Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

4 Generasi Pertahankan Jamu Tradisional di Purwoharjo, Banyuwangi: Tetap Eksis Meski Dunia Makin Praktis

Fredy Rizki Manunggal • Rabu, 3 Desember 2025 | 13:00 WIB
Asih dan Ariyatun meracik berbagai bahan baku jamu tradisional di rumahnya Dusun Curah Perak, Desa Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo.
Asih dan Ariyatun meracik berbagai bahan baku jamu tradisional di rumahnya Dusun Curah Perak, Desa Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo.

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah praktisnya dunia perjamuan, ada satu keluarga di Dusun Curah Perak, Desa/Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, yang masih mempertahankan racikan jamu langsung dari bahan alami. Bahkan mereka sudah bertahan selama empat generasi.

Deretan kulit kayu dan biji-bijian kering terpampang di etalase toko jamu milik Asih, 58, di Purwoharjo. Jumlahnya cukup banyak dan beragam.

Ada kunyit, jahe, asam, kapulaga, bawang lanang, sprantu, temu ireng, mahkota dewa, adas, dan merica bolong.

Bahan-bahan itu hanya sebagian kecil dari ratusan jenis lainya. Asih mengatakan, ada 130 lebih jenis bahan alami untuk memproduksi jamu tradisional.

Mulai dari biji bijian, akar, kulit kayu, umbi, daun dan lainya. Semuanya adalah bahan baku yang digunakan Asih untuk meramu bermacam jamu Jawa.

"Saya adalah generasi keempat peracik jamu Jawa. Mulai dari kakek buyut saya Bowo Sumito," kata Asih.

Nenek tiga cucu itu menceritakan, sudah tidak banyak orang yang menguasai ilmu racikan jamu Jawa.

Selain bahan bakunya cukup beragam, cara meramu dan menakar jamu cukup rumit. Asih mempelajari ilmu itu selama puluhan tahun, sejak masih duduk di bangku kelas 6 SD.

Sang ibu, Ariyatun, 87, masih mengajari  jenis-jenis bahan jamu. Meracik jamu ringan  hanya mengunakan dua tiga bahan, sampai akhirnya menguasai puluhan resep dengan ratusan bahan. "Anak saya mulai kecil sudah saya ajari meracik jamu," ucapnya.

Jamu yang diracik Asih masih bertahan karena banyak orang yang merasakan manfaatnya. Wanita berkulit sawo matang itu menceritakan, selain warga sekitar Purwoharjo, banyak masyarakat dari luar daerah yang iku merasakan khasiatnya.

Bahkan ada beberapa Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Hongkong menjadi pelanggan tetapnya.

Sesekali waktu Asih mengirim bahan baku jamu beserta takaranya untuk bisa diseduh sendiri oleh pembeli. Asih mengemasnya agar lebih mudah untuk dikirim sampai ke luar negeri.

"Setelah dibawa ke Hongkong banyak yang cocok. Jadi sering pesan banyak," tuturnya.

Sembari meracik jamu dan menggiling beberapa bahan kering, Asih mengatakan bahan baku yang disediakan berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Ada yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, dan Kalimantan. Bahkan di antara bahan itu ada yang didatangkan dari Irak.

"Salah satu bahan yang paling sulit ditemukan  adalah tempayang. Saya harus mencari sampai luar, tapi saya punya kenalan yang mencarikan," imbuhnya.

Masyarakat yang minum jamu berangkat dari  keluhan beragam. Mulai pegal linu, susah tidur, keputihan, sari rapet, asam urat, kanker sampai jantung. Semua resep dihafalkan di luar kepala.

"Ibu saya selalu bilang, orang kecil seperti saya kalau tidak terampil mau hidup bagaimana. Makanya sampai sekarang terus saya pertahankan," kata Asih tersenyum lebar.

Orang tua Asih, Ariyatun,  mengatakan resep jamu Jawa diturunkan dari kakeknya, Bowo Sumito. Kemudian diturunkan ke ibunya, Ponikem.

Sebelum membuka toko  di rumahnya, awalnya dia berjualan di Pasar Purwoharjo. Di rumahnya, Ariyatun mulai mengembangkan jamu racikan.

Dia masih ingat betul ada 80 resep jamu yang bisa dibuat. Tergantung jenis penyakit dan keluhan.

Tak lupa, Ariyatun  selalu menyediakan air perasan jeruk manis untuk obat bagi orang yang membeli jamu kepadanya.

"Satu resep ada yang tiga macam bahan. Ada takaranya sendiri. Ini yang membuat sulit diingat, salah takaran khasiatnya beda," ucap Ariyatun.

Dari semua jenis penyakit, yang paling sulit adalah racikan jamu utnuk penyakit lambung. Sebab, jenis bahan jamu harus benar-benar disesuaikan agar tidak memperparah sakit.

"Pantanganya banyak sekali untuk penderita sakit lambung, makanya tidak bisa sembarangan jamu. Harus hati-hati," terangnya.

Setelah bertahun-tahun menjajakan jamu racikan Jawa, Asih ingin resepnya bisa dirasakan lebih banyak orang.

Dia pun berharap suati hari nanti bisa memiliki produksi jamu dalam jumlah besar, sehingga banyak orang yang bisa merasakan manfaat jamunya.

"Saya punya angan-angan punya produksi sendiri. Saya pernah main ke Semarang melihat toko jamu besar, semoga nanti bisa seperti itu," ujar wanita kelahiran Solo itu.  (aif)

Editor : Ali Sodiqin
#purwoharjo #resep #Jamu Tradisional #banyuwangi