RADARBANYUWANGI.ID – Keberadaan Stasiun Banyuwangi Kota tak hanya menjadi simpul transportasi penting bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga yang tinggal di sekitarnya.
Sejumlah warga menyulap halaman rumah menjadi lahan parkir kendaraan berbayar, yang kini menjadi sumber penghasilan menjanjikan.
Pantauan di sekitar Stasiun Banyuwangi Kota, tepatnya di Lingkungan Karang Asem, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, kemarin (11/1), aktivitas penitipan kendaraan tampak cukup ramai.
Para pengguna jasa kereta api terlihat silih berganti mengambil sepeda motor yang sebelumnya dititipkan di rumah-rumah warga sekitar stasiun.
Peluang Usaha dari Ramainya Penumpang Kereta
Sejak dulu hingga kini, kereta api masih menjadi moda transportasi andalan masyarakat Banyuwangi untuk bepergian ke luar daerah.
Kondisi tersebut dimanfaatkan warga sekitar stasiun dengan membuka beragam usaha penunjang perjalanan, salah satunya jasa penitipan sepeda motor.
Tinggal di dekat stasiun kereta api memang menjadi berkah tersendiri. Selain parkir mandiri, warga juga membuka usaha lain seperti homestay, warung makan, hingga penyewaan kendaraan.
Salah satu warga, Azka, mengaku telah lama memanfaatkan halaman rumahnya sebagai tempat penitipan sepeda motor bagi penumpang kereta api. Tarif yang dipatok relatif terjangkau, yakni Rp5.000 per hari.
“Saya buka jasa penitipan motor di sini Rp5.000 per hari. Sudah dari lama pakai halaman rumah,” ujar Azka saat ditemui di lokasi.
Mampu Tampung Puluhan Kendaraan
Menurut Azka, halaman rumahnya mampu menampung sekitar 50 unit sepeda motor.
Dalam kondisi normal, rata-rata kendaraan yang dititipkan mencapai 40 unit per hari.
Meski Stasiun Banyuwangi Kota kini telah memiliki area parkir resmi dengan tarif yang sama dan dilengkapi kanopi, usaha parkir rumahan tetap memiliki peminat.
“Sempat turun waktu stasiun nambah parkiran, tapi tetap ada pelanggan setia. Sehari kalau ramai bisa sampai 40 motor,” jelasnya.
Mayoritas pengguna jasa parkir tersebut adalah mahasiswa dan pekerja yang berdomisili atau bekerja di luar Banyuwangi.
Mereka kerap meninggalkan kendaraan selama beberapa hari karena menggunakan kereta api sebagai sarana transportasi utama.
Ramai Akhir Pekan, Omzet Jutaan Rupiah
Aktivitas penitipan kendaraan paling ramai terjadi saat akhir pekan, khususnya Sabtu dan Minggu, seiring meningkatnya mobilitas penumpang yang berangkat maupun tiba di stasiun.
“Rata-rata dititipkan dua sampai tiga hari, ada juga yang sampai satu minggu,” ungkap Azka.
Dari usaha parkir sederhana tersebut, Azka mengaku bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan.
Meski tidak pernah menghitung secara rinci, hasil itu dinilai cukup membantu perekonomian keluarga.
“Kalau dihitung-hitung sekitar 5 sampai 6 juta per bulan, tidak sampai 10 juta,” pungkasnya.
Pengguna Merasa Lebih Praktis
Bagi pengguna jasa kereta api, parkir di halaman rumah warga dinilai lebih praktis dan nyaman.
Martha, mahasiswa UIN KHAS Jember, mengaku lebih memilih menitipkan motor di rumah warga karena prosesnya lebih mudah.
“Kalau parkir di rumah warga lebih gampang, tidak ribet karcis. Tinggal titip, aman,” ujarnya.
Sementara Wahyu, penumpang lainnya, memilih parkir di rumah warga karena kendaraannya lebih terlindungi dari panas matahari saat ditinggal lama.
“Kalau di rumah warga lebih teduh. Kalau parkir stasiun kadang tidak kebagian kanopi,” katanya.
Keberadaan usaha parkir rumahan di sekitar Stasiun Banyuwangi Kota menjadi bukti bahwa geliat transportasi publik mampu menggerakkan ekonomi mikro masyarakat, sekaligus menghadirkan solusi praktis bagi para pengguna jasa kereta api. (M Ksatria Raya)
Editor : Ali Sodiqin