RADARBANYUWANGI.ID - Menjelang pergantian tahun 2026, permintaan ikan segar di Banyuwangi mengalami lonjakan signifikan.
Peningkatan penjualan ini dipicu tradisi masyarakat yang kerap menghabiskan malam tahun baru dengan berkumpul bersama keluarga sambil membakar ikan atau ayam.
Lonjakan permintaan paling terasa sejak libur Natal. Sejumlah peternak dan pedagang ikan mengaku kewalahan melayani pembeli yang datang silih berganti, baik untuk kebutuhan konsumsi keluarga maupun acara bakar-bakaran.
Salah satu peternak ikan nila asal Dusun Tegalyasan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Bagus Prabowo, 38, mengatakan permintaan ikan menjelang tahun baru meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa.
Biasanya, ia menjual hasil panen ke pasar dalam jumlah besar. Namun, saat ini justru melayani penjualan eceran karena tingginya permintaan dari warga sekitar.
“Permintaannya banyak. Saya yang biasanya jual ke pasar, sekarang melayani eceran karena banyak yang datang langsung ke rumah,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Bagus mengaku beruntung karena masa panen ikan nila di kolam miliknya bertepatan dengan momen libur Natal dan tahun baru.
Dengan kondisi tersebut, ia masih mampu memenuhi kebutuhan konsumen yang terus berdatangan sejak beberapa hari terakhir.
“Setiap hari pasti ada pembeli. Kira-kira sejak libur Natal sudah ramai,” ujarnya.
Meski permintaan melonjak, harga ikan nila di tingkat peternak terpantau masih stabil.
Bagus menyebut, harga ikan nila tetap dijual Rp 30 ribu per kilogram tanpa ada kenaikan jelang tahun baru.
Berbeda dengan ikan air tawar, kondisi sebaliknya terjadi pada komoditas ikan laut.
Meningkatnya permintaan yang tidak diimbangi dengan pasokan membuat harga ikan laut di pasaran melonjak tajam.
Situasi ini diperparah oleh cuaca ekstrem yang melanda perairan Banyuwangi dalam beberapa hari terakhir.
Di Pasar Genteng 2, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, harga ikan laut segar yang sebelumnya berkisar Rp 40 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp 60 ribu per kilogram.
Salah satu pedagang ikan, Rusianti, 53, mengatakan kenaikan harga sudah terjadi sejak beberapa hari terakhir.
“Ikan sedang mahal. Harganya naik karena banyak yang cari,” katanya.
Rusianti menjelaskan, pasokan ikan laut menurun karena banyak nelayan, khususnya dari Pelabuhan Muncar, tidak bisa melaut akibat gelombang tinggi dan cuaca ekstrem.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada ketersediaan ikan di pasar.
“Nelayan banyak yang tidak melaut. Ikan bakaran sekarang mahal, putihan satu kilo Rp 60 ribu. Kalau kakap bisa sampai Rp 80 ribu per kilo,” jelasnya.
Padahal, lanjut dia, harga ikan kakap sebelumnya hanya sekitar Rp 50 ribu per kilogram.
Keterbatasan pasokan ini semakin terasa karena permintaan ikan bakaran melonjak tajam menjelang malam pergantian tahun.
“Ikannya juga sedikit sekarang. Kalau tidak teliti dan tidak punya jaringan kuat, bisa salah ambil. Kadang ada ikan kiriman dari Tuban yang masuk ke sini,” ucapnya.
Para pedagang memperkirakan harga ikan laut masih berpotensi bertahan tinggi hingga malam tahun baru, seiring belum membaiknya kondisi cuaca.
Sementara itu, masyarakat diimbau lebih selektif saat membeli ikan dan menyesuaikan pilihan dengan anggaran yang tersedia.
Lonjakan permintaan ikan ini menjadi gambaran tradisi tahunan masyarakat Banyuwangi dalam menyambut pergantian tahun, sekaligus menunjukkan bagaimana faktor cuaca dan pasokan sangat memengaruhi dinamika harga di pasar. (sas)
Editor : Ali Sodiqin