RADARBANYUWANGI.ID – Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi mengimbau petani mewaspadai potensi serangan hama thrips dan jamur fusarium pada tanaman cabai.
Memasuki musim hujan dengan curah hujan tinggi, kondisi pertanian cabai di Banyuwangi mulai menghadapi tantangan serius.
Termasuk serangan hama thrips yakni sejenis serangga penghisap cairan daun.
Tantangan lain adalah serangan jamur fusarium yang dapat menyebabkan berbagai penyakit tanaman, termasuk layu fusarium, busuk akar, busuk batang, dan sebagainya.
Kondisi ini berdampak pada penurunan produktivitas tanaman. Imbasnya, harga cabai rawit di beberapa pasar tradisional di Banyuwangi terkerek, dari sebelumnya di kisaran Rp 15 per kilogram (kg) menjadi Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kg, Minggu (23/11).
Kepala Dispertan Banyuwangi Ilham Juanda menjelaskan bahwa karakter tanaman hortikultura, terutama cabai, sangat dipengaruhi cuaca.
Intensitas hujan yang tinggi memicu berkembangnya hama dan penyakit, antara lain serangan thrips yang membuat daun keriting serta menurunnya kemampuan fotosintesis tanaman.
Selain itu, penyakit cacar pada buah dan jamur fusarium yang juga banyak ditemui pada musim hujan.
“Tanaman yang saat ini masih produksi adalah yang ditanam awal tahun 2025, saat musim kemarau. Namun memasuki musim hujan, gangguan hama dan penyakit ini membuat produksinya tidak optimal. Dampaknya, harga mulai merangkak naik,” ujarnya.
Meski demikian, Ilham memastikan bahwa ketersediaan cabai di Banyuwangi masih cukup dan terkendali.
Sebagai langkah antisipasi, Dispertan melakukan gerakan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu bersama kelompok tani di wilayah sentra cabai, seperti Kecamatan Wongsorejo.
Upaya ini meliputi pendampingan langsung di lapangan, edukasi budi daya pada kondisi cuaca ekstrem, serta penanganan hama termasuk thrips dan penyakit cacar pada buah.
Dengan intervensi tersebut, pemerintah berharap produktivitas cabai bisa tetap terjaga sehingga stabilitas harga di pasar tetap terkendali hingga musim hujan berakhir.
“Kami bekerja sama dengan kelompok tani untuk melakukan pengendalian intensif agar tanaman tetap bisa berproduksi di tengah curah hujan tinggi,” pungkas Ilham. (cw5-Dalila Adinda/sgt)
Editor : Ali Sodiqin