.000 per kilo, dan memang sedang naik,” ujar Didik saat ditemui di lahan cabainya, Minggu (11/1/2026).

Menurut Didik, dalam sepekan terakhir harga cabai bahkan sempat menyentuh angka tertinggi bulan ini, yakni Rp 35.000 per kilogram.

Namun kondisi tersebut tidak bertahan lama karena pasokan sempat kembali meningkat.

Padahal, sebelumnya harga cabai sempat anjlok drastis hingga Rp 6.000 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat sebagian petani merugi, lantaran harga jual tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan.

Didik menjelaskan, fluktuasi harga cabai ini dipengaruhi meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang hari besar umat Islam.

Momentum seperti bulan Rajab hingga mendekati awal Ramadan mendorong lonjakan konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan pelaku usaha kuliner.

“Biasanya kalau sudah masuk bulan-bulan besar umat Islam, permintaan cabai pasti naik. Apalagi menjelang Ramadan, kebutuhan dapur meningkat,” jelasnya.

Selain faktor permintaan, penurunan produktivitas tanaman cabai juga menjadi penyebab utama naiknya harga.

Cuaca ekstrem berupa hujan intensitas tinggi dan perubahan suhu yang tidak menentu berdampak langsung pada kualitas dan hasil panen cabai petani.

“Cuaca belakangan ini cukup ekstrem dan sangat berpengaruh terhadap hasil serta kualitas cabai. Banyak tanaman yang terserang penyakit dan buahnya tidak maksimal,” tutur Didik.

Ia menambahkan, kondisi tersebut menyebabkan pasokan cabai di pasaran berkurang, sehingga harga cenderung bergerak naik.

Meski demikian, harga cabai masih berpotensi berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi cuaca dan ketersediaan stok di tingkat petani.

Didik berharap, ke depan cuaca dapat lebih bersahabat agar produktivitas cabai kembali normal.

Dengan demikian, keseimbangan antara pasokan dan permintaan dapat terjaga, sehingga harga cabai lebih stabil menjelang Ramadan.

“Kunci utamanya di stok dan kondisi pasar. Kalau produksi aman dan cuaca mendukung, harga bisa lebih stabil meski permintaan meningkat,” pungkasnya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#harga cabai #jelang ramadan #cabai lokal #jember